Pagi itu, Jum’at 11/7/2008, saya datang masih agak pagi, sekitar jam 9.00. Ritual harian pun mulai dilakukan, cek email kantor. Ada pesan nggak dari Filipina atau dari partner. Kosong. Jadi, dengan cepat saya melakukan ritual pribadi. Cek yahoo mail. Dan seperti biasanya, puluhan email baru nongol di mailbox saya di yahoo mail. Tak ada yang menarik, ehh…. tiba-tiba satu larik subyek menarik perhatian di milis penerbangan. Ucapan bela sungkawa terbaca. Belum lama rasanya saya menerima ucapan belasungkawa untuk saya dan keluarga dari teman-teman sehubungan dengan meninggalnya ibu saya sebulan yang lalu (11/6), dan memang tepat hari ini telah sebulan lewat (11/7). Saya buka email itu dan kabar duka itu datangnya dari salah satu dosen (Pak Ichsan) yang mengabarkan Prof. Said Djuharsjah Jenie telah kembali kepada Sang Khaliq, pagi Jumat itu jam 7.45. Sejenak saya berdoa kemudian me-reply email itu dengan ucapan turut belasungkawa.

 

Esoknya, saya baca Obituari Prof. Said D. Jenie di Kompas (12/7/08).

 

“Said Djauharsjah Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT yang juga merupakan salah satu tokoh penting penerbangan perdana pesawat N-250, Jumat (11/7) pukul 07.48, meninggal karena sakit jantung di RS Boromeus, Bandung.”

 

 

Pak Said, demikian saya selalu menyebutnya dulu sewaktu masih hobi jadi mahasiswa. Ia memang sosok yang unik dan langka. Guru Besar Aeronautika dan Astronotika ITB itu mungkin satu-satunya orang yang tahu seluk beluk pengendalian pesawat CN-235 dan N-250. Khususnya, N-250 yang langsung berada dalam olahannya. Ada banyak kenangan yang masih sempat saya ingat (jadi mungkin ada yang lupa persisnya, tapi tak apalah, harap dikoreksi kalau ada yang keliru pas nyebut nama atau peristiwa) meskipun saya bukan mahasiswa tugas akhirnya. Setidaknya, ia sosok yang masih melekat di kenangan saya wong beliau adalah salah satu dosen yang menyidang tugas sarjana saya. Beberapa fragmen yang masih saya kenang, sebenarnya menggambarkan bagaimana kepribadiannya sebagai pendidik. Kepada mahasiswanya, ia selalu menyapa dengan sapaan “dik” singkatan dari “adik”.

 

 “Dik, saya jangan ditulis jebolan M.I.T.”, katanya suatu waktu ketika saya minta beliau mengoreksi artikel saya yang melibatkan pendapatnya untuk suatu harian nasional.

“Nanti dikira orang saya Drop Out dari M.I.T.”, katanya lagi sambil tersenyum.

“Tulis saja lulusan Massachusetts Institute Of Technology”, lanjutnya sambil mengoreksi tulisan “Massachusett” yang kurang satu huruf “s”. Itulah kenangan kecil yang masih membekas di memori saya dengan Prof. Dr. Said Djauharsyah Jenie ketika mengoreksi dengan terinci artikel populer saya yang ditulis bersama Priyo.

 

 

Peristiwa itu sudah lama berlalu, di sekitar awal tahun 90-an. Saat itu saya dan Priyo, salah satu rekan mahasiswa penerbangan yang juga jadi penulis lepas, sedang mempersiapkan satu artikel tentang pesawat N-250 dan teknologinya. Di proyek pesawat N-250, Pak Said adalah pemimpin tim uji terbang yang bertanggung jawab dalam pengendalian pesawat yang rencananya mau menggunakan teknologi terbaru yaitu Fly By Wire. Kami berdua sempat mewancarainya tentang N-250 dan Fly By Wire-nya. Artikel itupun dimuat di suatu harian nasional dan lumayan mendapat penghargaan Ristek.

 

 

Dengan sosok berwajah khas, berkulit jernih dan tidak terlalu tinggi,  sangat mudah mengenali Pak Said D. Jenie di kelompok bidang studi Penerbangan. Disana, di sudut agak tersembunyi dari gedung fakultas Teknik Mesin ITB, ia mengajar kuliah Flight Control System dan mata kuliah lainnya yang berhubungan dengan pengendalian pesawat, satelit dan tentu saja angkasa luar dimana khayalan saya sering ikut-ikutan melayang membumbung tinggi dengan paparan beliau yang imajinatif-realistik .

