Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you seek?
Clarice Starling: He kills women…
Hannibal Lecter: No. That is incidental. What is the first and principal thing he does? What needs does he serve by killing?
Clarice Starling: Anger, um, social acceptance, and, huh, sexual frustrations, sir…
Hannibal Lecter: No! He covets. That is his nature. And how do we begin to covet, Clarice? Do we seek out things to covet? Make an effort to answer now.
Clarice Starling: No. We just…
Hannibal Lecter: No. We begin by coveting what we see every day. Don’t you feel eyes moving over your body, Clarice? And don’t your eyes seek out the things you want? (dari salah satu dialog di Film Silence Of The Lambs, 1991)

Masih ingat kan film “Silence Of The Lambs’ (SOTL, thn. 1991)? Itu novel Thomas Harris yang dibuat jadi film dan dibintangi artis keren yang sangat populer beberapa tahun yang lalu. Bahkan saking populernya, film SOTL yang tidak membosankan itu masih sering di putar di TV Swasta Indonesia yang memang hobi mengulang-ulang film lama. Sekuel paling baru dari film itupun sudah beredar belakangan ini yaitu Hannibal Rising yang mengisahkan sosok lahirnya tokoh Hannibal Lecter yang mempunyai latar belakang tragis Perang Dunia ke-2.

Dengan menggunakan search engine anyar CUIL.COM, saya coba menelusuri  konteks dan arti “Silence Of The Lambs” yang beberapa tahun yang lalu novel maupun filmnya sangat laris di AS sana (jadi bukan di sini, wong novelnya terlambat di terjemahkan kok). Hasilnya tidak begitu menggembirakan, meskipun memberikan informasi juga yang erat kaitannya dengan terminologi Silence Of The Lamb secara sosial -psikologis.

Ada beberapa essay yang ditampilkan resumenya saja berhubung kita harus berlangganan kalau ingin mengakses essay lengkapnya (heh peluang bisnis online nih, tulisan bermutu di Internet akhirnya memang harus bayar). Namun, dari beberapa tulisan itu tersirat kalau Silence Of The Lambs erat kaitannya dengan suatu simbolisme keadaan psikologis seseorang, keluarga atau masyarakat yang terpinggirkan, sampai akhirnya mencapai suatu kondisi ektreem yang memaksanya melakukan suatu tindakan tanpa nilai sama sekali kecuali absolusitas dari keinginan dan hasratnya sendiri yang condong berlebihan dan egosentris. Anehnya, pribadi maupun keluarga demikian nampak secara lahir mempunyai kecondongan yang berlebihan untuk “nampak” tampil baik di  permukaan, baik dengan kamuflase sosial maupun keagamaan.

Dalam film SOTL, kiasan Silence Of The Lambs nampaknya justru dilekatkan kepada hampir semua tokohnya, baik agen FBI yang diperankan Jodi Foster, sosok psikopat yang gemar menguliti wanita gemuk dengan julukan Buffalo Bill, maupun Hannibal Lecter yang sengaja berperan sebagai guru dari tokoh Agen FBI dan tokoh psikopat yang menjadi “public enemy number one” setelah menculik anak seorang senator yang terkenal yg menjadi ikon keberhasilan masyarakat secara umum. Peran Hannibal Lecter sebagai Mahaguru Psikopat justru menjadi kunci pembuka dan penutup dari masalah yang muncul dalam diri masing2 tokoh, baik yang elitis seperti Agen FBI maupun Si Pembunuh  (dalam film SOTL digambarkan sebagai  mantan pasien Hannibal Lecter) yang ternyata keduanya merupakan produk tipe keluarga yang sama, yaitu keluarga yang dimarjinalkan namun mempunyai lintasan pemecahan masalah yang berbeda.

