Silence Of The “Ryan”

29 07 2008

Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you seek?
Clarice Starling: He kills women…
Hannibal Lecter: No. That is incidental. What is the first and principal thing he does? What needs does he serve by killing?
Clarice Starling: Anger, um, social acceptance, and, huh, sexual frustrations, sir…
Hannibal Lecter: No! He covets. That is his nature. And how do we begin to covet, Clarice? Do we seek out things to covet? Make an effort to answer now.
Clarice Starling: No. We just…
Hannibal Lecter: No. We begin by coveting what we see every day. Don’t you feel eyes moving over your body, Clarice? And don’t your eyes seek out the things you want? (dari salah satu dialog di Film Silence Of The Lambs, 1991)
Baca entri selengkapnya »





In Memoriam, Prof. Said Djauharsjah Jenie, ScD, Ir

15 07 2008

Pagi itu, Jum’at 11/7/2008, saya datang masih agak pagi, sekitar jam 9.00. Ritual harian pun mulai dilakukan, cek email kantor. Ada pesan nggak dari Filipina atau dari partner. Kosong. Jadi, dengan cepat saya melakukan ritual pribadi. Cek yahoo mail. Dan seperti biasanya, puluhan email baru nongol di mailbox saya di yahoo mail. Tak ada yang menarik, ehh…. tiba-tiba satu larik subyek menarik perhatian di milis penerbangan. Ucapan bela sungkawa terbaca. Belum lama rasanya saya menerima ucapan belasungkawa untuk saya dan keluarga dari teman-teman sehubungan dengan meninggalnya ibu saya sebulan yang lalu (11/6), dan memang tepat hari ini telah sebulan lewat (11/7). Saya buka email itu dan kabar duka itu datangnya dari salah satu dosen (Pak Ichsan) yang mengabarkan Prof. Said Djuharsjah Jenie telah kembali kepada Sang Khaliq, pagi Jumat itu jam 7.45. Sejenak saya berdoa kemudian me-reply email itu dengan ucapan turut belasungkawa. Baca entri selengkapnya »





Die Hard Versi 5.0

11 07 2008

Film Die Hard Ver 4.0 sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Film yang “selalu” dibintangi Bruce Willlis itu melanjutkan sekuel dengan kisah yang mirip satu sama lain. Hanya saja, kelir ceritanya berbeda. Kali ini, Bruce Willis tanpa sengaja mengawal sesorang yang tak dikenalnya, seorang anak muda nyleneh yang harus diantar ke pihak FBI karena keselamatannya terancam oleh ulah sekelompok hacker teroris yang mengancam sistem kehidupan di Amerika Serikat. Baca entri selengkapnya »





REPUBLIK SONTOLOYO

1 07 2008

“son·to·lo·yo p cak konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sbg kata makian)”

 

Begitulah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online tentang arti kata Sontoloyo.

 

Kata ini sebenarnya sudah lama menjadi perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Kata “Sontoloyo” atau dalam ejaan lama “Sontolojo” umumnya merupakan makian atau sebagai kata lecehan. Popularitasnya di zaman Soekarno ketika ia masih gemar menulis cukup kuat karena beliau pernah menulis suatu artikel dengan judul “Islam Sontolojo”. Artikel itu mengulas suatu peristiwa memalukan dimana seorang ustad menggauli murid wanitanya.(silahkan baca di kumpulan tulisan Soekarno “Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1”). Baca entri selengkapnya »