BHP : Upaya Membangun Benteng Feodalisme Keilmuan

30 12 2008

Rasanya, saya sedang bermimpi. Dalam mimpi saya itu, saya melihat manusia Indonesia seusia pelajar sampai mahasiswa dari umur 9 sampai 42 tahun sedang menarik sebuah gerobak raksasa yang ditunggangi oleh tubuh-tubuh tambun seperti berisi gerombolan manusia aneh bin ajaib, ada yang berkepala serigala, kura-kura, anjing pudel, tikus, babi, ular, lintah, dan berbagai jenis kepala lainnya. Tapi umumnya kepala binatang, dari jenis buas, setengah, buat, malu-malu kucing, rakus, tamak, dll. Mereka umumnya duduk atau berdiri dengan pongah, dengan mata yang licik dan keji, lidah melelehkan liur karena sedang asyik masuk dengan rakus memakan berbagai makanan dan minuman disampingnya, sambil memangku lonte seksi, yang semlehoi.

 

 

Lonte itu memakai baju seksi. Bajunya yang bolong di bagian dada hingga belahan diantara dua bukit kembarnya. Tentu saja, dibagian itu  lembah diantar keduanya jadi mencolot. Baju itu pun terus membelah sampai dekat pusarnya. Dan kalau dilihat dari belakang, ternyata bolong juga di bagian punggungnya seperti baju sundel bolong. Dan disana, tepatnya di bagian pantatnya yang seksi tertulis tulisan aneh, mungkin namanya “Prebu Ketiwi”. Entah darimana lonte yang bokongnya bertuliskan “Prebu Pretiwi” itu berasal, yang jelas ia benar2 seksi dan cantik, apalagi bibirnya rada ndombeh menantang mirip bintang sinetron ancur-ancuran yang gambar pornonya ramai di donlot orang di Internet.

 

 

Di depannya nampak si kusir kereta yang tak berdaya , renta, tua, nampak dungu dan bodoh seperti pendeta yang kehilangan ilmunya. Mungkin ilmunya sudah pada kabur entah kemana hingga kusir yg nampak seperti pendeta itu lebih mirip robot kurang makan dan minum yang sesekali, dengan takut-takut, mencomot remah-remah sisa makanan para penumpangnya. Tidak jarang pula ia diam-diam mencoba mengelus-elus kaki si lonte yang duduk menjuntai-juntai diatas pangkuan penumpang yang super duper aneh tersebut. Sesekali, si kusir melecutkan cambuknya sambil menggaruk selangkangannya yang mendadak dangdut ke rombongan penarik kereta yang kurus kerempeng itu karena menarik beban berat.

 

 

Cambuknya yang panjang sesekali menggeliat di udara dan menggeletar dengan suara mencicit “Duit……duit…….duit……maneee….”. Aneh betul suara lecutan cambuk pengemudi kereta antik itu. Sesekali, satu dua penarik kereta yang tak tahan lagi akhirnya melemparkan duitnya yang tersisa. Si pengemudi pun cepat-cepat menyambar lemparan itu, dan dengan kedipan mata tahu sama tahu, ia membiarkan saja penarik kereta yang sudah sawer itu naik ke kereta dan buru-buru lari bergelantungan ke bagian belakang kereta yang rupanya menarik beberapa gerobak penuh muatan. Setelah sawer dilakukan, kelompok manusia seusia pelajar sampai mahasiswa yang tak  tahan itu pun ikut-ikutan naik di belakang kereta makan. Mereka tentu saja hanya diberi jatah menjadi jongos dan budak saja, sambil sesekali menikmati makanan dan minuman mewah sisa yang ada di kereta bagian dapur. Bagian belakang memang nampak banyak makanan dan minuman. Dan setelah beberapa lama berjalan, biasanya pelajar dan siswa itu sudah nampak kekenyangan ikut menikmati jatah dapur diam-diam dan tentu saja molor sambil menikmati ayunan kereta itu.

 

 

Lama betul kereta aneh itu berjalan, seola-olah kereta kehidupan yang menyusuri aliran sungai waktu, tak berhenti, terus mengalir entah mau kemana, gue benar-benar tak tahu. Yang jelas, selama perjalanan kereta itu sesekali nampak oleng ke kiri ke kanan karena terpaan angin ataupun para penarik kereta yang nampak dicambuki seperti kerbau sesekali protes dan bikin ribut-ribut sendiri. Mungkin karena sebagian besar mereka sudah tidak mempunyai uang, jadi mereka seringkali protes karena cambuk  si pengemudi berada pedas sekali. Saya masih penasaran dengan impian aneh itu, jadi saya teruskan saja mimpi saya.

 

 

Penasaran, saya mencoba membaca nama kereta yang melaju terseok-eok itu. Penumpangnya yang nampak belepotan makanan dan minuman, nampak pada tambun-tambun, bengis dan tak peduli. Sebenarnya, kereta itu berjalan di keramaian. Banyak rakyat jelata maupun pengemis yang melihat. Tapi nampaknya rakyat punya kesibukan sendiri untuk bertahan hidup. Mereka sibuk ngantri bahan bakar, elpiji, pusing sambil berbaris dalam antrian kekurangan elpiji yang entah sampai kapan bisa diatasi, dan sibuk memikirkan caranya dapat uang supaya kesehatan dan pendidikan anaknya terjamin. Maklum saja, soalnya harga bahan pokok sudah pada naik dan terjadi krisis ekonomi. Namun, rakyat yang ngantri pendapatannya tak naik-naik. Mereka umumnya hamba sahaya dari para penumpang kereta itu. Jadi, jelas lah mereka rada cuek dengan para penarik kereta yang mulai ribut. Padahal anehnya, dan ini anehnya, diantara penarik kereta itu banyak juga anak-anak daripada rakyat yang ngantri itu. Inilah negeri ajaib dengan rakyat yang ajaib, Negeri Indonesia-nanana namanya. Betul nama kereta itu ada dua baris, diatas tulisan Indonesia-nanana itu terdapat tulisan besar-besar, singkatan huruf yang kalau dibaca terdiri dari tiga huruf Be Ha Pe. Wah, rupanya itu kereta tumpangan, tapi anehnya mirip kereta sekaligus benteng yang ditarik oleh para budak yang mestinya berada dalam kereta itu dengan nyaman pula asalkan tulisan Be Ha nya dihapus. Tapi nampaknya, sesuai dengan kelakuan dari orang-orang tambun dengan berbagai wujud binatang yang ada di kereta tersebut. Nama Be Ha nampaknya bertuah. Mungkin ini erat kaitannya dengan urusan si Lonte yang suka enjot-enjotan dipangkuan par apenumpang kereta. Jadi Be Ha tetap dipakai menyertai huruf Pe. Saya jadi penasaran dengan kereta itu. Peran dan fungsinya sebenarnya kereta apa yah, kereta yang mestinya membawa ke zaman baru atau hanya kereta perbudakan saja yang terus mengitari matahari sampai kiamat.

 

 

Mengingat perbudakan, saya merinding, Soalnya menurut sejarah negeri Indonesia-nanana ini, rakyatnya sejak dulu selalu menjadi budak saja.

 

 

Konon, mereka dikabarkan pernah di perbudak oleh suku yang tinggal di bawah air, sejarah mereka di masa itu pun sebenarnya sudah tidak karuan. Mereka diperbudak selama kurang lebih 345 tahun. Lama nian, pikir saya sambil mencoba mengingat dan mencari tahu di pertapaan Mbah Wiki tentang sejarah perbudakan di dunia, terutama di negeri Indonesia-nanana ini. Setelah perbudakan dari suku Bawah Air, mereka diperbudak juga oleh suku Sodara Kolot.

