Berita, Ghossip, Kabar Bohong, Isu, Sampai Fitnah Dimasa Susah

8 05 2008

Dalam suatu ayat al-Qur’an menyebutkan kalau kita harus berhati-hati kalau mendengar kabar dari orang munafik. Kabar yang dimaksud tentunya berbagai macam kabar. Baik itu kabar yang berhubungan dengan masalah politik, social, budaya, ekonomi, militer, sampai kabar berupa isu-isu yang berhubungan dengan peristiwa maupun tentang seseorang.

Orang munafik sebenarnya jelas disebutkan dalam kitab suci al-Qur’an di beberapa ayat sebagai orang yang berkarakter lemah dimana ia digambarkan sebagai tidak mempunyai keyakinan, imannya lemah – umumnya beriman sebatas keuntungan diri sendiri, plin-plan, hobi bermanis-muka, dan tentunya omongannya tidak dapat dipercaya karena kurangnya amanah. Amanah tentunya kepercayaan yang lurus dan ikhlas. Baik kepercayaan yang penting sekali maupun kepercayaan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Kenapa al-Qur’an perlu memberikan peringatan tentang kabar dari kaum munafik ini secara berulang-ulang di beberapa surat dan ayat? Tentu ada sebabnya. Kalau kita tinjau secara historis, sebab musababnya banyak berhubungan dengan kebiasaan berbohong dan membual di masyarakat Arab jahiliyah yang umumnya suka memamerkan keluarganya, hartanya, pengetahuannya, sampai memamerkan kehebatannya. Baik kehebatan pemimpinnya maupun dirinya sendiri.

Dalam memamerkan kehebatan sendiri ini maka orang pun seringkali membual dan berbohong dengan menyewa penyair-penyair yang pandai melambungkan kata-kata dengan metafora yang membumbung tinggi. Baik membual tentang kebaikan dirinya maupun membual tentang kejelekan orang lain. Pendek kata banyak bumbu penyedapnya maupun bumbu beracunnya.

Hasil akhir dari kesombongan dengan membual kehebatan diri adalah munculnya kultus individu atas seseorang maupun fitnah yaang ditudingkan pada seseorang. Jadi, sifat orang munafik dan sifat dari informasi yang disampaikannya mempunyai dampak yang merusak ke semua arah.

Meskipun mungkin ada keinginan berlebih untuk mengagungkan seseorang, bualan atau kebohongan pada akhirnya akan jatuh menjadi fanatisme buta. Ataupun kalau bualannya itu berhubungan dengan tujuan mecelakai atau menjatuhkan seseorang maka hasil akhirnya adalah fitnah yang dikatakan “lebih keji daripada pembunuhan” yaitu dengan pembunuhan karakter dari orang yang menjadi sasaran fitnah.

Tidak heran kalau ada suatu ungkapan yang banyak dikenal orang, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Fitnah atau pun isu miring ini bukanlah sekedar komoditas orang munafik yang berasal dari kaum jahiliyah. Banyak juga fitnah atau isu miring yang merugikan beredar dari mulut ke mulut dalam suatu organisasi yang mengaku sudah bukan jahiliyah lagi. Entah itu organisasi masyarakat, sosial politik, militer, keagamaan, kelompok tariqah, spiritual, sekolahan anak-anak sampai perkumpulan RT /RW di masyarakat.

Kalau kita merujuk perkembangan sekarang, memfitnah atau membuat kabar kabur yang tidak benar mudah sekali dilakukan karena berkembangnya media elektronik. Mulai dari radio, tv, surat kabar, sampai jaman internet yang distribusi informasinya mudah , meluas dan cepat, fitnah atau kabar kabur yang penuh kebohongan dan intrik semakin hari semakin menjadi-jadi. Sasarannya pun tidak pandang bulu, bisa saja seorang kepala negara, profesional, politikus, artis (apalagi), maupun orang biasa. Bahkan jangkauan sasaran ini tidak lah kecil karena bisa meluas di dalam suatu masyarakat dalam suatu negara sampai akhirnya muncul perang saudara yang berdarah-darah.