Yang satu menjadi Agen FBI dengan pendidikan baik, yang serius dan ambisius, dan yang lainnya menjadi sosok pembunuh berantai yang mencoba menggugat wujud dirinya sendiri sebagai lelaki yang mempunyai cita-cita “ingin menjadi” wanita justru dengan menghianati kaum “wanita sebenarnya” (di film seluruh korbannya adalah kaum wanita). Sedangkan Hannibal justru digambarkan dengan cara yang lebih elitis lagi sebagai psikolog yang psikopat dan tidak segan-segan memangsa siapa saja, termasuk orang yang dikenalnya dengan baik. Karakter Hannibal Lecter adalah simbolisasi dari kelompok elit  intelektual yang akhirnya “menghianati idealisme dan wacananya”  sebagai produk perkembangan nilai etis dan moral yang dikembangkannya. Ia pun muncul menjadi penghancur nilai etis dan moral itu sendiri dengan menjadi “kanibal”. Sosok Hannibal mewakili keputusasaan egosentris intelek yang justru gagal ketika berada di puncak ketinggian ketika hendak mengenali keterbatasannya sebagai manusia yang berpikir dan berperasaan. Hannibal bukan ingin tetap berada di dalam sistem, ia justru menganggap jadi pembuat dan pemilik sistem sehingga menjadi geer dan jatuh dalam egosentrisme absolut dengan menjadi pemangsa yang cerdik seperti serigala berbulu domba. Ia adalah tipe penggembala sekaligus pemangsa.

Kedua tokoh utama di film tersebut bagi Hannibal Lecter tidak lain adalah anak-anak domba yang setengah putus asa dan berupaya mengatasi keputusasaan itu dengan ketangguhan dan kelemahan karakter dirinya masing-masing yang notabene dipengaruhi oleh pendidikan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Yang satu (tokoh agen FBI) berhasil masuk ke sistem yang diyakini kebenarannya yaitu menjadi Agen FBI yang tangguh  dan yang lainnya terperosok dalam ilusi dan ketidakberdayaannya sampai akhirnya melampaui batas dan dengan sadar memutuskan diri berada di luar sistem yang diakui secara umum dengan melakukan pembunuhan berantai kepada gadis-gadis yang berciri sama, tubuh montok, punya cukup lemak dan kulit bagus , untuk dibunuh, dikuliti dan kulit tubuhnya dibuat menjadi jubah kebesaran dirinya yang berilusi di hadapan cermin menjadi ” wanita tulen”.

Lantas, apa yang dimaksud Silence Of The Lambs sebenarnya? Kalau dilihat dari konteks psikologis yang mewarnai film SOTL tsb, penulisnya nampak memang sangat akrab dengan kondisi masyarakat dan perkembangannya di AS, yang boleh jadi sebenarnya kondisi yang bisa ditemukan dimana saja di dunia, termasuk di Indonesia. SOTL adalah simbologi pergulatan dan perjuangan hidup dengan atau tanpa norma sama sekali untuk mencapai apa yang diinginkan. Disini yang dipertentangkan sebenarnya dua keluarga yaitu keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar adalah aturan hukum positif yang berlaku dimana semua orang yang tinggal didalam keluarga tersebut harus patuh. Keluarga kecil adalah keinginan diri atau cita-cita dan impian yang hendak dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang, misalnya suatu keluarga normal didalam masyarakat untuk diakui eksistensinya. Jadi ada suatu kewajiban dari suatu cita-cita atau harapan dari keluarga kecil jika ingin diakui sebagai bagian suatu keluarga besar yaitu harus patuh. Namun, ketika keluarga kecil atau keinginan diri itu berbenturan dengan sistem karena kelemahan wataknya sendiri, maka yang muncul adalah pembangkangan dan pemberontakan total dimana titik ekstremitasnya adalah tidak adanya norma dan nilai yang harus dipatuhi, baik kepada diri sendiri , orang lain, aturan keluarga besar, maupun kepada Tuhan. Individu atau keluarga kecil itupun menjadi Sang Pembangkang.