 

 

Cuma waktunya singkat saja. Katanya, sebelum di perbudak suku bawah air, mereka juga diperbudak oleh suku aneh bin ajaib, suku penunggang kuda hawa nafsu. Nama sukunya kombinasi nama Arab tapi aslinya Tionghoa yaitu Yajuj dan Majuj atau Yajou Majou yang artinya suku pengendara kuda liar. Tapi menurut saya yang dimaksud adalah suku yang diperbduak hawa nafsu bahkan mereka penyembah nafsunya sendiri. Aneh betul, suku-suku yang suka memperbudak suku bangsa Indonesiananana itu. Suku Indoensiananana diperbudak suku Yajuj dan Majuj selama kurang lebih 354 tahun. Selama itu pula suku-suku Indoensiananana jadi kapiran dan menjadi linglung dibuatnya.

 

 

Kelinglungan itu selain sebab perbudakan juga karena perang sodara, azab dan bencana alam sehingga yang tersisa kebanyakan  rakyat jelata yang dungu dan bodoh, kurang peduli, dan akhirnya menjadi budak penjajahnya, yaitu menjadi bagian dari Yakjuj dan Makjuj juga. Yang pinter-pinter, sepuh dan pandita, serta ksatrianya sudah mati atau nyerah dan diubah secara genetis menjadi bagian suku Yakjuj Makjuj, yang penting menurut mereka cari selamat saja. Waktu perbudakan suku bawah Air terjadi, merekapun ikut kemana angin bertiup, motonya “yang penting selamat”. Walhasil, mereka yang suka ngikut itupun ternyata kena penyakit linglung juga, mungkin ada genetic shock sehingga kebanyakan menjadi begitu wujud kelakukannya.

 

 

Saking linglung dan kurang pedulinya, tanpa mereka sadari sejarah kaum meraka sendiri akhirnya musnah di telah kegelapan. Aslinya suku-suku itu punya moyang yang hebat-hebat. Tapi sejarah kehebatannya itu sudah tidak jelas, tertelan kabut kegelapan selama 1400 tahun lebih. Jadi lama juga sebenarnya, meskipun lamanya itu pun tidak jelas, apakah memang 1400 tahun atau sekedar 50 tahun saja. Jadi, mungkin dimusnahkan ketika suku Yajuj Majuj mulai menyerbu setelah bencana alam dahsyat,merampok harta yang tertinggal, dan tentu saja memperbudak mereka. Jadi masa kekacauan itu memang gak jelas betul, mungkin gak kepikiran kok bisa 1400 tahun hanya menjadi 50 tahun saja. Lha kemana 1350 tahun sisanya? Jadi dongeng 1001 malam? Atau jadi mimpi kosong belaka. Entahlah, tapi itu menurut informasi dan desas-desus yang saya sempat nguping juga di dunia Mayantara.

 

 

Akhirnya, mau 50 tahun atau 1400 tahun kek, tak banyak orang yang peduli, soalnya mereka yang peduli umumnya sedikit dan tidak berani mengatakannya terang-terangan. Lama-lama tentu saja informasi simpang siur itu tidak karuan dan akhirnya menjadi hilang sama sekali. Memang betul juga pepatah yang mengatakan,

 

“siapa yang menguasai masa lalu akan menguasai masa depan, siapa yang menguasai masa kini akan menguasai masa lalu”.

 

Jadi berhubung tak ada kesadaran sejarah seperti itu di kawanan suku-suku Indonesia-nanana maka tentu saja mereka tak punya masa kini dan tak punya masa depan karena masa lalunya hilang terhapus begitu saja seolah-olah tak pernah ada. Kalaupun ada, karena mungkin yang mengarangnya sangat takut dibunuh penguasa masa itu, informasi kesejarahan itu terselubung dalam legenda dan dongeng yang sebenarnya fakta yang hanya bisa dibuka kalau suku-suku bangsa Indonesiananana bebas dari perbudakan pikiran, berpendidikan yang baik, sehat jasmani dan ruhaninya, dan sejahtera hidupnya.

 

 

Ketika datang serbuan suku Bawah Air bagaikan air bah zaman Nabi Nuh, suku-suku Indonesiananana tak peduli betul. Toh sama saja mereka akan berada diposisi budak, posisi kelas yang menjadi pijakan kelas yang menjajahnya. Jadi, setelah 354 tahun dibuat linglung dan kapiran, serbuah suku Bawah Air tidak membuat mereka bingung karena toh yang berperang suku Yakjuj dan Makjuj dan konconya lawan suku Bawah Air yang tak mereka kenal.

 

 

Rupanya, waktu itu, angin perubahan berpihak pada suku Bawah Air yang mempunyai persenjataan dan strategi yang baik. Suku Yakjuj dan Makjuj pun pelan-pelan kekuasaannya hilang. Sebagian malah bekerjasama dengan suku Bawah Air sebagai tuan barunya. Dan sejak itu suku-suku Indonesiananana pun menjadi budak lagi selama 345 tahun.

 

 

Waktu dijajah suku Bawah Air, pernah dicoba membangkitkan semangat untuk membuat suku Indonesiananana lebih pintar. Tapi rupanya usaha itu sangat berat, entah karena penjajahan Yakjuj dan Makjuj demikian parah membuang kemampuan mereka atau memanng dasarnya bebal. Walhasil setelah 100 tahun lebih diminta untuk membaca, menulis dan belajar, tak banyak berkembang. Yang muncul malah kalangan Indonesiananana hasil selingkuhan yang melahirkan blasteran Yakjuj dan Majuj yang masih tersisa membentuk masyarakat elit yang menjadi mitra suku Bawah Air. Umumnya mereka  pandai bersilat lidah, berteori, dan diam-diam nafsunya gede serta kemaruk harta. Jadi, tak seganlah mereka memperbudak sodara sendiri. Yang penting selamet.

 

 

Diam-diam cara-cara perbudakan masih mereka lakukan meskipun dunia sudah berubah. Ketika Bom Atom meletus di Negeri Sodara Tua dan suku Indonesiananana memerdekakan diri. Entah bagaimana ceritanya, waktu itu suku Indonesiananana seperti kesetanan, mereka berani sekali ketika mendengar perbudakan sudah lewat. Jadi, ada sebagian kecil pemuka Indoensiananana yang akhirnya terlepas dari kungkungan kegelapan dan melakukan kasak kusuk menuntut merdeka.

 

 

Ketika huru hara Bom itu terdengar, dan suku Sodara Kolot langsung loyo karena negerinya binasa kena Bom Atom, mereka tak peduli lagi apakah Indonesiananana mau merdeka atau tidak. Akhirnya merdeka juga meskipun pemimpin suku Indoensiananana meski diculik dulu oleh anak mudanya supaya merdeka. Merdeka pulalah suku Indonesiananana.

 

 

Selama merdeka itu diam-diam blasteran suku Yakjuj dan Majuj maupun bekas abdi dalem Suku Bawah Air mengintip mengambil kesempatan dalam kesempitan dan berbaur dengan kegembiraan. Karena mereka tentu saja lebih licin ketimbang belut, maka tetap saja yang memegang kendali negeri Indonesiananana yang masih bayi itu, mereka-mereka juga.

 

 

Suku Indonesiananana yang ternyata mempunyai penyakit euforia. Jadi mereka lebih suka ngoceh dan teriak-teriak merdeka seperti kesetanan. Lupa kalau merdeka itu harusnya bagaimana. Ketika suku Bawah Air datang kembali dengan teman2nya, suku – suku Indonesiananana marah dan emoh lagi dijajah. Akhirnya terjadi perang hebat dan banyak yang mati. Tapi kehebatan suku Indoensiananana justru tampil saat itu dengan hebat pula setelah mendem selama ratusan tahun.

