Nabi Dan Rasul Terakhir & Al Mahdi: Siapakah Dia Sebenarnya

16 05 2008

Artikel ini sebenarnya sudah lama tertuang dalam bentuk tulisan. Awal mulanya ketika tahun lalu, 2007, muncul kehebohan di masyarakat setelah adanya pengakuan Nabi dan Rosul dari berbagai pihak. Bukan satu pihak saja, berbagai pihak, baik yang akhirnya tanpa pengikut maupun memperoleh banyak pengikut.

 

 

Masalah ini sebenarnya penyakit umat beragama ketika mulai dihinggapi ilusi tentang kenabian dan kerasulan tanpa suatu pemahaman yang utuh. Kecuali semata-mata gejolak nafsunya sendiri yang merefleksikan niat-niat awalnya ketika menempuh jalan keruhanian.

 

Peristiwa aku mengaku nabi dan rosul bukan hal baru dalam sejarah Umat Islam, bahkan di setiap agama pun ada. Namun, dalam lebih dari dua abad ini kebanyakan muncul dikalangan Umat islam. Yang paling menohok karena disokong oleh kekuasan politik dan militer era kolonialisme adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyyah yang mengaku nabi dengan sokongan Inggris sebagai promotornya.

 

Selama bertahun sampai berabad, dengan berbagai argumentasi yang kuat maupun yang lemah, bahkan setelah kolonialisme tumbang, masalah Ahmadiyyah tetap hadir bagai duri dalam daging Umat Islam. Ahmadiyyah bagi Umat Islam kebanyakan bagaikan crypto yang disisipkan, virus yang disisipkan untuk kemudian dibiarkan berkembang dengan segala dilema yang dihadapinya, dan tentunya sewaktu-waktu dimanfatkan untuk berbagai tujuan tanpa memperhatikan keselamatan pemeluknya maupun keselamatan Umat Islam lainnya. Dan tentu yang paling merasakan dampaknya,pada akhirnya adalah kalangan Umat Islam sendiri baik yang berada dalam kelompok Ahmadiyyah maupun yang lainnya. Saya mempublikasikannya belakangan ini hanya sekedar menambahkan pengetahuan kepada diri saya maupun orang lain supaya pemahaman kita tentang kenabian dan kerasulan memberikan suatu gambaran yang utuh tentang makna dan arti dari ayat-ayat al-Quran yang menegaskan berakhrinya zaman atau era kenabian dan kerasulan seperti diungkapkan dalam QS 33:40 berikut yang menjadi dasar penulisan artikel ini. Benar atau tidaknya silahkan anda baca dan renungkan dengan potensi pikiran dan pemahaman Anda sendiri.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q33:40)

 

Dia adalah Rasul Allah dan Penutup Para Nabi. Hal ini menjelaskan bahwa Rasul dalam pengertian di atas berhubungan dengan adanya sesuatu yang disampaikan kembali yaitu Firman-firman Tuhan (yang berasal dari nabi dan Rasul sebelumnya). Dalam Bahasa Arab seringkali Rasul dikatakan sebagai orang yang menjadi pembimbing kaumnya dan mempunyai risalah. Risalah yang dimaksud bukan saja secara tertulis namun juga yang didasarkan atas Pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri dari akhlak yang mulia maupun dari kedalaman jiwa murninya berdasarkan Daya dan UpayaNya dengan kehambaan dalam adab Aslim dengan Islam (tertunduk dan berserah diri) yang lurus.

 

Ia sebagai Rasul pun akhirnya menerima Risalah dari pemahaman yang sempurna tentang Asma, Sifat dan Perbuatan-Nya secara Ummi dan Yatim Piatu hanya dengan bimbingan Jibril yang mewakili aktualitas Pengetahuan Tuhan sendiri yaitu Tauhid. Jadi tidak ada bantuan lain selain dario Allah melalui Jibril dan tidak ada refensi yang digunakan oleh Muhammad sehingga ia mandiri dan Ummi dari intervensi pihaklain ketika memahami tanda-tanda Pengetahuan Tuhan. Pengertian Rasul diatas dlam QS 33:40 bagi Muhammad tidak terlepas dari kenabiannya yang menjadi penutup. Jadi, kenabian dan kerasulan yang berhubungan dengan Pengetahuan Tuhan yang disampaikan kepada Muhammad secara mandiri berhenti dalam konteks paling mendasar yang berhubungan dengan “Prinsip-prinsip Dasar Kehidupan” yang disampaikan dan telah disempurnakan bagi semua makhluk supaya mempunyai pedoman hidup.

