Ini hari ke tujuh setelah meninggalnya Mimi, ibuku tersayang yang berpulang tanggal 11/6/2008 jam 2 siang minggu kemarin setalah dirawat hampir 2 minggu di rumah sakit. Seperti tradisi Umat Islam yang berlaku di Cirebon kami melakukan tahlilan sampai tujuh hari. Tentunya dengan mengundang para tetangga , saudara, dan teman, acara tahlilan yang sebenarnya lebih tepat dikatakan majelis dzikir dan doa yang mulai dilakukan dari malam pertama sampai malam ke tujuh.

 

Tradisi ini oleh sebagian  kalangan seringkali disebut sebagai bid’ah. Padahal tidak ada yang aneh dengan tahlilan, doa, ataupun dzikir. Dengan mengabaikan simpang siurnya pendapat di masyarakat tentang acara tahlilan, kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk melaksanakan tradisi tersebut karena kami merasa perlu mendoakan Ibunda kami itu. Ada sesuatu yang pokok ketika tradisi yang baik ini dilakoni oleh pihak keluarga, kerabat, maupun teman-teman almarhumah dengan tulus ikhlas.

 

Pertama tentunya mendoakan almarhumah setulus ikhlas mungkin dengan melalui sarana bacaan doa , dzikir , shalawat Nabi Muhammad dan pembacaan surat al-Fatihah, al-Ikhlas, Al Falaq, an-Naas dan Yaa sin. Jadi, tak ada yang aneh sebenarnya dengan tradisi tahlilan seperti yang sering saya dengar dan saya pernah baca di bid’ahkan oleh sementara kelompok dengan dalil-dalil yang sebenarnya justru sesuatu yang baru juga alias bid’ah juga (ini jadi bagaikan jeruk makan jeruk) dan kurang mengena dan kurang memiliki empati dengan tatacara kehidupan kita sebagai makhluk sosial dan relijius.

 

Kedua mengingat kematian. Ini perlu karena seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita sering lupa dan lalai kalau semua makhluk pastilah akan mati.

Tiap-tiap makhluk jang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana/binasa. Tetapi hanya wajah Tuhan-mu jang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya.

Itu kata satu potongan ayat di Al Qur’an. Mengingat kematian orang lain, baik itu keluarga sendiri atau bukan, mengandung hikmah kalau kitapun sebagai makhluk akan mati dan mempertanggungjawabkan perbuatan kita di hadapan Azizul Hakiim. Dalam kehidupan, seringkali kita lalai dengan kematian bahkan tak jarang berangan-angan kosong dengan mengangankan kekekalan. Baik kekal fisik maupun kekal nama dengan berbagai gelar dan sebutan yang dihembuskan sampai-sampai tak jarang menjadi mitologi dan dongeng. Lupa kematian mungkin bagian dari penyakit manusia sebagai anak cucu Adam dan Hawa yang akhirnya muncul di dunia karena kelalaian juga. Mati sebagai bagian dari perjalanan kehidupan hanyalah fase-fase dalam kehidupan kita yang nyata dan itu adalah pengalaman langsung one-to-one yang tak terelakkan. Sejak zaman dahulu kala  kematian menjadi suatu fakta yang tak bisa ditolak oleh semua makhluk yang mampu rusak dan binasa. Kematian pun menjadi suatu kesadaran dan titik dekonstruksi total bagi makhluk yang hidup dalam bentangan masa terbatas untuk selalu mengkaji ulang apa yang telah dilakukannya selama ini. Dengan tahlilan, sebenarnya tersembunyi suatu gagasan spiritual dan filosofis kehidupan manusia sebagai makhluk berfikir dan bercitarasa kalau hendaknya yang masih hidup ingat dan eling bahwa kematian akan menjemput semua orang, tak terduga dan tak diketahui dalam keadaan apa ia datang. Maka dalam setiap keadaan apapaun kita memang harus bersiap menghadapi kematian, baik kematian orang-orang yang kita cintai dan kasihi, orang lain, maupun kematian kita sendiri.

 

Ketiga, menyambung tali silaturahim dengan berkumpulnya para kerabat , teman, sahabat yang biasanya susah dihubungi atau bahkan sama sekali mungkin kita lupa. Jadi, dimensi ketiga ini berhubungan langsung dengan nilai-nilai persaudaraan antar manusia, baik yang seagama maupun tidak, baik yang sedang bermusuhan ataupun tidak, untuk sejenak berhenti menatap kehidupan dan melihat kematian guna merekatkan kembali nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan yang mungkin telah renggang, centang perentang, atau malah terlepas sama sekali dan bahkan sama sekali lupa kalau kita adalah manusia yang kelak akan mati juga.

 

Keempat, melepaskan suatu beban  yang mungkin masih tersisa, baik sengaja atau tidak sengaja yang terganjal ketika almarhumah masih hidup dengan yang ditinggalkannya. Jadi, tahlilan bisa juga menjadi pelepasan emosi yang tersisa, baik itu kesedihan, kemarahan, maupun emosi negatif lainnya sehingga ganjalan yang mungkin ada bisa dilepaskan dengan ikhlas dan sadar bahwa almarhumah telah tiada dan tak akan kembali lagi. Dengan kata lain, bagi yang hidup, membuka pintu maaf dan ampunan bagi kelalaian almarhumah, baik yang sengaja ataupun tidak semsa hidupnya, jauh lebih baik ketimbang menutup pintu maaf yang malah akan menjadi beban sepanjang hidup bagi yang merasa telah disakiti atau didzalimi oleh si almarhum.

 

Masih banyak sebenarnya hikmah dan nilai yang dapat dipetik dengan melaksanakan tradisi tahlilan tanpa harus salah paham karena terpaku dengan aturan yang kaku dan kurang tepat dengan kenyataan kita sebagai makhluk hidup yang kelak akan mati.

 

Keempat dimensi nilai tahlilan yang diuraikan diatas senyatanya bukan teori lagi tapi sudah merupakan suatu praktek di atas panggung kehidupan dengan tuntunan dan pedoman yang bersandar pada Al Qur’an, sunnatulrasul dan nilai-nilai kemanusiaan universal yang sudah ada sejak zaman purbakala. Bahkan sejak zaman sebelum agama Islam sebagai suatu sistem kehidupan dan petunjuk hidup lahir. Hanya saja, formatnya pengungkapannya sebagai suatu tradisi dalam sistem sosial kemasyarakatan semakin hari semakin diperbarui, diaktualkan, dan tentunya menjadi suatu nilai-nilai reflektif dimana semua manusia bisa sejenak berhenti di titik perenungan paling dalam ketika ia melihat, mengalami, maupun akhirnya kelak akan menghadapi kematian.

 

Innaaliillahi wa innaa ilaihi rojiun

 

Ditulis sebagai kenangan bagi  Ibunda Masyatim binti Ismail, meninggal di Cirebon tanggal 11 Juni 2008, lahir di Indramayu tanggal 21 September 1943, dikebumikan di Sunyaragi, meninggalkan empat orang anak dan enam orang cucu.

 

Cirebon 19/6/2008

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s