 

 

Tidak tanggung tanggung 2 jendral suku Bawah Air dan temannya tewas. Ini membuat marah suku Bawah Air, dan disitu pula tampil semangat motang-moyangnya suku Indonesiananana yang tenggelam ratusan tahun yang lalu. Pertempuran itu kemudian dijadikan hari istimewa bagi Pahlawan suku bangsa Indonesiananana.

 

 

Tapi tetap saja, masalah muncul setelah merdeka. Rupanya penyakit kegelapan jiwa yang telah membuat linglung suku Indoensiananana masih belum sembuh benar. Karena itu diam-diam mereka masih terkungkung dalam wilayah perbudakan. Penguasanya masih seperti yang dulu turunan Yakjuj dan Makjuj maupun bekas abdi suku Bawah Air.

 

 

Jadi, diam-diam pula suku Indonesiananana tetap masih dalam kegelapan dan kelinglungannya. Ketika zaman berubah, rupanya kelinglungan akibat perbudakan mulai terkikis secara alamiah. Sebagian suku Indoensiananana sadar betul kekurangan nya yaitu tak mau membaca dan belajar, maunya bengong, pinter ngomong kaya dukun, ngupil, comot sini, comot sana, gosip, main perempuan, korupsi, mabok-mabokan, dan paling parah jadi tuhan-tuhanan. Sesekali bakat alam suku ini tampil ramai-ramai. Itu terjadi kalau ada acara seremonial, dangdutan, wayangan, ataupun acara-acara gratisan lainnya.

 

 

Diam-diam, siklus Bumi berubah, cokromanggilngan berputar ke titik awal mula, ketika kelinglungan itu mulai menghilang muncul kekhawatiran dari kelompok elit Indonesiananana, jangan-jagan semua suku Indonesiananana bangun dari tidurnya. Jadi muslihat pun kembali di gelontorklan dengan segala cara dengan tujuan “tetap menjadikan suku Indonesiananana berada di tingkat budak” saja.

 

 

Jadi, segala sesuatunya musti dibuat dengan proses yang menyulitkan, meskipun sebenarnya mudah, misalnya pendidikan, kesehatan, bahan pangan, rumah, elpiji, dapur, bumbu masak, nasi, beras, dan segalanya musti harus sulit dijangkau. Gaji pekerjanya tak perlu tinggi, tapi biarkan saja kecil, biarkan virus loba dan tamak mampir, biarkan korupsi terjadi, dan biarkan kebodohan merajalela, namun iming-imingi dengan barang mewah. Nah kalau ingin barang itu suruh mereka mengkriditnya. Badan perkreditan musti dibangun oleh modal penguasa atau modal dari para pengumpul kekayaan yang ternyata jumlahnya tak banyak, baik dari kalangan Yakjuj Majuj maupun bukan. Kira-kira itulah yang kemudian berjalan. Jadi, meskipun sudah mengaku merdeka puluhan tahun, suku Indonesiananana sejatinya masih menjadi budak suku Yakjuj dan Makjuj serta keturunan dan konco2nya.

 

 

Tapi sekali lagi zaman telah berubah, pertolongan sebenarnya datang dari sudut dunia yang tak disangka-sangka, keterbukaan ilmu pengetahuan merebak dimana-mana. Thanks to Internet, Yahoo, Google, and Mbah Wiki. Maka ketika kesempatan menjatuhkan Status Quo terjadi 10 tahun yang lalu, suku-suku Indonesiananana blingsatan mirip zaman kemerdekaan dulu, mengalami euforia dan ribut kesana kemari.

 

 

Tuntutan demi tuntutan kemudian dilakukan, protes demi protes dijalankan, pahlawan demi pahlawan kesiangan pun muncul di tv-tv.

 

Tapi, tetap saja inti masalah suku Indonesiananana luput diperhatikan dengan serius yaitu masalah pendidikan, kesehatan , keadilan dan tentu saja kesejahteraan. Jadi, euforia itupun diam-diam mulai berbelok lagi menelikung potensi suku Indonesiananana yang terlanjur umumnya “sudah dan masih” berada dibawah garis kesejahteraan.

 

Ketika akhirnya pendidikan dilalaikan, maka ributlah anak muda suku Indonesiananana menuntut pendidikan murah kalau perlu gratis. Tapi apa lacur, beberapa tahun setelah eforia pembebasan lahir, tanpa sadar jerat dan benteng pendidikan mulai dibangun kembali oleh kelompok Yakjuj Makjuj dan sekutunya.

 

Benteng yang kuat supaya suku Indonesianana tidak maju kembali dibuat diam-diam, benteng itupun kemudian menjadi benteng yang akan menyulitkan suku Indonesiananana untuk bebas seutuhnya dari perbudakan, terutama perbudakan pikiran yang selama ini mengkerangkeng mereka. Membebaskan perbudakan pikiran adalah membebaskan manusia untuk menimba ilmu. Jadi, kalau sumber ilmu berkembang dibentengi dengan tembok yang disebut BHP berbiaya tinggi, tentu saja suku Indonesiananana yang masih kere dengkle akan kesulitan meningkatkan kualitas pendidikannya sulit meningkatkan kualitas hidupnya, sulit mendapatkan keadilan, sulit menjadi sejahtera lahir batin, dan akhirnya tetap saja ia menjadi budak karena hanya yang punya duit saja yang tetap menguasai ilmu itu.

 

Walhasil, suku Indonesiananana yang sadar apa yang mungkin terjadi pada berontak. Mula-mula mereka minta biaya pendidikan dari pemerintah dinaikkan 20 persen. Tapi entah kenapa, ketika rakyat disibukkan dengan kekurangan bahan bakar, elpji, krisis ekonomi, krisis israel-palestina, gambar porno, dan tentu saja membuat rakyat sibuk sendiri dengan urusan dapurnya, muncul bangunan benteng feodalisme ilmu itu yang kemudian disebut Badan Hukum Pendidikan alias Be Ha Pe yang nampak oleh saya di masa depan jadinya seperti yang saya khayalkan diatas tulisan ini, anak muda Indonesiananana hanya akan menjadi budak penguasanya saja.

 

BHP, Badan Hukum Pendidikan lebih mirip sekedar kamuflase saja dari Benteng Feodalisme Pendidikan yang kalau tidak diruntuhkan atau diluruskan tujuannya akan menjadi benteng yang kuat seolah tembok besi Iskandar Dzulkarnain yang digunakan untuk melindungi sekelompok elit penguasa yang mungkin pelan-pelan hegemoni kekuasaannya mulai terancam karena tidak mau dan tidak punya keinginan tulus untuk mencerdaskan semua manusia yang disebut bangsa Indonesiananana tanpa pandang bulu.

 

Jadi, itulah masalahnya, pikir saya sambil mendengar berita TV tentang demo menentang BHP dan demo anti-Israel, kenapa anak-anak muda Indonesiananana sekarang mulai turun kejalan dan menuntut meruntuhkan Behape. Tentu saja mereka sewot, setelah se-tress tak karuan karena pendidikan tidak jelas arahnya dan mahal biayanya mulai dari TK sampai PT, kini jelas-jelas ada alasan kuat untuk kembali bergerak melakukan perubahan dengan menuntut pembatalan Behape.

 

Saya tiba-tiba tersentak, bangun dari mimpi aneh saya itu. Untungnya saya sudah bukan mahasiwa, dan dulu saya dibiayai pemerintah menuntut ilmu dengan biaya kurang dari 100 ribu per semester. Jadi, sayapun kemudian setju dengan protes mereka, menyemangati mereka yang menuntut keadilan untuk mendapatkan pendidikan murah kalau perlu gratis tis… tis…. tis…. sampai perguruan tingi. Pemerintah semestinya dan seharusnya tetap bertanggung jawab atas “untuk mencerdaskan suku bangsa Indonesia nanana”, meningkatkan pendidikan rakyatnya sampai benar-benar gratis dan rakyat mempunyai modal pengetahuan yang setara aksesnya. Industri yang menguras sumber daya alam Indoensiananana juga mesti bertanggung jawab atas pendidikan rakyat Indonesiananana yang murah, jangan asal nyomot kekayaan alam dengan menggunakan tangan suku Yakjuj Makjuj, lantas meninggalkannya seperti gerombolan belalang parasit.

