”Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan Allah), mereka punya mata tidak untuk melihat (Tanda-tanda Kebesaran Allah) dan mereka punya telinga tidak untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai hewan bahkan lebih sesat, mereka itulah orang-orang yang lalai(lengah).” (QS.7:179).

 

Jahiliyah adalah satu kata yang mempunyai banyak arti. Secara literal, kata yang dikutip dari bahasa Arab dengan akar kata “Jahala” ini menurut beberapa penafsiran dapat diartikan secara harfiah sebagai “kebodohan” dari nilai-nilai kebenaran. Kebodohan yang dimaksud bukan “bodoh” sebagai “tidak tahu”, tapi lebih banyak “bodoh” tapi tak mau menerapkan “nilai-nilai kebenaran” yang sudah disampaikan sebelumnya (dalam hal ini di Arabia pra-Islam adalah kebenaran menurut tradisi Yudeo Kristen yang akhirnya malah banyak ditelikung oleh para penganutnya dari kaum Yahudi).

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online ternyata kata “jahiliyah” dianggap belum menjadi bagian bahasa Indonesia meskipun sudah menjadi bagian dari kosakata di berbagai artikel, tulisan, ataupun pembicaraan. Tidak ada penjelasan ketika kita masukkan kata “Jahiliyah” di situs KBBI yang ada adalah kata dasarnya yaitu “Jahil” yang diartikan sebagai bodoh; tidak tahu (terutama tentang ajaran agama).

 

Kiasan arti “jahiliyah’ seringkali disebut untuk merujuk kepada suatu masa yang disebut “kegelapan” atau “darkness” atau sesuatu yang diselimuti ketidakjelasan, baik sebab maupun akibatnya. Menurut literatur Barat, kata “Jahiliyah” sering dijadikan referensi untuk identifikasi masa sejarah di Arabia yang tidak jelas keadaannya atau “abad kegelapan ala Arabia”. Secara lebih spesifik, Sayyid Qutb mengartikan Jahiliyah sebagai “ketidaktahuan akan petunjuk ilahi” atau “kondisi ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan”. Umumnya, penggunaan kata Jahiliyah merujuk pada keadaan bangsa Arab pada masa masyarakat Arab pra-Islam yaitu sebelum diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Pengertian khusus kata jahiliyah karena itu sering dilekatkan pada keadaan seseorang yang tidak memperoleh bimbingan dari Islam dan al-Qur’an sebagai pedoman dan ukuran kualitas dari tatacara untuk menjalani kehidupan.

 

Menurut hemat saya, kalau dibandingkan antara satu pengertian dengan pengertian lainnya, meskipun sudut pandangnya beda, sebenarnya kata “Jahiliyah” merujuk pada suatu keadaan sosial yang meliputi individu maupun kelompok, atau suatu kaum , atau suatu masyarakat dimana saja (jadi  bukan hanya di Arab) dimana faktor yang diutamakan bukanlah berdasarkan pertimbangan sesuatu yang mengikat dengan adil dan seimbang baik secara individu maupun kolektif dan terverifikasikan secara ilmiah maupun intuisi yaitu akal pikiran dan hati. Dalam bahasa Arab, akal pikiran tidak lain adalah Aql yang berarti sesuatu yang mengikat atau mengendalikan supaya tidak melampaui batasan-batasan yang jelas. Sedangkan hati seringkali disebutkan sebagai Qalb tempat dimana Cahaya Pengetahuan Ilahiyah mampu mengartikan dan menaknai kebenaran dengan ilmul yaqin, ainul yaqin, dan al-haqq al-Yaqin. Hal ini tentu saja kelak setelah diuraikan dan dijabarkan akan berkaitan dengan penggunaan suatu konsensus bersama yang dipatuhi secara formal sebagai batasan dan ukuran kesahihan oleh banyak orang, dengan berbagai suku bangsa maupun keadaannya, baik miskin maupun kaya, bangsawan maupun rakyat jelata dan harus dipatuhi. Jadi arti “Jahiliyah” erat kaitannya dengan penegakkan hukum yang adil dan seimbang dalam suatu masyarakat yang tertata dengan suatu ikatan khas misalnya suatu “agama” atau “keyakinan” yang dipatuhi secara mutlak karena dasarnya bukan lagi logika maupun intuisi tapi “keimanan sebagai anugerah dan hidayah Ilahi yang menjadi sistem keyakinan”. Karena itu, “Jahiliyah”  dapat juga diartikan sebagai suatu gambaran masyarakat yang tidak mengindahkan aturan yang berlaku dan disepakati.