 

Yang dimaksud pada akhirnya adalah Al Quran sebagai Kitab Wahyu, sebagai Wacana Fundamental bagi semua manusia (Dzikrul Lil Aalamin, Mukminun). Sehingga sebutan Rasulllah melekat kepada Nabi Muhammad SAW dengan akhlak al-Quran. Era penulisan risalah setelah Al Quran dibakukan atas petunjuk langsung Nabi Muhammad SAW kepada tim penyusunnya, selanjutnya hanyalah sekedar tafsiran saja, atau penjabaran dari Risalah yang disampaikan Muhammad SAW sebagai Utusan Tuhan yang terakhir. Jadi, ketika Tuhan berfirman dengan QS 33:40 diatas, Dia memerintahkan Muhammad SAW untuk menutup dan mendekonstruksikan zaman kenabian dan kerasulan menjadi zaman baru yang tidak lain adalah awal lahirnya Peradaban Islam yang kelak akan berpengaruh di sepanjang zaman meskipun kemasannya sudah dipoles disana-sini.

 

Firman itu juga akhirnya membuka realitas baru dengan lahirnya Islam sebagai Agama dan Peradaban Dunia dimana semua kenyataan hidup dikembalikan kepada kemampuan yang ada pada manusia dengan dzikir, fikir dan ikhtiarnya guna memahami fenomena kehidupan serta kemungkinan-kemungkinan untuk meraih arti dan makna kehidupan dengan kualitas al-Quran (kualitas yang digambarkan sebagai kualitas akhlak muhammad) dimana ilmu pengetahuan yang lurus dan terverifikasikan harus diterapkan sebagai suatu sarana mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Kelak ketika hal ini benar-benar dilakukan oleh Umat Islam, dimanapun juga, maka akan lahir era keemasan Islam baik sebagai Gaya Hidup maupun Peradaban dengan seni, sains, teknologi dan relijiusitas yang mumpuni, yang fondasinya kokoh, sandarannya kuat, dan tujuannnya jelas yaitu mencapai ridhoNya.

 

Karena itu, meskipun ayat diatas menyebutkan berakhirnya era kenabian namun ia juga menetapkan berakhirnya era kerasulan karena Nabi dan Rasul dalam diri Muhamad SAW menjadi satu dengan sempurna. Tak ada lagi pengetahuan lain bagi manusia setelah Rasulullah sebagai sebutan Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Risalah Wahyu.

 

Wahyu-wahyu Tuhan sendiri sampai detik ini masih berkeliaran, namun tak ada Wahyu baru karena secara mendasar Wahyu-wahyu Elementer (BACA: Bilangan dan Huruf Abjad) untuk memahami segala sesuatu telah disempurnakan di zaman Muhammad SAW menjadi suatu ungkapan Wahyu yang mempunyai arti literal maupun arti yang lebih halus lagi, arti lahir dan arti batin, yang mencakup awal dan akhir semua pengetahuan manusia yang sejatinya kembali kepada diri sendiri (simak QS 57:3 dan QS 67:3-4).

 

Sebagus apapun orang menulis sebuah risalah dari pemahamannya yang artifisial, namun risalahnya tak lebih dari tafsiran Al Quran dengan sistem bilangan dan huruf yang itu-itu saja. Maka, siapa pun yang telah merampas jubah Kesombongan Allah yang telah memberikan Risalah Kepada Muhammad SAW dengan ISLAM yang sempurna karena formalisasinya dirumuskan berdasarkan kenyataan tentang kehidupan, maka ia akan berada dalam ancaman dari-Nya dengan asma-Nya Yang Maha Menghinakan. Dan siapapun yang sesudah Muhammad SAW mengaku-aku menjadi Nabi maupun rasul, ia tidak lebih dari nabi dan rasul palsu, yang tersesat karena tertipu daya oleh ego dirinya yang merusak.

 

Al Mahdi

 

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 36:20-21)

 Seperti halnya mentari yang tak pernah menagih imbalan kepada semua makhluk atas siraman cahayanya, oksigen, air, udara, tanah, dan semua unsur pembangun kehidupan, yang tak pernah juga meminta imbalan, maka ikutilah orang yang mengajarkan dengan petunjuk Ilmu Pengetahuan yang lurus, Shirathaal Mustaqiim, dengan bimbingan yang benar tanpa meminta imbalan.

Merekalah hamba-hambaNya yang sejati, merekalah al-Mahdi yang sesungguhnya. Dan mereka bisa jadi, Anda, anda , anda dan siapa saja yang menetapi jalan keikhlasan dengan yaqin, istiqomah, syabar, syukur, dan tentunya berkesadaran atas CintaNya bagi semua makhluk, Dia - Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

Apa arti sesungguhnya kata al-mahdi yang sering diaku-aku oleh banyak manusia yang keliru memahami istilah dan nama tersebut?

