“son·to·lo·yo p cak konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sbg kata makian)”

 

Begitulah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online tentang arti kata Sontoloyo.

 

Kata ini sebenarnya sudah lama menjadi perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Kata “Sontoloyo” atau dalam ejaan lama “Sontolojo” umumnya merupakan makian atau sebagai kata lecehan. Popularitasnya di zaman Soekarno ketika ia masih gemar menulis cukup kuat karena beliau pernah menulis suatu artikel dengan judul “Islam Sontolojo”. Artikel itu mengulas suatu peristiwa memalukan dimana seorang ustad menggauli murid wanitanya.(silahkan baca di kumpulan tulisan Soekarno “Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1”).

 

 

Ada juga Sontolojo sebagai nama tokoh fiksi yang bisa dibaca di blog Hoedjin Tjamboek Berdoeri (http://hoedjien74.multiply.com/journal/item/75). Fiksi itu berkisah tentang sosok seseorang yang bernama “Mas Sontolojo Soponjono”. Membaca cerita pendek yang ditulis sesuai dengan bahasa aslinya dalam ejaan tempo doeloe itu, saya tertawa geli juga. Kisah Mas Sontolojo Soponjono itu menggelitik syaraf tertawa saya. Penggalan-penggalannya seperti menjadi refleksi masyarakat kita sendiri yang sering kali menjadi begitu SONTOLOJO. Mas Sontolojo Soponjono di cerpen zaman baheula itu mengisahkan seorang advokat Cina yang datang ke Bandoeng dengan menamakan dirinya Mas Sontolojo Soponyono. Salah satu dialognya saya kutipkan dari blog Mr Sontolojo Soponjono diatas :

 

-Perkara sjarat itoe gampang sadja. Apa lagi boeat saja. Tjoba djoeragan tanja pada orang² jang pernah saja toeloeng. Tida ada satoe jang tida kesampean maksoednja. Apa djoeragan hendak bikin madjoe djoeragan poenja, toko? Apa djoeragan maoe soepaia djoeragan istri tida tjemboeroean?

 

-Boekan! Saja ini sebenernja maoe minta sjarat soepaia saja bisa djadi terpilih djadi lid Gemeenteraad di Bandoeng sini dan soepaia saja bisa djadi wethouder!

 

-O, kiranja oeroesan heminte? Kaloe itoe saja tida brani djoeragan. Heminte itoe kan anaknja goebernemen? Djangan² saja bisa ditahan di Bantjeuj(nama pendjara di Bandoeng).

 

-Perkara itoe saja tanggoeng, bapa. Bapa djangan takoet apa². Saja tadi mengakoe bernama Mas Sontolojo Soponjono. Tapi sebetoelnja saja ini advocaat dan nama saja jang betoel ada Meester Ong!

 

-Astaga! Djadi djoeragan ini sebenernja ada apokat! Masja Allah! Saja tadinja kira djoeragan ini ada djoeragan beras jang maoe minta sjarat pelaris. Saja tida mengerti!

 

Belakangan ini kata Sontoloyo kembali ngetop ketika KaBIN Syamsil Siregar dengan sinis dan geram mengatakan adanya menteri kabinet SBY-JK yang “Sontoloyo”. Sebutan spontan ini terungkap ketika ia menengarai adanya menteri Kabinet yang plin-plan tentang Kenaikan BBM, bahkan ditengarai mendanai demo yang berakhir dengan upacara bakar-bakaran ban mobil dan mobil beneran itu (26/6/2008).

 

Karuan saja, celetukan KaBIN inipun dikomentari banyak orang , terutama anggota DPR yang merasa tersinggung bukan tersungging.

 

Entah karena tersinggung beneran atau karena kata karena itu terdengar “eksotik” setelah lama tenggelam, maka kata “Sontoloyo”  yang sudah dilupakan orang pun populer kembali dan jadi bahan berita di media masa. Media Indonesia dan Metro TV  malah menjadikan topik SONTOLOYO ini sebagai wacana di editorial paginya (Metro TV 30/6/08).

 

Sebutan melecehkan SONTOLOYO nampaknya masih bergulir dan menjadi suatu fakta yang nyata. Pasalnya belakangan ini berbagai kebusukan dan kesontoloyoan di berbagai elit politik, perusahaan negara, pengelola asset negara, dan yang lebih hebat di kalangan penegak hukum mulai terkuak ke permukaan. Bau busuk bagai terasi pun tersebar kemana-mana. Menggelikan, menggiriskan, menggemaskan, menyedihkan dan tentu saja membuat geram banyak orang yang selama ini tak mengira sampai sejauh itu. Soponyono, yang tadinya hanya gosip, desas-desus dan bisik-bisik itu nyata adanya. Bahkan tak tanggung-tanggung kematian Munir beberapa tahun yang lalu pun ikut kembali mencuat ke permukaan ketika Muchdi PR, mantan petinggi BIN, digelandang oleh polisi dengan dakwaan yang masih terkait dengan kematian Munir.