 

Dalam banyak penerapannya di kemudian hari dari akar jahal  menjadi Jahiliyyah ini maka penggunaan kata maupun istilah Jahiliyah erat kaitannya dengan suatu ungkapan yang berhubungan dengan masa kegelapan; masa dimana kebodohan, amarah, pergerakan sektarian, komunal, ataupun solidaritas sosial hanya disandarkan pada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Baik kelompok itu berupa suku, kelompok perampok, bajak laut, pemberontak, tentara bayaran, para pedagang, para pengantar barang, pengembara berkelompok yang campur baur, maupun kelompok yang lebih besar yang terdiri dari kabilah-kabilah atau suku-suku yang tadinya bercerai berai. Karena itu, penggunaan kata Jahiliyah erat kaitannya dengan kondisi psikologis atau akhlak dari seseorang atau suatu kaum yang merefleksikan perbuatan-perbuatan yang tercela dan mempunyai kecondongan merugikan. Baik merugikan dirinya sendiri, maupun merugikan masyarakat banyak karena sandaran utama kejahiliyahan adalah kepentingan pribadi semata atau egoisme semata.

 

Transformasi Dari Kejahiliyahan

 

Kejahiliyahan akan mengalami transformasi setelah ada setitik cahaya yang mulai muncul. Tentunya menerangi kegelapan bagai kelap kelip bintang yang meledak (Supernova) sekian juta juta juta tahun yang lalu yang cahayanya baru sampai di mata, menggerakkan neuron-neuron di otak menjadi buah-buah hikmah, dan menjadi suar di hati yang diselimuti kegelapan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat. Baik manfaat itu dirasakan di dunia yang fana maupun akhirat kelak, yang tak terbayangkan bentuknya kecuali dari fakta-fakta nyatanya yang dipantulkan di dunia menjadi aturan main Pencipta yang dikenali oleh manusia berakal pikiran dengan hati yang jernih. Titik terang yang muncul mulai menerangi kegelapan itu pun kemudian semakin membesar. Karena sifat cahaya memang membesar ke segala arah, maka penghapus kejahiliyahan adalah Cahaya Ilahi. RA Kartini dengan manis kemudian mengungkapkannya sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

 

 

Kenyataan demikian tidak lagi memerlukan bukti, dalil maupun fakta yang harus dicari-cari lagi. Adanya cahaya akan menghapuskan kegelapan. Mulai dari penciptaan alam semesta sampai “Game” komputer genre “Rise Of Nations” buatan Microsoft, cahaya yang membuka kegelapan merupakan suatu kenyataan sehari-hari. Meskipun begitu, sejarah ternyata mencatat juga kalau tidak semua cahaya yang menerangi kegelapan bisa menjadi suluh petunjuk. Karena boleh jadi kelompok yang diterangi cahaya itu adalah kelompok orang-orang yang buta sekaligus dalam kegelapan misalnya cahaya lampu diskotik yang gemerlap-gemerlip malah bisa membuat orang lupa diri. Buta dalam kegelapan karena itu bukan buta secara harfiah semata dimana matanya tidak bisa melihat cahaya. Tapi yang gawat adalah buta fisik, buta matahatinya dan buta pikirannya. Kalau buta fisik, mungkin tak terlalu membahayakan, tapi kalau buta matahati dan pikirannya akan muncul dua kemungkinan yaitu kekerasan dan amarah secara individual maupun kemudian meluas menjadi kekerasan dan amarah karena dipupuknya ekslusifitas jahiliyah, solidaritas jahiliyah, solidaritas masa kegelapan yang berbahaya dimana sandaran utamanya adalah OTOT, DARAH, dan EGOSENTRISME ala Fir’aun. Baik berbahaya dalam skala lokal, maupun nasional, buta jenis terakhir ini nampaknya melanda di semua kalangan masyarakat modern di Indonesia. Dan bukti untuk menyatakan kesimpulan demikian sebenarnya sudah lama ada namun enggan diakui, apalagi dielaborasi lebih jauh untuk menghapuskannya atau mencari pemecahan masalahnya, tapi malah dibiarkan berlarut-larut seperti virus yang menggerogoti Ibu Pertiwi.