Menurut Syekh Muhyidin Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah bab 366 (referensi yang mengulas hal ini silahkan donlot ulasan karya James Morris mengenai hal ini di http://www.ibnarabisociety.org/articlespdf/sp_mahdi.pdf), yang banyak dijadikan bahasan para pemikir orientalis maupun tasawuf, kata Al-Mahdi tidak ada di dalam al-Quran sebagai suatu nama. Namun dalam bentuk asalnya adalah pasif partisipel dari kata kerja “hada” (artinya memberi arah atau bimbingan yang benar , di jalan yang benar). Secara harfiah al-Mahdi berarti orang yang terbimbing dengan benar. Dalam AQ, arah yang benar tidak lain adalah menuju dan sampai kepada Allah, bersama Allah, dengan daya dan upaya Allah, dan dengan Pertolongan serta Perlindungan Allah dengan Berserah Diri alias Islam. Tidak ada kehendak aku sebagai makhluk berkekuatan di dalam proses perjalanan tersebut, yang ada adalah kehambaan mutlak dengan Islam.

Meskipun bentuk akar kata “hada” dijumpai di AQ hampir 330 kali, tapi bentuk kata al-Mahdi tidak ada dalam al-Quran. Meskipun di beberapa hadits yang masih diperdebatkan al-Mahdi sering muncul sebagai sebuah nama kehormatan atau gelar. Namun, makna dan artinya sesungguhnya menunjuk kepada makna biasa yang menjelaskan sosok yang spiritual yaitu yang memperoleh bimbingan yang benar, yang telah menerima secara aktif dan mencerap tataran isyarat Ilahiyah dalam kehidupan yang paripurna.

Bahkan dalam banyak hal penerima itu sendiri sebagi al-Mahdi merepresentasikan Kehidupan dalam seluruh tatanan realitas karena cerapannya mewakili pengalaman Isra dan Miraj Muhammad SAW. Namun, tentu saja, aktualitasnya berdasarkan potensi-potensi dasarnya yang sesuai dengan ruang-waktunya, sunnatullahNya, dan tentunya berbeda dengan pengalaman Nabi Muhammad SAW di zamannya.

Dalam kenyatannya yang umum, yang dimaksud al-Mahdi adalah Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan Allah, serta mengikuti sunnatullrasul dengan taqwa. Jadi, apa yang disebut al-Mahdi secara umum sebenarnya adalah Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan-Nya sebagai Pewaris Pengetahuan Tauhid melalui washilah Nabi Muhammd SAW. Karena itu, adalah kemustahilan kalau al-Mahdi justru menyimpang dari ajaran Islam dimana Shalat merepresentasikan Namaz, Miraj, Iman, Islam dan Ihsan sebagai penyaksian dan aktualitas Jamal dan Jalal Allah dengan syahadat :

Laa ilahaa illaa Allah, Muhammadurrasulullah

Dan tidak ada tujuan lain bagi semua makhluk ciptaan Allah kecuali hanya menjadi saksi dan menyatakan kembali Jamal dan Jalal Allah dengan kalimat syahadat tersebut. Maka , ia yang mengaku menjadi Utusan Tuhan dengan istilah apapun, apalagi mengabaikan kalimat syahadat dan shalat , serta tidak memenuhi syarat dasar sebagai yang terbimbing dengan benar sesuai dengan tuntunan al-Quran dan HANYA bergantung pada Pertolongan Allah semata tidak lain adalah Tukang Kibul atau Orang yang terkelabui oleh nafsu ibadahnya sendiri.

Tak ada parameter lain selain kalimat Syahadat dengan Islam yang utuh sebagai syarat untuk menilai seseorang maupun suatu kaum telah berlepas diri dari Rahmat Allah. Jadi, silahkan Anda mengambil sikap apakah masih Islam atau malah berlepas diri dari Rahmat Tuhan untuk menampilkan Murka-Nya.

Atmnd114912

Untuk kajian yang lebih komprehensif, silahkan merujuk ke tulisan saya yang dapat diunduh di www.scribd.com dengan judul Menelanjangi Nabi dan Rasul Palsu.


Tindakan

Information

2 tanggapan ke “Nabi Dan Rasul Terakhir & Al Mahdi: Siapakah Dia Sebenarnya”

19 05 2008
economatic (12:39:29) :

Para Nabi Palsu itu sengaja memanfaatkan kerinduan Umat terhadap sosok adil dan bijak dari Rasulullaah SAW ditengah kebingungan Umat terhadap perilaku para Ulama yang tidak konsisten dan jumud (Monoton).

19 05 2008
blogblajar (20:25:10) :

Benar Pak, memang kebanyakan mereka oportunis yang memanfatakan ketidaktahuan umat tentang isi al-Qur’an maupun hadis yang sahih, serta kurangnya ulama yang tulus dan mumpuni untuk tetap menjaga kelestarian nilai AQ maupun sunnatulrasul dengan lurus.

Tinggalkan komentar

kamu dapat menggunakan tag-tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>