 

Knowledge for everyone.

 

Atmnd114912 warga Indonesia nanana

13:19/30-12-





Nabi dan Rasul Terakhir & Al Mahdi : Siapakah Dia Sebenarnya? (revised edition)

17 12 2008

(Tulisan ini merupakan tulisan yang direvisi untuk topik dan kasus yang sama yang berhubungan dengan klaim kemahdian, kenabian, kerasulan, penerimaan wahyu, dan sejenisnya, terutama yang berkembang dalam komunitas agama Islam di Indonesia. Di posting disini untuk mengingatkan kita semua kalau klaim seperti itu, misalnya kasus Lia Eden yang kumat lagi kumat lagi merupakan suatu permaslahan umat sepanjang zaman.  Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan pencerahan. Versi terdahulu dapat ditemui di atmonadi.wordpress.com, atmoon.multiply.com, atmoon.blogsome.com, atmonadi.com. komunitas myquran.org dan beberapa milis)

 

Artikel ini sebenarnya sudah lama tertuang dalam bentuk tulisan. Awal mulanya ketika tahun lalu, 2007, muncul kehebohan di masyarakat setelah adanya pengakuan Nabi dan Rosul dari berbagai pihak. Bukan satu pihak saja, berbagai pihak, baik yang akhirnya tanpa pengikut maupun memperoleh banyak pengikut.

 

Masalah ini sebenarnya penyakit umat beragama ketika mulai dihinggapi ilusi tentang kenabian dan kerasulan tanpa suatu pemahaman yang utuh. Kecuali semata-mata gejolak nafsu ibadahnya sendiri yang merefleksikan niat-niat awalnya yang bengkok ketika menempuh jalan ruhani.

 

Peristiwa aku mengaku nabi dan rosul bukan hal baru dalam sejarah Umat Islam, bahkan di setiap agama pun ada. Namun, dalam lebih dari dua abad ini kebanyakan muncul dikalangan Umat Islam. Yang paling menohok karena disokong oleh kekuasan politik dan militer era kolonialisme adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyyah yang mengaku nabi dengan sokongan Inggris sebagai promotornya.

 

Selama bertahun sampai berabad, dengan berbagai argumentasi yang kuat maupun yang lemah, bahkan setelah kolonialisme tumbang, masalah Ahmadiyyah tetap hadir bagai duri dalam daging Umat Islam. Ahmadiyyah bagi Umat Islam kebanyakan bagaikan crypto yang disisipkan, virus yang disisipkan untuk kemudian dibiarkan berkembang dengan segala dilema yang dihadapinya, dan tentunya sewaktu-waktu dimanfatkan untuk berbagai tujuan tanpa memperhatikan keselamatan pemeluknya maupun keselamatan Umat Islam lainnya. Dan tentu yang paling merasakan dampaknya, pada akhirnya, adalah kalangan Umat Islam sendiri, baik yang berada dalam kelompok Ahmadiyyah maupun yang lainnya. Saya mempublikasikannya belakangan ini hanya sekedar menambahkan pengetahuan kepada diri saya maupun orang lain supaya pemahaman kita tentang kenabian dan kerasulan memberikan suatu gambaran yang utuh tentang makna dan arti dari ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan berakhirnya zaman atau era kenabian dan kerasulan seperti diungkapkan dalam QS 33:40 berikut yang menjadi dasar penulisan artikel ini. Benar atau tidaknya silahkan anda baca dan renungkan dengan potensi pikiran dan pemahaman Anda sendiri.

 

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q33:40)

 

Dia adalah Rasul Allah dan Penutup Para Nabi. Hal ini menjelaskan bahwa Rasul dalam pengertian di atas berhubungan dengan adanya sesuatu yang disampaikan kembali yaitu Firman-firman Tuhan (yang berasal dari nabi dan Rasul sebelumnya). Dalam Bahasa Arab seringkali Rasul dikatakan sebagai orang yang menjadi pembimbing kaumnya dan mempunyai risalah. Risalah yang dimaksud bukan saja secara tertulis namun juga yang didasarkan atas Pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri dari akhlak yang mulia maupun dari kedalaman jiwa murninya berdasarkan Daya dan UpayaNya dengan kehambaan dalam adab Aslim dengan Islam (tertunduk dan berserah diri) yang lurus. Jadi, adab Islam menjadi penting karena merupakan adab fundamental kearifan universal setelah suatu proses panjang perjalanan dilakukan baik dengan potensi fisik maupun mentalnya, perenungan, fikiran dan tindakannya. Tanpa adab universal yang berserah diri maka klaim apapun dari seseorang mengenai perjalanan ruhanuinya adalah kepalsuan dan ketidakpahaman.

 

Ia sebagai Rasul pun akhirnya menerima Risalah dari pemahaman yang sempurna tentang Asma, Sifat dan Perbuatan-Nya secara “Ummi” dan “Yatim Piatu” hanya dengan bimbingan Jibril yang mewakili aktualitas Pengetahuan Tuhan sendiri yaitu Tauhid. Jadi tidak ada bantuan lain selain dari Allah melalui Jibril dan tidak ada referensi artifisial (buku, kitab, makalah, dll) yang digunakan oleh Muhammad sehingga ia mandiri dan Ummi dari intervensi pihak lain ketika memahami tanda-tanda Pengetahuan Tuhan.

 

Jibril sebagai pembimbing atau mungkin mempunyai beberapa nama dalam literatur bukan sekedar sosok makhluk yang disebut sebagai malaikat, sebagai membawa pesan. Namun, ia sebenarnya sosok yang dihadirkan dengan imajinasi kreatif pelaku ruhani tersebut sebagai instrumen yang mengaktualisasikan pesan Tuhan yang tentunya tidak selalu dengan gamblang dapat dimengerti. Sebelum pesan Tuhan tersebut aktual menjadi seuntai wahyu, maka ada suatu proses yang dijalani pelaku ruhani tersebut sehingga kehadiran Jibril justru sangat dekat dan setiap saat ada bukan suatu yang sesaat-sesaat atau kumat-kumatan. Jibril karena itu lebih mirip sebagai pengawal pribadi yang siap melepaskan sayapnya untuk dijadikan qalam (pena) yang dicelupkan kedalam wadah tinta pengetahuan Tuhan di pikiran pelaku dan memandu si penerima wahyu untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan si pemberi wahyu sebenarnya. Karenanya sosoknya menjadi imajinal tanpa deskripsi yang jelas, selalu berubah sesuai dengan kadar dan potensi si penerima pesan dan tentunya disesuaikan dengan suasana dan kondisi-kondisi aktual yang terjadi. Jenis pesan yang disampaikan pun tidak vulgar menyoroti suatu permasalahan namun mengupas dikedalaman inti permasalahannya, sehingga dalam posisi sebagai penerima maka seseorang misalnya Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah sosok yang sama pengertiannya dengan Ulul AlBab. Karena itu, ia tidak akan menyampaikan dengan menyebutkan sesuatu yang khusus misalnya menyebutkan si “fulan” atau suatu keadaan khusus dalam bentangan satu waktu yang sempit misalnya “sekarang, kini, atau nanti”. Ia akan menjelaskannya secara mendasar dengan sibol-simbol khas yang kelak hanya dapat dipahami oleh mereka yang mempunyai pengalaman yang serupa tapi tak sama (ruang-waktu dan konteksnya) seperti saat ia mengatakan kepada Muhammad apakah arti Islam, Ihsan, dan sejenisnya. Jibril sebagai pembawa pesan hanya menjadi eksitator awal saja, sebagai guru yang membimbing untuk menjelaskan atau menegaskan suatu prinsip dasar yang berkaitan dengan misi si pembawa pesan tersebut. Sehingga ia akan menyatakan pesan Tuhan sesuai dengan potensi si penerima pesan dengan tepat, dapat dievaluasi dengan lebih seksama untuk memperoleh penerapan yang lebih praktis (didiferensiasikan), dan yang jelas memenuhi kaidah rasional yang terbatas maupun kaidah yang menyiratkan ketidakterbatasan dari si pemberi perintah dan wewenang yaitu al-Haqq sendiri. Tanpa ciri demikikian, maka klaim tentang pesan dari Jibril ataupun jenis malaikat lainnya bisa dikatakan hanya ilusi yang dipenuhi hawa nafsu.  