 

Kesaktian Pancasila Versus Kejahiliyahan

 

Peristiwa 1 Juni 2008 yang sering disebut KEKERASAN itu tak lain adalah produk  KEKERASAN JAHILIYAH, EKSKLUSIFITAS JAHILIYAH DAN SOLIDARITAS JAHILIYAH dari banyak pihak yang keliru menempatkan permasalahan Umat Islam dalam kerangka nasional NKRI. Namun, sayangnya, EKSKLUSIFITAS JAHILIYAH DAN SOLIDARITAS JAHILIYAH ini tak pernah dibahas di koran dan TV meskipun sangat nyata telah terjadi dan dibiarkan seolah-olah tak terjadi di NKRI ini yang mempunyai dasar ideologis berupa sila-sila yang terkait erat dengan pokok-pokok utama dari pengungkapan tabir suatu kaum dari kejahiliyahannya yaitu Pancasila.

 

Dampak peristiwa 1 Juni 2008, di hari Kesaktian Pancasila itu sebenarnya membuktikan saja kalau masyarakat INDONESIA masih banyak berada di alam JAHILIYAH. Tidak perduli ia mewakili satu agama maupun satu nilai yang menodai nilai lainnya yang telah dipolitisir menjadi jargon politis, kejadian yang terjadi sebelumnya, di hari itu dan sesudahnya hanya satu bukti nyata kalau banyak lapisan di masyarakat ini mudah terjebak dalam dilema KEJAHILIYAHAN baik dalam bentuk KEKERASAN, EKSKLUSIFITAS MAUPUN SOLIDARITAS JAHILIYAH yang nyata-nyata dipertontonkan oleh kelompok marjinal dan kalangan yang mengaku intelektual, beradab dan berbangsa, dan berkeyakinan kepada Allah, Yang Maha Esa.

 

 

Ancam mengancam dan dukung mendukung sesudahnya tidak lebih dari pamer WATAK KEJAHILIYAHAN yang masih melekat diberbagai kalangan di Indonesia, menelanjangi karakter elit dan rakyat kebanyakan sesungguhnya yang seringkali mudah terjebak ke dalam kegelapan zaman JAHILIYAH dengan berkelompok-kelompok, berseragam ala tentara, berseragam ala malaikat, dan melakukan kekerasan jahiliyah, mengira dirinya eksklusif tapi jahiliyah, dan menyerukan solidaritas jahiliyah dengan ancaman-ancaman yang hanya mungkin ada di zaman jahiliyah alias Zaman Kegelapan.

 

Produk akhir dari semua karakter jahiliyah itu adalah kekacauan mental dan pikiran dari seluruh lapisan masyarakat. Kekacauan ini dapat menimpa kalangan  yang berprofesi sebagai presiden, cendikiawan, kiai, pedagang, tentara, sampai tukang becak dan pengangguran. Di kalangan elit, ciri kekacauan mental dan pikiran ini ditengarai dengan semakin lemahnya kemampuan elit-politik, agamis maupun kalangan intelek menempatkan masalah pada posisi yang tepat secara seimbang dan proporsional. Hal ini diungkaplan oleh Ketua PBNU ketika mengomentari masalah AHMADIYYAH dengan kekebasan berkeyakinan yang telah salah tempat namun dipolitisir dari akar masalah pokoknya yang berhubungan dengan sendi-sendi keyakinan suatu Agama yang dalam hal ini adalah Agama Islam yang pokok-pokoknya sederhana dan jelas. Tak perlu ada tafsir yang mengecohkan kalau saja orang jujur beragama Islam karena dasar pokoknya sebagai manusia yang beriman dan mukminun dalam Islam sudah begitu terang, jelas, dan sederhana. Tak perlu profesor , doktor, kiai sepuh, atau wali-wali yang berpakaian aneh untuk menerima Islam. Asalkan orang jujur dan yakin dengan tulus tentunya tak ada kesulitan apapun untuk mengetahui dasar pokok ajaran Islam sebagai suatu kebenaran. Dan tentunya, bagi yang meyakini Islam dengan aturan yang baku sah-sah saja untuk menolak, membubarkan dengan halus atau paksaan semua ajaran yang menyisip dan menodai ajaran Islam yang paling fundamental misalnya prinsip dasarnya berupa Syahadat dan Pengakuan atas nabi Muhammad SAW sebagai Utusan terakhir dari Allah SWT sebagai penutup Wacana Fundamental kehidupan manusia di Planet Bumi dinodai, atau bahkan lebih berani lagi secara keliru dengan mengubah isi al-Qur’an atau dengan menambah-nambahkannya sesuai kepentingan eksklusifnya sendiri.

