BLT atau Bantuan Langsung Tunai merupakan istilah lain dari uang kompensasi kenaikan BBM. Programnya direncanakan untuk kalangan tidak mampu. Masalahnya, program instan ini nampaknya malah bisa menjadi bumerang karena sangat rentan dengan manipulasi dan dapat mengundang konflik antar orang yang merasa berhak menerima BLT dan yang tidak menerima tapi merasa layak menerima.

Kekhawatiran ini disinggung oleh salah satu pembaca Koran Tempo hari ini (19/5) dan juga keengganan RT, RW, lurah sampai Walikota untuk menyalurkannya karena merasa tidak siap sedia. Pasalnya, kata mereka di koran Kompas hari ini (19/5), data penduduk miskin yang layak menerima BLT 100 ribu per bulan selama setahun belum diperbarui. Selain itu data dari BPS dan yang ada di tangan para lurah serta instansi lain yang terkait masih banyak perbedaan.

Baik pembaca Koran Tempo maupun berita Kompas sebenarnya mengkhawatirkan hal yang sama bahwa bisa mengundang konflik horisontal jika dilaksanakan terburu-buru sebatas meredam gejolak panasnya kenaikan BBM. Kekhawatiran ataupun keberatan Ini wajar saja mengingat, dimasa yang susah ini, rakyat yang mulai menuju titik nadir gampang lupa diri ketika melihat uang gratisan baik dari BLT atau program iming-iming lainnya.

Saya cenderung sepakat dengan kemungkinan yang diungkapkan oleh pembaca Koran Tempo maupun berita Kompas itu. Malah menurut saya, BLT sama sekali program yang tidak mendidik karena cenderung diadakan untuk menutupi kekeliruan pengelolaan BBM di segala bidang. Kekeliruan itui nampaknya dimulai dari eksplorasinya, produksinya, sampai distribusinya. Dengan kata lain, ada kesan BLT seperti pil koplo yang dijejalkan kepada rakyat supaya tidak marah atau batal untuk menjadi marah ketika BBM harus dinaikkan lagi.

Saya jadi heran, apa yang sebenarnya ada di pikiran para ekonom maupun ahli-ahli di pemerintahan, swasta, maupun akademisi, apakah memang BLT cara terbaik? Atau cara yang muncul karena kedunguan karena tidak mau melihat duduk persoalan yang sebenarnya?

Menyuapkan BLT ke rakyat yang kelaparan sepintas bisa mengatasi masalah. Tapi apa nggak sadar ya kalau itu hanya seperti Pil Koplo yang bisa membuat mabuk dan lupa diri yang sering dimakan anak SD sampai SMA (kalau sudah duduk di PT masih ngoplo mah keterlaluan dah) sampai hilang ingatan. Dan ketika mulai sadar lagi tahu-tahu BBM sudah naik, dan demikian juga barang-barang serta keperluan lainnya seperti transportasi, dan biaya-biaya pokok lainnya. Mungkin mereka memang lapar, tapi memberikan ikan bukan kail ikan bukan penyelesaian masalah.

Ahh, sampai kapan rakyat sadar kalau model BLT ini mirip model pencekokan hadiah di zaman raja-raja feodal dan penjajahan dulu untuk mengatasi kerusuhan karena rakyat kelaparan, ataupun model kolonial dengan menyediakan sarana hiburan murah semacam dombret dan tarian erotis yang jadi adat dan budaya yang akhirnya malah melenakan?

Bangsa ini masih perlu cambuk keras untuk bangkit dengan cerdas. Jadi, bukan hanya sekedar diserukan kembali, tapi benar-benar bangkit dari tidur panjang yang memabukkan dan melenakan, yang mengabaikan realitas sesungguhnya kalau negara ini diambang kebangkrutan karena salah urus yang dibiarkan berlarut-larut oleh para pamong prajanya yang malas belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu.

Masih maukah kita semua menenggak pil koplo rame-rame supaya golongan rakyat jelata tidak ngamuk karena BBM bakal naik, dan akan naik terus?

atmnd114912, 19/5/2005

Satu pemikiran pada “BLT Atau Pil Koplo?

  1. BLT?? saya rasa ini konyol, kayak tukang obat yang nyebarin penyakit, lalu ngejual obat penawarnya (eh bukan ngejual ding, memberi… biar dikira pahlawan, oh kacau!!!).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s