 

Pengertian Rasul dalam QS 33:40 bagi Muhammad tidak terlepas dari kenabiannya yang menjadi penutup. Jadi, kenabian dan kerasulan yang berhubungan dengan Pengetahuan Tuhan yang disampaikan kepada Muhammad secara mandiri berhenti dalam konteks paling mendasar yang berhubungan dengan “Prinsip-prinsip Dasar Kehidupan” yang perlu disampaikan dan telah disempurnakan bagi semua makhluk terutama manusia sebagai muslim (tentunya beradab Islam) supaya mempunyai pedoman hidup.

 

Yang dimaksud pada akhirnya adalah Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu, sebagai Wacana Fundamental bagi semua manusia (Dzikrul Lil ‘Aalamin, Mukminun). Sehingga sebutan Rasulllah melekat kepada Nabi Muhammad SAW dengan akhlak al-Qur’an. Era penulisan risalah setelah Al Qur’an dibakukan atas petunjuk langsung Nabi Muhammad SAW kepada tim penyusunnya, selanjutnya hanyalah sekedar tafsiran saja, atau penjabaran dari Risalah yang disampaikan Muhammad SAW sebagai Utusan Tuhan yang terakhir. Jadi, semua pesan kenabian maupun kerasulan dapat dirasionalisasikan dengan pranata model dan metodologi keilmuan yang dapat diuji kesahihannya sesuai dengan ruang-waktunya, bukan semata-mata syair tanpa konsep, arti, makna dan dimensi praktis. Syair yang tidak mampu didiferensiasikan tak lebih dari permainan kata-kata para penyair belaka. Ia mungkin hanya menjadi petai-hampa semata, gambaran nafsu yang dapat diartikulasikan dengan semua lidah manusia tak bertulang. Dan semua orang bisa membuat syair asalkan ia bisa berbahasa. Karena itu tidak semua syair menjadi wahyu, tapi semua wahyu pasti mengandung suatu kaidah syair yang dapat dijabar-uraikan dengan pengetahuan manusia, baik pengetahuan numerik-matematis, kebahasaan, psikologi, dan cabang ilmu lainnya.

 

Ketika Tuhan berfirman dengan QS 33:40 diatas, Dia secara langsung memerintahkan Muhammad SAW untuk menutup dan  mendekonstruksikan zaman kenabian dan kerasulan menjadi zaman baru yang tidak lain adalah awal lahirnya Peradaban Islam (Peradaban yang puncaknya adalah lahirnya kesadaran, keberserahdirian, dan kenyataan bahwa sejatinya pengetahuan yang dipahami manusia untuk menghadirkan kehidupa yang dinaungi Basmalah itu lemah dan bersifat fana karena itu hanya Wajah Tuhan saja yang kekal) yang kelak akan berpengaruh di sepanjang zaman meskipun kemasannya sudah dipoles disana-sini sesuai dengan ruang-waktu penganutnya.

 

Firman itu juga akhirnya membuka realitas baru dengan lahirnya Islam sebagai Agama dan Peradaban Dunia dimana semua kenyataan hidup dikembalikan kepada kemampuan yang ada pada manusia dengan dzikir, fikir dan ikhtiarnya guna memahami fenomena kehidupan serta kemungkinan-kemungkinan untuk meraih arti dan makna kehidupan dengan kualitas al-Qur’an (kualitas yang digambarkan sebagai kualitas akhlak muhammad, atau kualitas Basmalah) dimana ilmu pengetahuan yang lurus dan terverifikasikan harus diterapkan sebagai suatu sarana mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Kelak ketika hal ini benar-benar dilakukan oleh Umat Islam, dimanapun juga, maka akan lahir era keemasan Islam baik sebagai “Gaya Hidup” maupun “Peradaban” dengan seni, sains, teknologi dan relijiusitas yang mumpuni, yang fondasinya kokoh, sandarannya kuat, adabnya Islam dan tujuannnya jelas yaitu mencapai ridhoNya. 

 

Karena itu, meskipun ayat diatas menyebutkan berakhirnya era kenabian namun ia juga menetapkan berakhirnya era kerasulan karena Nabi dan Rasul dalam diri Muhamad SAW menjadi satu dengan sempurna. Tak ada lagi pengetahuan lain bagi manusia setelah  Rasulullah sebagai sebutan Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Risalah Wahyu.

 

Wahyu-wahyu Tuhan sendiri sampai detik ini masih berkeliaran, namun tak ada Wahyu baru karena secara mendasar Wahyu-wahyu Elementer (BACA: Bilangan dan Huruf Abjad/Alfabet) untuk memahami segala sesuatu telah disempurnakan di zaman Muhammad SAW menjadi suatu ungkapan Wahyu yang mempunyai arti literal maupun arti yang lebih halus lagi, arti lahir dan arti batin, yang mencakup awal dan akhir semua pengetahuan manusia yang sejatinya kembali kepada diri sendiri (simak QS 57:3 dan QS 67:3-4).

 

Sebagus apapun orang menulis sebuah risalah dari pemahamannya yang artifisial, namun risalahnya tak lebih dari tafsiran Al Qur’an dengan sistem bilangan dan huruf yang itu-itu saja. Maka, siapa pun yang telah merampas jubah Kesombongan Allah yang telah memberikan Risalah Kepada Muhammad SAW dengan ISLAM yang sempurna karena formalisasinya dirumuskan berdasarkan kenyataan tentang kehidupan, maka ia akan berada dalam ancaman dari-Nya dengan asma-Nya Yang Maha Menghinakan. Dan siapapun yang sesudah Muhammad SAW mengaku-aku menjadi Nabi maupun rasul, ia tidak lebih dari nabi dan rasul palsu,  yang tersesat karena tertipu daya oleh ego dirinya yang merusak, atau telah mengalami personality dis-order sesuai dengan prasangka nafsunya misalnya prasangka kekanak-kanakan yang dibangun Lia Eden, prasangka kemahdian yang dibangun kelompok yang mengaku menjadi penyelamat akhir zaman, ataupun prasangka lainnya, baik yang bersifat komunal maupun individual (misalnya dengan menggunakan gelar yang aneh-aneh seperti Mahaguru Lugu Lucu, Ki Joko Dungu, Kiai Kuntul Semprul, Syekh Kuntul Gateli, dll). Dan semua itu akhirnya menunjukkan ketertutupan yang nyata dari pengetahuan tentang kenabian maupun kerasulan.

 

Al Mahdi

 

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 36:20-21)

 

 

Seperti halnya mentari yang tak pernah menagih imbalan kepada semua makhluk atas siraman cahayanya, oksigen, air, udara,  tanah, dan semua unsur pembangun kehidupan, yang tak pernah juga meminta imbalan, maka ikutilah orang yang mengajarkan dengan petunjuk Ilmu Pengetahuan yang lurus, Shirathaal Mustaqiim, dengan bimbingan yang benar tanpa meminta imbalan.

