Urusan perut memang beda dengan nasionalisme, makanya kalau ada pakar atau ilmuwan yang ngomong soal perut rakyat saya katakan dia pasti buta.

Urusan perut rakyat tingkatnya bukan lagi untuk di omongkan tapi di wilayah praktis. Nggak lucu kalau hari ini rakyat lapar dan masih didzalimi sementara kita mau ngomong tentang Indonesia di wilayah wacana kok yang diomongin perut rakyat.

Perut rakyat bukan wilayah wacana lagi, tapi wilayah praktis, wilayah kesegeraan , wilayah tindakan, jadi tidak perlu diilmiahkan dan diomongkan apalagi didiskusikan berlarut-larut.

Di ruang diskusi kita sebenarnya ngomong untuk urusan nanti berdasarkan fakta hari ini bahwa kenapa rakyat masih kelaparan. Jadi, kalau ada ilmuwan mau ngomong nasionalisme di depan rakyat saya bilang gendeng dan tolol. Soale nasionalisme itu bukan wacana rakyat tapi wacana para intelektual yang memang sudah kewajibannya untuk menyumbangkan pikiran dan tindakannya bagi masa depan bukan masa kini.

Kalau urusan nasionalisme disatukan dengan urusan perut di tempat yang sama yaitu diskusi jelas saja jadi lucu. Isunya malah nampak betapa konyolnya para akar kita tak bisa membedakan kapan harus ngomong taktis dan kapan ngomong stategis, kapan bertindak dan kapan memang harus ngomong doang.

Kalau di forum diskusi seperti ini omongannya omongan praktis, ya namanya keblinger karena tujuan diskusi hari ini bukan mencari solusi praktis pragmatsi seolah-olah dukun togel yang menginfromasikan “besok nomor ini keluar”. Perut rakyat hari ini tidak butuh wacana tapi butuh sumbangan langsung berapa rupiah, berapa kg beras, gula, selimut dst.

Dalam diskusi-diskusi yang semestinya membicarakan isu strategis, kita seringkali terjebak dalam isu praktis. Kebutuhan keseharian mestinya sudah bukan levelnya menjadi bahan diskusi. Level praktis adalah tindakan tanpa diskusi tapi tindakan dengan panduan hasil diskusi yang semestinya sudah dilakukan sekian tahun yang lalu. Nyatanya kalau sampai hari ini kita mestinya ngomong hari depan, tapi dicampurkan dengan kondisi hari ini, ya kagak nyambung. Kenapa kelompok orang yang mestinya bisa membedakan kapan bertindak , kapan berwacana, dan kapan mengevaluasi kok nampak seperti diskusinya anak-anak SD? Ada apa di pikiran para ilmuwan, intelektual, dan orang-orang yang jago diskusi?

Diskusi Kapiran

Forum Diskusi adalah suatu forum yang membicaran suatu keadaan, baik yang masih terjadi maupun sesuatu keadaan yang ingin dicita-citakan. Dalam forum diskusi dengan suatu misi khusus misalnya “Mencari Indonesia?” atau “Mau kemana Indonesia Pergi” atau yang sejenisnya, maka yang dibicarakan sebenarnya adalah masalah strategis bukan masalah yang saat ini masih nampak.

Masalah strategis dirumuskan dari kondisi hari ini yang sebenarnya sudah diomongkan beberapa waktu sebelumnya sebagai wacana. Jadi, dalam forum diskusi ada evaluasi dari tindakan, kenyataan dan apa yang perlu diubah di masa depan, Kalau dalam diskusi diomongkan urusan perut rakyat yang lapar hari ini, tentunya topik itu menjadi rancu karena urusan perut rakyat adalah wilayah praktis, bukan diskusi.

Yang didiskusikan paling banter evaluasi hasil dari program2 kerja yang berhubungan dengan perut rakyat yang nampaknya hasilnya tidak baik. Tentu saja tidak baik karena setiap kali diskusi para peserta sok merakyat dan sok ngrasain penderitaan rakyat tapi hasil diskusinya tak pernah diterapkan sebagai suatu program nyata.

Walhasil, ketika diskusi baru dengan judul baru dilakukan sekian tahun kemudian yang diomongin justru masih urusan perut rakyat dengan menganggap isu strategis tapi penting. Padahal disinilah masalah pakar indonesia yang seringkai terjebak kekinian, seolah menyelesaikan masalah ternyata masalahnya tak selesai-selesai karena sasaran tembaknya di masa depan tidak jelas dan enggan dirumuskan ulang, bahkan tak pernah mau dilaksanakan.

Ini memang mirip orang ribut-ribut banjir tiap tahun, wara-wiri menggalang bantuan dan dana, tapi masalahnya tidak pernah diselesaikan karena membiarkan penyakitnya terus hidup.

Rakyat tentu saja nggak perlu ikut-ikutan ngomongin nasionalisme dengan serius, pokoknya ngikut aja, toh urusan itu sudah berada ditangah mereka yang kompeten dan tertarik untuk membahasnya. Kecuali memang ada rakyat yang jenius lalu ngirim tulisan atau berkomentar yang barangkali lebih baik dari para pakar, maka boleh sajalah rakjat itu nimbrung. Masalahnya, seringkali para pakar tidak pernah menganggap suara rakyat tapi sok merakyat dan akibatnya terjadi kelucuan. Si pakar lupa pada posisi dirinya yang mestinya menjadi pemikir bagi rakyat tapi ikut-ikutan sok kelaparan dan sok berempati. Hasilnya, tak ada penerapan praktis dari setiap diskusi strategis. Rakyatpun tak pernah serius menanggapi hasil diskusi dan seminar tentang isu apapun juga. Paling banter ngedumel, Alah wong levelnya berhenti cuma sebatas OMDO kok bukan praktis. Walhasil setiap tahun diskusi selalu menyoal perut rakyat hanya sekedar nampak supaya merakyat saja.

atmnd114912, tulisan ini lupa tanggalnya, tapi kira2 beberapa bulan yang lalu

2 pemikiran pada “Nasionalisme, Perut Rakyat, dan Intelektualisme Kampungan

  1. Mereka (para pakar), sering mengatas namakan rakyat, menceritakan kemiskinan dan penderitaan rakyat dengan tersenyum, berjas dan berdasi…

  2. Yah itulah dilema karena pernah menjadi rakyat, lantas setelah jadi wakil rakyat malah lupa yang diajnjikan dan yang mengamanahi. Mungkin ada segelintir orang yang sadar tapi amat sedikitnya sehingga suaranya jadi mendem…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s