Karena itu untuk menetralisir supaya kita tidak terjebak menjadi bagian dari jejaring fitnah tanpa sadar adalah dengan tidak menerima begitu saja suatu kabar atau informasi. Tidak taklid buta, hati-hati, dan kritis. Apalagi kalau sumbernya tidak jelas atau kalau penyampainya dikenal sebagai si pandai omong yang mulutnya hanya bisa mengucapkan petai-hampa, tukang kibul, pembual, dan pendusta. Harus lebih hati-hati lagi kalau sumbernya dikenal sebagai orang yang pandai mencari muka dan kurang amanah. Dan paling hati-hati adalah kalau infomasinya berasal dari tangan yang sudah tidak jelas dari mana asalnya alias gosip yang digosok semakin sip.

Dampak fitnah dan kabar bohong di era modern jauh lebih hebat di masa lampau karena sarana telekomunikasi berkembang pesat. Bahkan di era dijital ini bukan saja kabar bohong yang berbahaya danmerusak, fakta yang benar pun dapat digunakan untuk membangun imej bohong dan menyesatkan. Sebut saja film FITNA yang jelas-jelas dimaksudkan sesuai dengan tujuan judul film propaganda tersebut yaitu untuk menjatuhkan Islam sebagai suatu ikatan kelompok masyarakat beragama. Belum lagi lelucon berupa gambar kartun iamjinatif ataupun tulisan lainnya yang jauh-jauh hari sebelum film FITNA dikeluarkan sudah terjadi.

Pendek kata, dibanding zaman kuda dan onta gigit besi, di era jalan raya informasi bebas hambatan ini, fitnah terhadap Umat Islam semakin menjadi-jadi. Meskipun sebenarnya informasi tentang Islam yang benar sudah banyak juga beredar tapi hal itu tidak mengurangi serangan kabar bohong dan dusta tentang Agama Islam. Namun karena kita umumnya cenderung terprovokasi oleh berita minor tapi digembar gemborkan maka nila setitik pun merusak susu sebelanga. Kemalasan orang untuk menjejaki sumber asal, maksud, serta latar belakang informasi seringkali menyebabkan orang mudah saja termakan isu dan gosip sampai akhirnya emosi dan nafsu pun tersulut api menjadi api amarah membara bagai jilatan api neraka yang menyambar-nyambar muka hingga menjadi angus dan gosong.

Seorang pakar informasi dari ITB menyebutkan kalau di era informasi ini manusia umumnya menjadi homo informaticus. Terutama informasi yang “aneh” dan “mengejutkan” atau “yang ajaib-ajaib” (Blognya dapat dilihat di http://suksmono.wordpress.com/2008/04/17/homo-informaticus-mengapa-manusia-suka-gosip/). Tentunya hal ini tidak lepas dari mimpi moyang kita yang seringkali khayalannya melambung tinggi. Saking tingginya maka manusia pun membangun imajinasi yang luar biasa anehnya. Baik tentang imej manusia hebat maupun imej manusia jahat. Secara umum, diera dijital, manusia condong sebagai makhluk pelahap informasi. Yang mengherankan, meskipun iptek sudah berkembang dan rasionalisme manusia menguasai, manusia tetap merindukan “info aneh” dan “nyleneh”. Bahkan, meskipun seringkali informasi itu tidak jelas, sekedar gosip, atau pun hanya desas-desus tak jelas tapi nampak sangat heboh dan enak untuk disebarkan dan digosipkan kembali. Tentu dengan dukungan jaringan media, berita yang minor dari seseorang tak dikenal bisa menjadi mayor dan membuat heboh seperti film Fitna, Kartun Denmark, maupun peristiwa sebelumnya misalnya Novel Satanik Verse karya Salman Rushdi. Jadi, jelas di era informasi yang serba cair ini, kita mestinya justru lebih kaya informasi dan bisa lebih mampu memverifikasikannya apakah informasi itu benar atau tidak. Jangan-jangan memang hanya sekedar gosip atau fitnah keji semata karena kebencian yang amat sangat.