 

Merekalah hamba-hambaNya yang sejati, merekalah al-Mahdi yang sesungguhnya. Dan mereka bisa jadi, Anda, anda , anda dan siapa saja  yang menetapi jalan keikhlasan dengan yaqin, istiqomah, syabar, syukur, dan tentunya berkesadaran atas CintaNya bagi semua makhluk, Dia – Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

 

Apa arti sesungguhnya kata “al-mahdi” yang sering diaku-aku oleh banyak manusia yang keliru memahami istilah dan nama tersebut?

 

Menurut Syekh Muhyidin Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah bab 366 (referensi yang mengulas hal ini silahkan donlot di situs http://www.ibnarabisociety.org  ulasan karya James Morris yaitu di http://www.ibnarabisociety.org/articlespdf/sp_mahdi.pdf) yang banyak dijadikan bahasan para pemikir orientalis maupun tasawuf, kata Al-Mahdi tidak ada di dalam al-Qur’an sebagai suatu nama. Namun dalam bentuk asalnya adalah pasif partisipel dari kata kerja “hada” (artinya “memberi arah atau bimbingan yang benar , di jalan yang benar’). Secara harfiah al-Mahdi berarti “orang yang terbimbing dengan benar”. Dalam AQ, arah yang benar tidak lain adalah menuju dan sampai kepada Allah, bersama Allah (Bismillah), dengan daya dan upaya Allah, dan dengan Pertolongan serta Perlindungan Allah dengan Berserah Diri alias Islam. Tidak ada kehendak “aku sebagai makhluk berkekuatan” di dalam proses perjalanan tersebut, yang ada adalah kehambaan mutlak dengan adab Islam (menjadi mukmin dalam arti sesungguhnya).

 

Meskipun bentuk akar kata “hada” dijumpai di AQ hampir 330 kali, tapi bentuk kata “al-Mahdi” tidak ada dalam al-Qur’an.  Meskipun di beberapa hadits yang masih diperdebatkan al-Mahdi sering muncul sebagai sebuah “nama” kehormatan atau gelar. Namun, makna dan artinya sesungguhnya menunjuk kepada makna biasa yang menjelaskan sosok yang spiritual yaitu yang “memperoleh bimbingan yang benar”, yang telah menerima secara aktif dan mencerap tataran isyarat Ilahiyah dalam kehidupan yang paripurna.

 

Bahkan dalam banyak hal penerima itu sendiri sebagi “al-Mahdi” merepresentasikan Kehidupan dalam seluruh tatanan realitas karena cerapannya mewakili pengalaman  Isra dan Mi’raj Muhammad SAW. Namun, tentu saja, aktualitasnya berdasarkan potensi-potensi dasarnya yang sesuai dengan ruang-waktunya, sunnatullahNya, dan tentunya berbeda dengan pengalaman Nabi Muhammad SAW di zamannya.

 

Dalam bentuknya yang kongkrit dan umum, al-Mahdi sebenarnya Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan Allah, serta mengikuti sunnatullrasul dengan taqwa. Jadi, apa yang disebut al-Mahdi secara umum sebenarnya adalah  Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan-Nya sebagai Pewaris Pengetahuan Tauhid melalui washilah Nabi Muhammad SAW sebagai gurunya. Karena itu, adalah kemustahilan kalau al-Mahdi justru menyimpang dari ajaran Islam dimana Shalat merepresentasikan Namaz, Miraj, Iman, Islam dan Ihsan sebagai penyaksian dan aktualitas Jamal dan Jalal Allah dengan syahadat :

 

Laa ilahaa illaa Allah, Muhammadurrasulullah

 

Dan tidak ada tujuan lain bagi semua makhluk ciptaan Allah kecuali  hanya menjadi saksi dan menyatakan kembali Jamal dan Jalal Allah dengan kalimat syahadat tersebut. Maka , ia yang mengaku menjadi Utusan Tuhan dengan istilah apapun, apalagi mengabaikan kalimat syahadat dan shalat , serta tidak memenuhi syarat dasar sebagai yang terbimbing dengan benar dengan berserah diri sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan HANYA bergantung pada Pertolongan Allah semata tidak lain adalah Tukang Kibul atau Orang yang terkelabui oleh nafsu ibadahnya sendiri. Individu demikian, dalam sejarah gnostis seringkali dikiaskan dengan gambaran nafsu yang liar dengan pengibaratan klasik yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno yaitu gambaran “nafsu keanjingan” atau DOG yang direfleksikan menajdi “GOD”. Gnostikus alfabet pencipta kata DOG mungkin sangat kenal dengan idiom terselubung yang menjadi nama umum dari tuhan alias dog tersebut. Di Indonesia kita pun memunculkan nama umum Pencipta menjadi “tuhan” dari kata “hantu” yang tidak jelas bentuknya namun seringkali digambarkan sebagai ungkapan “rasa takut karena ketidaktahuan”. Kisah Siti Jenar di tanah Jawa yang dibunuh oleh Wali Songo dan kemudian dikisahkan menjadi anjing, adalah contoh kearifan lokal yang melihat potensi bahaya ketika kondisi psikologis seseorang yang bersifat individual mencuat menjadi egosentrisme “manunggaling kawulo gusti” sehingga muncul menjadi pengajaran yang membawa kesesatan ketika dinyatakan secara komunal di masyarakat yang belum siap untuk menerima ilmu yang benar.

 

Tak ada parameter lain selain kalimat Syahadat dengan Islam sebagai adab manusia yang utuh (waras, sehat lahir dan batin) sebagai syarat untuk menilai seseorang maupun suatu kaum telah berlepas diri dari Rahmat Allah. Jadi, silahkan Anda mengambil sikap apakah masih Islam atau malah berlepas diri dari Rahmat Tuhan untuk menampilkan Murka-Nya dan Asma-Nya Yang Maha Menghinakan.

 

Proses Pencarian, Diantara Kegagalan dan Keberhasilan

 

Di setiap zaman, seperti dituliskan dalam paragraf awal tulisan ini, klaim kenabian, kerasulan maupun kewahyuan selalu akan muncul. Hal ini tidak saja terjadi dalam agama Islam, namun agama samawi lain yang mengimani adanya kemahdian atau mesianisme pun ada (Yahudi dan Kristen). Bahkan pengajaran yang didasarkan pada kebajikan timur seperti Hindu, Budha, Zen, atau pun ajaran yang lainnya gagasan mesianisme dapat ditemui.

 

Dalam banyak aspek, kasus-kasus yang melibatkan suatu klaim spiritual ataupun klaim yang berhubungan dengan proses perjalanan ruhani akan selalu muncul di setiap zaman. Baik pada akhirnya muncul menjadi suatu komunitas kecil maupun komunitas besar harus disikapi sebagai suatu proses pencarian dengan tahapan-tahapan pemahamannya masing-masing.

 

Yang penting dan perlu diperhatikan karena itu adalah pada aspek2 praktek kehidupan yang merefleksikan kehidupan yang real dan nyata bukan eksklusif, tertutup, picik dan egosentrik; atau praktek yang justru menjadi sumber masalah karena melakukan klaim sepihak dan hujatan sepihak atas penganut agama lain atau ajaran lain yang kemudian disebarkan sebagai suatu anjuran. Yang terakhir ini memang patut ditindaklanjuti lebih jauh oleh pihak yang berwenang supaya tidak terjadi keresahan di masyarakat, ataupun ditunggangi untuk kepentingan tertentu, baik kepentingan politik kekuasaan, ketenaran semata, atau motivasi menyimpang lainnya.