 

Lantas, ke-sontoloyoan-an lebih hebat lagi muncul ketika bersinggungan dengan kasus BLBI dengan bintangnya Artalyta yang kemudian disebut-sebut Ratu Lobi di kalangan pejabat dan pengusaha. Ini pun tak cukup, ke-sontoloyo-an baru kembali merebak ketika salah satu angota DPR tertangkap di Plaza Senayan dengan uang 60 ribu dollar dan 10 ribu dolar Euro atau sekitar 700 juta. Tuduhan untuk anggota DPR yang dicokok di PS tempat biasa ABG mejeng ini berhubungan dengan kasus jual beli alat transportasi laut. Wah, hari ini kesontoloyoan-kesontoloyoan yang bersinggungan dengan DPR semakin marak manakala diketahui kalau 48 anggota DPR Komisi IX ternyata kecipratan uang Bank Indonesia. Tak tanggung-tanggung persekongkolan yang melibatkan duit saweran sebesar 35 milyar lebih itu pun melibatkan salah satu Menteri dari Partai Golkar yaitu Paskah Suzetta (Koran Tempo, 1/7/2008).

 

Selain persekongkolan membagi uang itu, ada juga kabar yang masih termasuk kabar sontoloyo. PLN yang mestinya mengaudit kinerjanya katanya mau mengaudit pelanggannya. Lha, jadi selama ini PLN mencatat meter KWH ke rumah-rumah pelanggannya ataupun melakukan sidak memeriksa jaringan rupanya bukan audit? Saya malah jadi bingung dengan logika terbalik ini. Baru kali ini konsumen diaudit oleh produsen. Logika yang terbalik-balik ini tentu saja menjadi semakin menunjukkan ke-sontoloyo-an cara berpikir selama ini. Mestinya PLN lah yang harus diaudit kinerjanya maupun SDM nya. Jangan-jangan kekurangan pasokan listrik selama ini tak lebih dari ketidakmampuan sistemik di dalam PLN yang tak mampu mengelola sumber dayanya.

 

Selain kabar sontoloyo dari PLN, ada lagi kabar sontoloyo yang lain. Kali ini dari Pertamina dengan BBG-nya. Belum lama rakyat disuruh menggunakan bahan bakar gas dengan pembagian tabung gas gratis kemana-mana. Kali ini, ada kabar Sontoloyo yang mengecutkan ibu-ibu rumah tangga, BBG bakal naik lagi. Khususnya BBG yang berukuran 12 kiloan. Lha, kemana selama ini tim audit Pertamina apa nggak survei ke pasar-pasar kalau harga BBG 12 kiloan sudah lama naik di sekitar 60 ribuan? SONTOLOYO!!!!

 

Jadi, apa mau dikata. Meskipun  kata “SONTOLOYO”  kurang enak di dengar nyatanya memang kita ini berada dalam suatu negeri yang nampaknya telah mengalami degradasi etis dan moral yang hebat dan menjelma menjadi Republik Sontoloyo. Satu kata yang mungkin bisa menghibur dalam kenyataan pahit itu barangkali memang kata sengak seperti “SONTOLOYO” ini. Jadi, memang benar-benar SONTOLOYO kan.

 

Bekasi114912, 30/6/2008

3 pemikiran pada “REPUBLIK SONTOLOYO

  1. Terdapat beberapa menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yaitu Anton Apriyantono dan Adhyaksa Dault dari PKS, Hatta Radjasa dan Jusman Syafii dari PAN, MS Kaban dari PBB, Suryadharma Ali dan Bactiar Chamsyah dari PPP, serta Lukman Edy dan Erman Suparno dari PKB. Para menteri yang partainya mengusung angket kenaikan BBM artinya partai partai melalui anggotanya di DPR sudah tidak percaya lagi kepada kader partai yang duduk di kabinet. Dalam hal ini terdapat dua pilihan, mengundurkan diri dari kabinet atau keluar dari partai. Tetapi realitasnya mereka tetap di partai dan tak bergeming dari jabatan menteri. Saya tidak tahu apakah sikap seperti ini termasuk sontoloyo? Maaf he ..he..he jika seandainya sembilan menteri mengundurkan diri…saya sendirian mau menggantikan mereka bersembilan…sentul laa yaw…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s