 

Ia benar-benar menyukai pekerjaannya, pandai berkisah tentang kemajuan aerospace. Di ruang kuliah selalu ada model pesawat CN 235 yang beberapa menit kemudian akan ia pegang-pegang dan melayang-layangkannya di ruang kelas untuk sekedar menggambarkan gerak pesawat yang dijelaskannya secara matematis. Belakangan, setelah baca blog salah satu siswanya (simak cerita salah satu muridnya Hamdi disini: http://kampungmelayu.wordpress.com/2008/07/15/prof-ir-said-d-jenie-scd/#comment-156)., cara mengajar Pak Said rupanya didasarkan pada pengalaman beliau kuliah di M.I.T. dimana ujian dilakukan secara oral dan presentasi dimana mahasiswa hanya dibekali satu pesawat model dan diminta menerangkan prestasi atau dinamika pesawat secara langsung (seperti bagaimana menerangkan angle of attack atau sidewind take-off dengan menggunakan alat bantu peraga pesawat model tadi).

 

 

Pak Said termasuk dosen yang bersahaja penampilannya. Ia paling suka mengenakan celana panjang warna gelap dengan baju putih atau warna muda lengan pendek dan bersepatu model Caterpilar. Sesekali ia nampak berpakaian rapih dengan baju kuning muda dan dasi warna merah. Bahan kuliahnya jelas, dan tidak segan-segan membawa buku populer penerbangan atau film untuk sesekali dibahas di kelas. Apa yang diajarkannya pun bukan melulu pelajaran dari textbook, tapi juga sesekali membahas perkembangan baru pesawat udara dan aerospace mulai dari pengendalian pesawat stealth yang kontra aerodinamis (F-117 Night Hawk), manuver Sukhoi F-27 Pugachev Cobra, F-16, HiMat (Pesawat eksperimen tanpa awal bermanuver tinggi buatan NASA) dan beberapa pesawat terbang futuristik lainnya. Di zaman saya kuliah, memang topik hot dunia penerbangan adalah pesawat Stealth, Xperimental Aircrat, RPV (Remotely Piloted Vehicle) atau UAV dan Sukhoi F-27 yang manuver Pughacev Cobra-nya membuah heboh dunia kedirgantaraan.

 

 

Jadi, meskipun pelajaran yang diberikannya tidak bisa dikatakan mudah, banyak yang betah dengan kuliahnya. Penuturannya lugas dan jelas ketika menguraikan rumus matrik pengendalian dan dinamika pesawat yang njlimet. Hebatnya, ia mampu menggambarkan dari rumus dan konsep menjadi realitas sesungguhnya dengan model CN-235 yang ada di depan kelas. Tidak heran, ia begitu paham benar karena terjun langsung menangani  uji terbang pesawat dan pengendalian pesawat di I.P.T.N. (P.T. D.I. sekarang). Jadi, selain mempunyai kemampuan teoritis akademis ia adalah praktisi dan pakar di bidang yang sulit tersebut. Bahkan, beberapa waktu yang lalu saya malah baru tahu kalau Pak Said D. Jenie mengungkapkan suatu parameter penting untuk menentukan kriteria visibilitas hilal. (lihat disini arsip diskusinya: http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg22426.html). Setelah ia menjadi kepala BPPT, Pak Said pun memang akhirnya merambah berbagai bidang yang berhubungan dengan lembaga yang dipimpinnya itu mulai dari masalah lumpur Lapindo (http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=54234&Itemid=30 ), potensi minyak kelapa sawit (simak: http://www.depkominfo.go.id/portal/index.php?act=detail&mod=berita&view=1&id=BRT070719094101) , energi alternatif (simak disini: http://www.suaramerdeka.com/harian/0707/28/nas10.htm ), sampai sistem rekayasa baru yang dikembangkan BPPT (http://jkt.detiknews.com/read/2008/07/11/100506/970373/10/said-d-jenie-dari-pesawat-sampai-sistem-rekayasa-baru-bppt

).

 

 

Waktu saya mau sidang sarjana, saya sempat stres berat karena sedikit bersitegang dengan Prof. O. Diran, antara jadi atau tidak jadi sidang. Khawatir saya tak jadi sidang padahal waktu kuliah sudah terlampaui (7,5 tahun) saya pun agak ngotot supaya jadi di sidang. Sementara para penyidang sudah hadir (Pak Said, Pak Jusman, maaf satu tokoh penyidang lagi lufa nih…) saya semakin tegang antara jadi atau tidak.  Tim penyidang masih di ruang Pak Diran, entah apa yang dibicarakan yang jelas akhirnya saya jadi juga disidang. Mungkin saya slips tongue kata Pak Said menenangkan saya di hadapan para penyidang; iya kali gara-gara tegang antara jadi sidang atau tidak. Alhamdulillah,  saya pun lancar dan terkendali ketika di sidang sampai dinyatakan lulus.