 

Ungkapan2 klaim Imam Mahdi atau mesianisme lainnya akan selalu berulang dan lucunya pada orang atau kelompok tertentu “yang kurang sadar telah membentur tembok kelemahan dirinya sendiri, baik kelemahan pengetahuan maupun akalnya” akan muncul dilema mentality-disorder dimana mereka akan terjebak dalam tempurung prasangka nafsunya. Misalnya terjebak dalam sifat kekanak-kanakkan yang tak pernah direalisasikan (menjadi raja-rajaan dll), impian yang menjadi obsesi (misalnya bermain musik, melakukan ritual khusus, dll), bahkan menjadi megalomania yang melampaui batas (misalnya menjadi firaun, hitler, dll). Tentu saja setiap klaim akan muncul merasa paling pantes, paling benar, paling paling kuno, paling baru atau panghebatna, padahal isinya kalau direnungkan lebih dalam akan sama saja. Bahkan kalau lebih dalam lagi akan terlihat titik balik dari kebenaran yang akhirnya justru berbelok menjadi penyimpangan atau ketersesatan.

 

Setiap zaman hanya bahasa dan prakteknya saja yang beradaptasi sesuai lingkungan hidup dan waktu hidup karena jika tidak demikian maka kelompok manusia tersebut justru menentang perubahan arus waktu dan menjadi egosentrik, mengucilkan diri, atau maunya paling benar sendiri, karena terjebak dalam limbo sejarah atau impiannya.

 

Pada akhirnya ajaran ini berpotensi merusak dari dalam karena jika tidak punah mungkin akan terjadi perpecahan sendiri karena dalam kelompok kecil tersebut ada yang merasa menjadi “pang pinterna” atau menjadi “paling hak untuk penguasa ilmu tersebut” karena merasa paling dekat dengan Tuhan.

 

Dan sikap tersebut kelak muncul menjadi benteng feodalisme pengetahuan dengan potensi korup, manipulatif, dan menipu diri sendiri dengan membangun imej dan imajinasi yang terdistorsi.

 

Contoh bagaimana komunitas2 keyakinan berkembang di Indonesia maupun wilayah lainnya dengan “mengucilkan diri” bagi saya justru menampakkan kejahiliyahan ajaran tersebut karena tidak selaras dengan hukum Pencipta yang mutlak yaitu inharmonia progressio, adaptabilitas, perubahan, atau kehidupan yang mesti sesuai dengan ruang waktu dan zamannya atau sesuai dengan sunnatullahNya, dan mestinya bisa dipaparkan bagi semua orang (knowledge for everyone) tanp aharus memaksa orang lain untuk ikut, tanpa harus mengiming-imingi dengan rayuan gombal, apalagi memaksakan kehendak dengan memfitnah umat yang tidak sepaham.

 

Akibat langsungnya muncul eksklusifitas, ketertutupan dan akhirnya tentu justru menjadi emotional blocking yang berlebihan ketika memandang satu masyaralat lain yang tidak mau mengikuti ajarannya, ketika melihat yang lain berkembang pesat, misalnya menjadi antipati dengan ajaran Islam, Kristen, dll. Kelemahan ajaran-ajaran yang bersifat eksklusif inilah yang akhirnya justru menampilkan perilaku yang akhirnya merugikan diri sendiri dan orang lain, dan menjadi sumber masalah sosial. Jadi bukan semata-mata tidak diberi kesempatan atau tidak, tapi memang pada dasarnya ada “mental blocking dan kurang mau bertanggung jawab secara personal maupun kolektif” dan tidak mau melihat kenyataan hidup yang berjalan. Akhirnya kelompok eksklusif ini terbelenggu kedalam lingkaran tertutup kepicikan dan egosentrisme komunal yang over dosis dan merugikan diri sendiri, menjadi penyaru yang ahli, dan tentu memunculkan sikap terselubung yang tidak transparan bahkan akan muncul kesan licik, aneh, bahkan akhirnya memang bisa muncul kegilaan massal yang diselubungi sikap yang nampak baik hati tapi penuh kepalsuan, bahkan cenderung menipu.

 

Jika sikap egosentris berlebihan yang muncul maka tentu yang muncul adalah ajaran-ajaran yang nampak sepintas prinsipnya diatas kertas nampak seperti benar tapi pada prakteknya tidak proporsional karena tidak mampu beradaptasi dengan zaman dan lingkungan. Ajaran Lia Eden, Madrais, Mahesa, dll pun akhirnya memang terpuruk kedalam penjara kebenarannya sendiri seperti hari ini kita lihat.

 

 

Mengatasi Permasalahan Umat

 

 

Di zaman yang sudah berkembang pesat, pengetahuan mudah diakses, dan kini kita memasuki masa tranformasi zaman yang lebih baru ini barangkali ada perlunya lembaga ataupun organisasi yang mengurusi soal keyakinan seperti MUI mempunyai suatu badan khas lintas agama dan keyakinan yang bertugas tidak sekedar mengeluarkan fatwa halal dan haram semata tanpa mengupas inti permasalahannya yaitu psikologi manusia yang berhubungan dengan perjalanan ruhani.

 

Disini peran lembaga atau badan tersebut tidak sekedar melakukan dialog semata atau menghakimi semata, tetapi juga melakukan pengujian atas klaim seseorang atau sekelompok orang dengan konsep, model, dan metodologi yang baku yang berhubungan dengan potensi-potensi manusia secara psikologis ketika melakukan prosesi pencarian kebenaran, perjalanan keruhanian, penyucian jiwa, ataupun katakan saja suatu fenomena kenabian dan kerasulan.

 

Lembaga atau badan ini tentunya mempunyai sumber atau cara secara metodis yang dapat dipercaya dan benar-benar teruji sehingga klaim seseorang dapat disimpulkan benar atau tidaknya, dan dapat diuraikan baik bagi kepentingan individu atau pelaku yang merasa menerima wangsit, wahyu, ataupun sejenisnya.

 

Hal ini perlu dilakukan karena zaman sudah berubah. Pengetahuan gnostis bukan lagi suatu rahasia tapi sudah bertebaran di internet, ataupun di pustaka-pusataka yang mengkaji masalah tersebut, baik secara ilmiah ataupun tidak. Pengetahuan gnosis atau keruhanian dari membaca buku sifatnya artifisial sehingga berpotensi salah tafsir apalagi kalau di pembaca tidak mepunyai pengalaman langsung. Karena itu klaim-kaim kenabian maupun kerasulan perlu diuji  kebenarannya yang didasarkan pada suatu ukuran yang sahih dimana ukuran ini mengandung kebenaran universal namun juga kebenaran dari pengalaman langsung tersebut, bukan sekedar karena membaca kitab-kitab tapi juga membaca kitab kehidupan yang nyata yaitu akhlak dan perilaku kita sendiri.

 

Disini cabang keilmuan yang perlu dikuasai adalah parapsikologi, psikologi manusia khususnya untuk bagian mentality-disorder, psikologi tranformasi yang belakangan ini berkembang pesat, tasawuf dan tentunya ilmu keagamaan sendiri sebagai suatu sistem keyakinan. Bagaimanapun juga perlu bimbingan bagi mereka yang merasa mendapat wangsit agar tidak menjadi sesat jalan ataupun menyesatkan orang lain yang tidak paham, atau terjebak dan terpesona dengan keajaiban-keajaiban misalnya keajaiban penyembuhan, pencarian kekayaan, dll.