 

NKRI Perlu Metode Yang Lebih Integralistis dan Holistik

 

Kekacauan mental dan pikiran dengan menerapkan metode yang bersifat reduksionis ketika mengkaji masalah sosial belakangan ini nampak menjadi berbahaya karena mereduksi masalah sosial hanya sebatas masalah mekanistik semata. Akibatnya ada kecondongan mereduksi dan mengkotakkan masalah yang muncul  dalam lingkup kepentingan politik-kekuasaannya sendiri. Kasus 1 Juni 2008, Ahmadiyyah, masalah energi, kericuhan pilkada, pemilu 2009, dan lain sebagainya sering dianggap oleh banyak elit intelektual tidak saling berhubungan. Mereka lupa kalau masalah sosial beda dengan masalah fisika mekanika yang dapat direduksi dan diisolir untuk menghasilkan suatu alat atau mesin.

 

Masalah sosial adalah masalah manusia yang dinamis dan integralistik sehingga tidak dapat diisolasi dan direduksi seolah satu kejadian sosial tidak saling berhubungan dan tidak relevan membicarakannya dalam lingkup integralitik. Apalagi kalau masalah itu melibatkan suatu keyakinan beragama, maka pendekatannya bukan sekedar Integralistis semata, tetapi juga holistik dimana faktor yang terkait dengan keyakinan tersebut harus dijadikan sebagai ukuran utama. Ideologi suatu negara tidak relevan untuk digunakan sebagai pelindung atau sandaran ketika menyelesaikan masalah didalam SATU keyakinan yang sahih. Ideologi negara hanya bisa digunakan sebagai sandaran ketika konflik keyakinan muncul diantara dua keyakinan yang berbeda misalnya konflik Islam vs Kristen; atau konflik yang jelas sekali perbedaan pokoknya sebagai suatu sistem keyakinan dan keberagamaan, yang jelas-jelas telah mengganggu stabilitas negara. Di dalam konflik internal suatu agama yang diakui dalam suatu negara, misalnya di kalangan Umat Islam mengenai Ahmadiyyah serta penyimpangan lainnya, ideologi negara mesti ditempatkan sebagai penengah yang adil bukan sebagai alat pemberangus sesuai dengan kenyataan yang ada dan telah diakui secara sahih menurut sumber primer Islam yaitu Al Qur’an, sunnaturasul  bukan hanya dengan sumber sekunder, tersier atau tafsir atas tafsir sebagai sesuatu yang baru dan diada-adakan padahal mempunyai potensi yang merusak fondasi keyakinan yang sudah menjadi kehidupan umat yang meyakininya.

 

Penalaran, argumentasi maupun model reduksionis mekanistik tidak sesuai untuk memecahkan masalah sosial yang komplek, dinamis, dan tak terduga karena didalamnya ada varibel dominan yaitu “manusia dan perilakunya” dengan saling pengaruh efek-domino yang harus disatukan untuk mendapatkan pola-pola perubahan yang nyata serta cara mengantisipasinya. Jadi masalah sosial yang muncul di NKRI hendaknya jangan diisolir sebatas kepentingan masing-masing yang sifat dan karakternya menjadi ciri-ciri masyarakat jahiliyah yang lebih mengutamakan ego kekanak-kanakannya sendiri, alias ego Ahmad si gajah tunggangan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah.

 

Memecahkan masalah sosial masyarakat dengan cara reduksionis, kekanak-kanakkan, dan sarat egosentrisme komunal hanya akan melahirkan solusi dari anak-anak yang teler karena dicekoki dengan pil koplo. Tak ada hasil apapun kalau cara-cara kekanakan digunakan selain kejahiliyahan-kejahiliyahan baru yang dilaburi bedak-bedak kemunafikan dari intelektualisme imitatif yang dangkal dan tidak berwawasan luas  kecuali sekedar pamer kesombongan  “ini pemerintahanku, ini golonganku, ini pikiranku, aku yang paling terkenal dan hebat, aku banyak temannya, aku banyak duitnya, dan bla..bla..bla… omongan penjual obat lainnya”. Bahkan yang lebih parah sifat kekanak-kanakkan ini jika dibiarkan akan menjadi sifat yang manja dan suka “wadul” atau mengadu ke “pihak luar” yang tidak berhubungan dengan permasalahan pokoknya. Akibatnya konflik pun menjadi penuh tipu daya kebohongan dan tidak karuan. Kalau sudah begini, potensi merusak yang mestinya diisolir akhirnya malah mengundang konflik yang lebih besar, bahkan boleh jadi bisa mengancam kedaulatan dan eksistensi suatu negara.