 

Ada juga kenangan lain dengan Pak Said. Sewaktu tulisan saya dan Priyo memenangkan lomba tulisan ilmiah populer Ristek, saya mau memberikan kenang-kenangan ke Pak Said yang mau meluangkan waktu kepada saya dan Prio untuk wawancara masalah Fly By Wire di N-250. Berhubung saya cuma bisa menduga-duga kalau hobi Pak Said itu berhubungan dengan membaca buku, kami akhirnya sepakat ingin memberikan kenang-kenangan sebuah buku. Masalahnya buku apa? Nah ini yang repot, kalau buku penerbangan tentunya sudah biasa, apalagi di Indonesia buku penerbangan sangat sedikit. Akhirnya kami pun bersepakat untuk memberi buku karangan Nurcholis Madjid.

 

Ahh, begitu banyak sebenarnya kenangan yang bisa dituliskan buat Pak Said Djauharsyah Jenie, sosok Manusia Indonesia yang langka dengan dedikasinya yang tinggi baik di dunia pendidkan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang aerospace engineering. Tapi apa daya, ada kecintaan yang lebih besar daripada sekedar kecintaan kita di alam fana ini, ialah Cinta Sang Khaliq pada makhluk-Nya.

 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Rahmat dan Ridho Allah bersamanya, dan bagi yang ditinggalkannya, Ibu Sadarijah Saraswati, dan Maulana S Jenie, Asih Nurul Jenie, dan Gita Jenie diberi kesabaran dan ketabahan tanpa harus kehilangan semangatnya yang tetap hidup. Amiien.

 

Atmonadi, Bekasi,  start: 13/07/2008, finish 15/7/2008 di Jakarta

 

Beberapa tulisan di Internet yang mengulas Prof. Said Djahursjah Jenie, ScD, Ir.

 

Tempo Interaktif : Insinyur Dengan Satu Harapan

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2008/07/15/brk,20080715-128224,id.html

 

Kompas, Obituari Said D. Jenie

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/12/00175940/said.d.jenie.tokoh.uji.terbang.n-250.tutup.usia

 

Media Indonesia

http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTU2OTM=

 

Detik.com

http://jkt.detiknews.com/read/2008/07/11/100506/970373/10/said-d-jenie-dari-pesawat-sampai-sistem-rekayasa-baru-bppt

 

Blog:

 

Tulisan Prof. O. Diran tentang Pak Said di blog Arief : OD: Menschbild Pak Said http://ari3f.wordpress.com/2008/07/13/od-menschbild-pak-said/

 

http://cabiklunik.blogspot.com/2008/07/obituari-said-d-jenie-tokoh-uji-terbang.html

 

http://kampungmelayu.wordpress.com/2008/07/15/prof-ir-said-d-jenie-scd/#comment-156

 

http://isez.wordpress.com/2008/07/13/in-memoriam-said-d-jenie/

 

http://ech.blogspot.com/2008/07/selamat-jalan-pak-said.html

 

Informasi Wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Said_Djauharsjah_Jenie

 

Obituari Prof. Said Djahaursjah Jenie, ScD, Ir. Di ITB http://www.itb.ac.id/news/2149

3 pemikiran pada “In Memoriam, Prof. Said Djauharsjah Jenie, ScD, Ir

  1. mudah-mudahan dia lebih nyaman disana.
    eniwe, terimakasih ceritanya tentang bilangan…
    tentang topik itu buku apa yang membahasnya?

  2. Tentang bilangan itu, tak ada Bukunya, tapi kalau di hitung jumlah huruf Laa ilaaha illaa Huwa dan Laa illaha illaa Allah, maka angkanya ketemu sebagai basis sistem pengetahuan Tauhid. Coba cari di blog saya yang ada di http://atmoon.multiply.com tentang tabel gematria atau al-Jumal (ada di posting tahun 2006-an).

  3. Yet another brilliant INDIGENOUS and PROOF INDONESIA DOES NOT NEED THE HATED RESIDENT ETHNIC COLONIAL IMPORT CHINAMAN.
    I had the extreme pleasure of meeting Pak PRofessor numerous times as an officer and discussed engineering and politcs at much length with thi brilliant man
    Like all true patriotic Indigenous Indoneisans, Prof Djauharsjah hated Chinese with a passion never once forgetting their colonial collaboration and oppression of the native Indonesian.
    Pak Professor gave much free time and help to the indigenous students- who all outshone the cheap clone Chinamen students.

    Professor Said was PROOF INDIGENOUS INDONESIANS ARE FAE MORE BRILLIANT THAN CHINESE. LEARN FROM HIS EXAMPLE PRIBUMI and PUTERA BUMI
    Rest in Peace Professor, we all miss you very much and need many more of you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s