 

MUI sebagai lembaga resmi dalam agama Islam, ataupun departemen agama secara umum, saya kira perlu mempunyai bagian atau divisi khusus seperti itu sehingga kekacauan yang terjadi ataupun kekeliruan yang berkembang di masyarakat karena egosentrisme kekanak-kanakkan yang mencuat menjadi klaim keagamaan atau keyakinan tidak meresahkan ataupun tidak mendiskreditkan suatu agama maupun keyakinan lainnya yang sudah diakui. Jalan keluar pun harus diberikan bagi seseorang atau kelompok yang mengalami dilema psikis keruhanian ini. Jadi, solusinya bukan sekedar mengeluarkan fatwa halal, haram atau pelarangan semata. Tapi benar-benar solusi yang bisa membimbing kembali dan mendudukkan kondisi kejiwaan pelaku pada posisi yang benar dan tidak terus menerus kumat lagi kumat lagi (bhs cirebonnya mungkin bisa disebut mabok maning mabok maning) karena solusi hukum yang diterapkan tidak tuntas mengatasi permasalahan pokoknya yaitu masalah psikologi manusia dengan dilema was-washilkhonnas-nya.

 

Metodologi baku untuk menguji mentalitas dari pelaku ruhani sebenarnya ada di Al Qur’an sebagai suatu rangkaian surat yaitu surat no 109 sampai 114. Perinciannya bisa diuraikan dari surat-surat lainnya seperti surat al-Kahfi, surat al-Rahmaan, surat asy-Syams dll. Jadi, sebenarnya ada cara untuk menguji klaim-klaim keruhanian apakah benar atau tidak. Dari sisi psikis yang lebih umum (tidak tergantung apa agamanya) tentunya banyak cara seperti itu karena pengalaman ruhani sudah dikaji sejak dulu oleh Carl Guztav Jung, Sigmun Freud, dan peneliti psikologi lainnya. Agama lain pun saya kira ada bagian-bagian yang bisa digunakan sebagai ukuran atau penilaian khusus sesuai dengan agama tersebut, baik Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Zen dll.

 

Tanpa adanya badan khas yang mengkaji masalah umat dengan cara yang lebih metodis, saya kira kumat-kumatan dari klaim kenabian, kerasulan atau sejenisnya akan selalu mencuat dan sedikit atau banyak, selain menjadi tontonan masyarakat,  bisa jadi berkembang menjadi keresahan di masyarakat.

 

Jadi, saya kira sudah waktunya lembaga resmi yang menaungi urusan keagamaan dan keyakinan mempunyai cara-cara yang lebih metodelogis dan manusiawi bukan asal tembak halal dan haram semata untuk mengatasi persoalan tersebut. Pendekatan konseling seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Mubarok MA (http://mubarok-institute.blogspot.com) saya kira perlu dipertimbangkan sebagai model untuk membangun lembaga yang lebih resmi dari pihak departemen agama untuk mengatasi kasus-kasus ala Lia Eden dan pengikutnya. Pendekatan hukum positif dalam banyak hal justru akan mengundang kontroversi yang berkelanjutan karena tolok ukur dan penilaiannya tidak tepat dan tentu saja melibatkan para ahli hukum yang sebenarnya bisa dikatakan menjadi bagian kelucuan dan keluguan juga ketika meninjau persoalan yang bersifat psikis dan ambigu tersebut. Persoalan ruhani memang sifatnya pribadi karena sejatinya mencuat dari egosetrisme kita sendiri, baik ego kekanak-kanakkan dengan bermain tuhan-tuhanan dan kerajaan-kerajaannya, ataupun egomaniak menjadi firaun-firaunan yang mungkin jika diekspos dengan sengaja atau terekspos bakal jadi bahan berita di masyarakat alias menjadi hiburan dibalik kegetiran kita sebagai umat manusia ketika berusaha mencari, mengenal siapakah diri ini dan siapakah Tuhan itu, dan dibalik kerinduan kita semua yang maunya mencari tahu siapakah manusia atau sosok yang perlu diteladani dengan tulus? Jadi, kita semua seringkali lupa kenapa bukan kita sendiri yang menjadi teladan? Kenapa harus menunggu orang lain? Ini memang ibarat ujian soal guru sekolah menengah yang lalu yang kebanyakan (menurut kabar Koran Tempo) menjawab salah ketika diajukan pertanyaan “kalau ada 10 orang main petak umpet, 3 orang sudah ditemukan, berapa lagi yang belum ditemukan?” Ternyata banyak yang menjawab 7, si pencari lupa kalau iapun bagian dari permainan petak umpet tersebut. Itulah dilema kesadaran manusia yang seringkali lupa dan lalai kalau dirinya bisa berbuat baik dan menjadi teladan bagi manusia lainnya dengan kesadaran yang sadar bukan kesadaran yang lupa daratan apalagi lupa ingatan alias edun beneran.

 

Atmnd114912

 

 

Revisi terakhir hari ini tanggal 16-12-2008 jam 6:26 pagi.

 

Untuk kajian yang lebih komprehensif, silahkan merujuk ke tulisan saya yang dapat diunduh di www.scribd.com dengan judul “Menelanjangi Nabi dan Rasul Palsu”.

 

Artikel ini berada dalam naungan Creative Common License, dapat didistribusikan secara bebas melalui media dijital. Pengutipan diperbolehkan denagn menyebutkan sumbernya.

 

Tulisan versi sebelumnya dapat dilihat di blog http://atmonadi.wordpress.com atau http://atmoon.multiply.com

 





Pancaroba

15 12 2008

Belakangan ini gw memang lagi males tulis menulis. Sebabnya ya karena lagi bener-bener loyo aja setelah dua minggu di dera flu. Yang jelas bukan flu burung soalnya kalao kena flu burung mungkin gw sudah wassalam.

Flu biasa saja, siklus yang muncul setahun sekali di musim pancaroba. Penyakit ini memang nampaknya erat kaitannya dengan perubahan cuaca. Flu memang sering mampir padaku kalau perubahan cuaca mulai terjadi. Entah sejak kapan virus flu itu ngendon di badan gw. Yang jelas sejak SMA kebiasaan flu-ku tidak berubah, dia datang pas pergantian musim yg sering disebut Pancaroba. Dari musim panas ke dingin atau mau masuk penghujan. Tanpa ba bi bu lagi dua hari sebelum libur lebaran idul adha tubuhku mendadak lemes bgt. Benar saja, esoknya aku k.o. di rumah kena pilek dan meriang. Mau ngajar juga gak jadi. Tiga hari libur pun akhirnya lewat begitu saja sambil merenungi nasib kena flu dan pilek.

Sebenarnya pilekku nggak benar-benar berat, biasanya dengan inza dua butir dan dibawa tidur langsung segar kembali. Tapi entah kenapa flu kali ini agak bandel sedikit. Jadi dua minggu ini badanku masih merasa gak fit juga. Badan malah berasa dingin ketika di terpa angin di luaran. Hidungku malah mulai meler dengan ingus yang tiba-tiba keluar masuk lubang hidung, kaya malu-malu mau menengok dunia luar.

Selama dua minggu yang merana itu aku malah lebih banyak membaca-baca saja. Atau menyimak tv. Di tv dan koran-koran gelora perubahan cuaca mulai kelihatan, ada banjir, rob, longsor, dll. Tentunya selain gelora yang bukan cuaca, kelakuan tak kunjung usai kelangkaan elpiji, krisis yang masih berlanjut, plirak-plirik dan kasak kusuk politikus menjelang pemilu, pengharaman golput, dan Lia Eden dilaporkan kumat lagi dan tentu saja ditangkap Polisi lagi. Wah emang musim sedang bergonta-ganti memasuki penghujan meskipun ada pula kebiasaan yang tak pernah berganti seperti kelangkaan elpiji ataupun ngaku dapat wangsit dari Tuhan. Ahh, sebodo amat, yang penting sekarang badan gw sudah mulai berasa enak.Tandanya ternyata gampang, gw jadi suka makan. Entah ini tanda sehat atau emang doyan makan beneran gw gak tahu. Yang penting sehat.

===

Brrrr..rada kagok nih buka WP, tampilannya baru sih WP 2.7