Selama perkembangannya, agama kemudian disebut sebagai “religion”, suatu keyakinan dimana orang tidak mesti harus membuktikan keyakinannya itu karena sudah menjadi suatu syarat dasar.

Dalam agama Islam, hal ini dipertegas dengan syarat dasar keimanan sebagai Umat Agama Islam yaitu Syahadat dengan Rukun Iman dan Rukun Islam, dan kemudian menjadi Ihsan, dengan ilmul yaqin, ainul yaqin dan al-haq al-yaqin.

Selama seseorang meyakini tanpa perlu membuktikan dulu syarat tersebut maka tugasnya sebenarnya hanya menjalankan syariat, hakikat dan thariqat agamanya. Seluruh hukum tentang semua itu kemudian disandarkan pada prinsip-prinsip dasar keyakinannya. Dalam agama Islam tentunya prinsip dasar itu tidak lain adalah Syahadat yang menjadi awal dan akhir, lahir dan batin, dan meliputi segala pemahaman yang bisa dinyatakannya.

Akan tetapi, lama kelamaan orang yang beragama Islam harus menyadari bahwa ada akhirnya ia memerlukan suatu penjelasan rasional maupun intuitif kenapa ia meyakini Islam. Tentunya tidak semua orang memasuki wilayah pertanyaan ini karena pada umunya orang menerima agama sebagai “warisan” dari kedua orang tuanya.

Mereka yang akhirnya mempertanyakan keberagamaannya merupakan suatu hal yang wajar karena pengalaman hidupnya mengajarkan dan menyerap secara intuitif bagaimana orang yang mengaku beragama berperilaku dan bagaimana nilai agama yang mestinya ia nyatakan.

Ketika kontradiksi terjadi antara pelaksanaan rukun agama, pernyataan rukun agama menjadi akhlak, dan akhirnya tindak-tanduk nyatanya di dunia maka benturan terjadi antara apa yang mesti dan apa yang dialami, baik langsung maupun tidak. Seseorang akhirnya memasuki wilayah pertanyaan-pertanyaan yang mesti ia tahu jawabannya sebagai perjalanan menembus tabir kebenaran agama maupun sains, dan menembus tabir realisasinya yang benar sebagai umat beragama.

Tanpa keberanian iuntuk mempertanyakan dan mencari jawaban maka seseorang akan menjadi apatis dan akan membandingkan tuntunan agama dengan perilaku oknum beragama seolah-olah keduanya sudah sinkron sehingga orang dapat terjebak pada pemikiran picik bahwa “orang yang mengaku beragama Islam otomatis perilakunya menunjukkan nilai-nilai Agama Islam” . Asumsi ini bisa menjadi fatal bagi Agama Islam sendiri dan menjadi sumber permasalahan manusia ketika menilai dari perbandingan yang semestinya tidak boleh langsung dilakukan, yaitu kesebandingan antara isi ajaran dan pemeluknya yang mempunyai potensi berbeda-beda dalam memahami ajaran agamanya.

atmnd114912, 30/4/2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s