Ada statemen menarik di tengah hingar bingarnya kekerasan dan sengketa siapa menyerang siapa yang terjadi tanggal 1 Juni kemarin. Statemen itu diungkapkan oleh Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi kepada detik.com (http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/03/time/144220/idnews/949700/idkanal/10). Beliau menyatakan dengan kapasitasnya sebagai ormas besar Umat Islam bahwa baik FPI maupun AKKBB telah keliru ketika meletakkan Ahmadiyyah dalam masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan.  Statemen ini nampaknya dikeluarkan oleh beliau karena nampaknya kasus 1 Juni di Monas itu sudah melenceng kemana-mana. Apalagi ada upaya yang sangat jelas untuk menggunakan ormas-ormas NU sebagai alat pemukul FPI maupun ormas Islam lainnya.

 

Masalah Ahmadiyyah sebenarnya bukan masalah yang pelik asal saja para pembela dan yang mengusulkan pembubarannya membaca dengan cermat kisah Ahmadiyyah dari hulu sampai hilirnya. Namun, nampaknya emosi di kedua belah pihak lebih dulu mencuat ketimbang membaca dengan kritis dan mengambil kesimpulan yang tidak memihak (No Point Of View).

 

Saya setuju dengan pendapat Pak Muzadi yangkalau disingkat menjadi suatu statemen utamakalau “Ahmadiyyah adalah penodaan dalam agama Islam sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan”. Jadi, bukan masalah kebebasan beragama atau berkeyakinan tetapi upaya pembengkokkan nilai-nilai Islam dengan cara-cara yang tidak fair dengan memanipulasi ketidaktahuan masyatakat. Terutama masyarakat yang mengira dirinya membela kebebasan berkeyakinan dan berpendapat.

 

Ahmadiyyah dengan cara yang licin telah memanipulasi ketidaktahuan itu dan bersembunyi bagai kura-kura ninja untuk mengadu domba antar golongan, baik di dalam kelompok agama Islam sendiri maupun dengan kelompok lainnya yang notabene mengira mengusung kebebasan berkeyakinan dan beragama.

 

Kalau Ahmadiyyah mengaku berkeyakinan Islam tetapi menodai Islam dengan mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, tentu saja ini buka kebebasan berkeyakinan tapi penodaan keyakinan Islam yang hanya mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul terakhir. Kalau memang mau disebut sebagai bagian dari Umat Islam, keyakinan Ahmadiyah mesti terikat oleh aturan baku agama Islam yang sah dan diakui dimana parameter pokoknya adalah syahadat, rukun Iman dan rukun Islam yang jelas.

 

Jadi, selama Ahmadiyyah mengaku Islam, ia tidak bebas seenak udelnya sendiri mengubah keyakinan agama Islam. Apalagi kalau jumawa dengan berlindung, dan “mohon maaf” saya katakan “mendikte”  kelompok penganut kebebasan beragama untuk meneruskan niatnya mencederai keyakinan Agama Islam yang parameternya jelas.

 

Usul saya untuk mempertegas hal ini sebenarnya bagi pemerintah untuk segera mengambil sikap tegas soal Ahmadiyyah yang telah menyita sumber daya dan energi bangsa Indonesia yang semestinya digunakan untuk mengatasi KRISIS UTAMA :

 

         jangan pedulikan ancaman dari para pembela Ahmadiyyah yang jelas-jelas keliru menempatkan duduk perkara keyakinan Agama Islam maupun Ahmadiyyah sejak awal.

 

         Berikan opsi kepada penganut Ahmadiyyyah untuk menjadi bagian dari Umat Islam sebenarnya seperti Muhammadiyyah, NU, dan ormas lainnya, atau umat sendiri yang terpisah.

         Ubah tatacaranya memperlakukan dan mengelola masjid-masjid Ahmadiyyah serta fasilitas publik yang dimilikinya yang jelas-jelas tadinya bersifat eksklusif dimana hanya Umat Ahmadiyyah saja yang boleh sholat di masjid tersebut atau menggunakan fasilitas publik tersebut. Tidak ada dalam tradisi Islam seperti tradisi Kristen dimana orang hanya boleh beribadah di gereja tertentu saja. Setiap tempat yang suci menurut pandangan Islam adalah masjid. Jadi, tak ada masjid Ahmadiyyah yang ada hanyalah masjid Umat Islam.

 

        Al Qur’an versi Ahmadiyyah tidka sah sebagai pegangan, kalau perlu bakar semua Al Qur’an bersi Ahmadiyyah.

 

         Kalau tidak mau , maka Ahmadiyyah dilarang keras menggunakan label Umat Islam dan silahkan menggunakan label keyakinan dan kepercayaan sendiri misalnya Umat AHMADIYYAH ATAU UMAT GAJAH KECIL BERNAMA AHMAD. (Silahkan baca sejarah Nabi Muhammad asal mula nama Ahmadiyyah ini).

 

         Opsi lainnya silahkan dipertimbangkan sendiri.

 

Dengan pilihan tersebut, perkara Ahmadiyyah bagi Umat Islam maupun bagi Bangsa Indonesia  sudah jelas. Saya kira pemerintahlah yang harus jelas sikapnya dan mengupayakannya supaya masalah Ahmadiyyah, FPI versus AKKBB, dan kebebasan berkeyakinan dll. itu tuntas SUPAYA tidak dimanfaatkan oleh para oportunis politik yang matahatinya buta kecuali untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.

 

Saya kira itu usulan saya buat pemerintah sebagai rakyat jelata bangsa Indonesia yang beragama Islam sejak dalam kandungan.

 

 

Atmnd114912, rakyat Indonesia, 100 persen produk Indonesia, 3/6/2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s