Mudahnya kita bergosip dan bergunjing sampai memfitnah tidak lepas dari hawa nafsu liar yang tidak bisa dikendalikan. Nafsu, sekali lagi nafsulah akhirnya sumber semua persoalan gunjang dan gunjing, desas desus, gosip dan fitnah. Karena itu tidak ada kemuliaan bagi mereka yang suka diselimuti hawa nafsu meskipun mereka membedakinya dengan berbagai gemerlap tampilan dunia.

Di masa sekarang, dengan cuaca panas-dingin silih berganti, naik turun tidak menentu, kitapun melihat aura nafsu yang semakin meluas dimana-mana. Kericuhan karena ketidakmampuan kita mengendalikan hawa nafsu pun merebak tanpa malu-malu di berbagai strata kehidupan masyarakat; baik itu masyarakat awam yang suka berebutan rezeki sekedarnya semisal rebutan jatah sembako, maupun kelompk yang mengaku elit politik dan agama yang nampak suci mewangi dengan jas dan mobil mewah yang menjadi andalannya. Namun apa daya, fakta berbicara lain, di masa yang kurang menguntungkan dalam banyak hal ini gejolak nafsu manusia ternyata lebih menonjol ketimbang kemampuannya untuk mengendalikan nafsu tersebut.

Sehingga tak ada lagi nafsu yang bisa disembunyikan baik dikalangan rayat bawah maupun rakyat yang mengaku ada diatas. Kerendahan nafsu tiba-tiba mencuat membuka topeng kemunafikan, kekejian dan ketamakan. Nah, itulah sebabnya kenapa al-Qur’an diakhiri dengan surat An-Nass yang berbicara tentang nafsu manusia yang berpangkal pada was-washil khonnas. Seolah-olah al-Qur’an mengingatkan bahwa meskipun orang sudah khatam al-Qur’an dan sampai di surat terakhir, penyakit utama manusia itu tetap ada yaitu nafsu dengan was-washilkonnasnya. Karen aitu Umat islam esti waspada dengan nafsunya sendiri.

Belakangan ini, inflasi, kenaikan harga BBM, ujian nasional, upah buruh, dan lain sebagainya tiba-tiba semakin menggelorakan nafsu-nafsu kita seolah dengan sengaja Allah mempertontonkan KemahamenghinaanNya tanpa pandang bulu. Kalau saja kita awas dan mampu menangkap sasmita kehidupan, maka jelas bahwa di masa sekaranglah saatnya Umat Islam yang pengajarannya berpokok pada Iqra dan Menyucikan Jiwa harus bangkit dengan kembali kepada sumber asalnya untuk mengendalikan hawa nafsu atau Wa Nafsi supaya tidak terjadi tranformasi terbalik dimana Umat Islam yang mulia jatuh menjadi Umat yang tercela, jatuh menjadi kaum Yakjuj Makjuj atau Yajou Majou yaitu Umat Manusia yang tidak mampu mengendalikan nafsunya sendiri hingga menjadi kuda liar yang berlari kencang. Kuda liar hawa nafsu yang menabrak dan merubuhkan semua rambu keseimbangan dan keadilan yang dinyatakan oleh Allah SWT dengan jelas karena PengetahuanNya sejatinya sangat jelas dan sering berulang kali diperlihatkan dihadapan semua manusia dengan bukti-bukti nyata.

Kini, saatnya kita menoleh kembali dengan sungguh-sungguh dan tulus kepengajaran agung Nabi Muhammad SAW dengan Iqra dan Menyucikan Jiwa agar menjadi manusia yang berakhlak mulia sesuai dengan sunnatullah yaitu sesuai dengan zaman dan ruang-waktu hidupnya maupun lokalitas dan globalitasnya sebagai Hamba Allah yang ridho dengan semua KetentuanNya.

Atmnd114912,Bekasi, jam 10:49, Hari Rabu, 7/5/2008


Tindakan

Information

Satu tanggapan

9 05 2008
haniifa

Kita rupanya ada kesamaan pemahaman tentang “Fitnah”, namun jujur saja tulisan mas lebih mudah difahami.
http://haniifa.wordpress.com/2008/04/06/menangkal-film-“fitna”-2/

Tinggalkan komentar