 

Masalah sosial di NKRI, khususnya yang melibatkan Umat Islam, hendaknya diselesaikan dengan realitas akhlak mulia dari ciri pembelajar yang diberkahi dari si Ahmad yang kekanak-kanakkan yang telah bertransformasi menjadi Nabi Muhammad SAW sebagai figur “Manusia Muhammad sebagai  Insan Kamil” yang dewasa dan sadar sebagai Rahmat Bagi Semua Alam guna membangun kehidupan lebih yang berkualitas secara lahir maupun batin dengan panduan yang benar dalam Islam yang lurus di jalan Shirathaal Mustaqiim, jalan Pengetahuan Tauhid Yang Luas, jalan Knowledge Base Society, bukan jalan Ghairil (Selain Allah) dari kaum berwatak Jahiliyah (dengan segala pengertian yang mungkin dari arti dan makna “kejahiliyahan” itu sendiri sebagai watak yang tidak terpuji).

 

 

Atmnd114912, Bekasi 10/6/2008, artikel ini pertama kali di publikasikan di kolumnis.com, direvisi tgl 11/7/2008

 

 

Rujukan tentang topik Jahiliyah dari berbagai sudut pandang dapat dibaca di:

 

1. Jahiliyah, artikel di http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/13/op5.htm

 

2. Pengertian Jahiliyah, artikel di http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=96

 

3. Siapa masyarakat Jahiliyah, artikel di http://pojokkata.wordpress.com/2007/06/29/siapa-masyarakat-jahiliyah/

 

4. Jahiliyah Moderm, artikel di http://members.tripod.com/~bimcrot/messages/jamod.html

 

5. Jahiliyah, wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Jahiliyah

 

6. Man and Jahlyah (Ignorance), artikel di http://home.swipnet.se/islam/articles/jahiliyah.htm

 

7. Hukum Menggunakan Istilah Jahiliyah Terhadap Masyarakat Muslim, artikel http://www.almanhaj.or.id/content/727/slash/0

6 pemikiran pada “Lingkaran Setan Jahiliyah: Eksklusifitas, Kekerasan dan Solidaritas Jahiliyah

  1. Terima kasih infonya, mas

    Ada sedikit perbedaan persepsi mengenai kata “Jahiliyah”, mudah-mudahan saya tidak keliru.
    Jahiliyah := Suatu sifat individu/tatanan masyarakat yang kuat memegang aturan baku karena ‘ainul dan haqqul yaqin.
    Alasan :
    1. Arab Jahiliyah := Walaupun beribu tahun dari semenjak Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s mereka tetap menjalankan prosesi rumah purba (baca: Ka’bah), dan patuh menggunakan standar perhitungan dari para leluhurnya.
    Contoh : Dibeberapa negara yang telah berkibar panji islam hanya memerlukan beberapa abad bahkan dekade saja, penyelewengan dan penyimpangan sudah sangat jauh dari nilai-nilai luhur sesungguhnya.
    2. Jahil := Untuk menjadi jahil dalam artian perbuatan kejahatan, seseorang memerlukan keberanian dan mengandalkan aqal fikirannya agar tujuannya tercapai secara sempurna.

    http://haniifa.wordpress.com

    Wassalam, Haniifa.

  2. Reblogged this on @tmonadi and commented:

    Setelah dibaca ulang, kok kayanya tulisan ini cocok dengan situasi terkini bangsa Indonesia yang baru saja menggelar unjuk rasa keadilan 411 atas penistaan agama oleh seorang pejabat gubernur ibukota yang nampaknya dilindungi naga-naga raksasa. Mudah-mudahan kita tidak sedang berada dalam fase jahiliyah dimana yang benar menjadi salah dan salah nampak seperti benar, dimana orang yang mestinya menjadi panutan justru terjebak dalam urusan perut sendiri dan tentu saja kepentingan kelompoknya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s