Sang Pembangkang sendiri menyadari (jadi ia tidak gila dalam arti tidak waras, namun waras dan sadar ketika melakukan perbuatannya), untuk bisa eksis didalam sistem keluarga besar, sementara ia sendiri sudah tidak mengakui hukumnya, ia harus melakukan penyelabuan, kamuflase, ataupun penyamaran umum sehingga apa yang ingin dikehendakinya tercapai tanpa harus punya kewajiban maupun tanggung jawab untuk mematuhi hukum keluarga besar itu yang tak lain adalah hukum positif, sosial kemasyarakatan, maupun keberagamaan. Bagi orang lain, maka ia akan nampak bagai domba jinak yang elok karena nampak tidak bermasalah dengan hukum-hukum itu. Namun bagi dirinya, hukum itu hanya sekedar wacana semata, sedangkan aktualisasinya nol besar. Kondisinya akan semakin parah bilamana asumsi absolusitas mutlak dirinya itu mempunyai pembenaran, misalnya karena tidak adanya kejujuran dan keadilan, banyaknya penyelewengan maupun ketidaksesuaian antara wacana dan praktek dari individu ataupun masyarakat umum dimana ia hidup yang mestinya patuh dengan hukum keluarga besar (misalnya hukum negara RI) (di film SOTL sipembunuh menemuikan hal ini justru di sosok Hannibal yang notabene konsultan psikologisnya).

Kondisi demikian nampaknya menjadi kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja, dari kalangan mana saja. kasus Pembunuhan Berantai Ryan yang menghebohkan Indonesia belakangan ini nampaknya dapat kita pandang dengan cara yang lebih terperinci dan luas, bukan sekedar kriminalitas biasa ataupun sekedar perilaku seksual yang menyimpang, hiburan dadakan semata atau sekedar berita bagus yang dapat diblow-up oleh media masa.

Apa yang terjadi belakangan ini dengan kehebohan yang diperbuat oleh “Silence Of The Ryan” hanyalah suatu gejolak liar yang muncul dari sudut2 gelap kehidupan Bangsa Indonesia. Hal ini dapat menjadi tanda kebolehjadian bahwa banyak kalangan masyarakat di Indonesia yang mengalami suatu gejala psikologis yang kronis dimana nilai etis dan moral hanya sekedar menjadi pajangan semata atau sekedar teori semata.

Kasus Ryan sebenarnya dapat dijadikan suatu pijakan bagi masyarakat Indonesia untuk mulai bercermin. Jangan-jangan apa yang dilalukan Ryan sejatinya bayangan dari hasrat “Silence Of The Lambs” dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang disodori oleh berbagai distorsi realitas mulai dari bencana Tsunami Aceh, Kasus Lapindo, Kerusakan LIngkungan, Korupsi yang nampak semakin nyata dan terbuka melibatkan kelompok elit masyarakat , hasrat ini berkuasa dan merasa pantas jadi “Satrio Piningit” yang memimpin RI, dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya yang sudah menyentuh keadaan psikologis masyarakat yang semakin ektrim dan kurang memiliki nurani. Kondisi ini kalau dibiarkan memang akan menyebabkan lahirnya bangsa Yajou dan Majou alias Yajuj Majuj alias Bangsa Yang Gemar Menunggangi Kuda Hawa Nafsunya sendiri.

Dari kasus “Silence Of The Ryan” ini, di lingkup keluarga dan masyaraklat kecil hendaknya masyarakat harus lebih mulai jujur, lebih kritis, membuka diri dgn membangun empati dan nurani yang lebih peka. Karena kepekaan nurani adalah radar pertama yang akan mengungkapkan adanya ketimpangan sosial dan perilaku didalam masyarakat yang tidak wajar, baik secara individual maupun berkelompok. Tidak sadarnya masyarakat di sekitar rumah Ryan tentang keganjilan keadaan Ryan dan Keluarganya nampak sangat jelas dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan ini (misalnya: dimana bapak dan ibu Ryan sampai-sampai rumahnya bisa menjadi kuburan masal dalam rentang bulan juli 2007 sampai Juli 2008?). Kepolisian, seperti dikutip Koran Tempo hari ini (29/7) , malah menengarai kalau Ryan tidak sendirian. Kecurigaan Polisi saat ini terfokus pada orang tua Ryan yang nampak tidak shock serta kakak Ryan yang menggunakan motor korban Ryan tanpa merasa aneh. Bahkan di Koran Tempo, Ryan mengaku “Ada keluargaku yang melakukan itu semua. Aku hanya melindungi mereka”.

Mudah-mudahan kasus yang “lagi-lagi” menggemparkan Bangsa Indonesia ini bukan sekedar jadi berita besar ataupun gosip simpang siur yg numpang lewat. Tapi menjadi pelajaran bagi kita semua supaya tetap sadar, jujur, dan memiliki keadilan untuk menjalani kehidupan ini tanpa mengabaikan apa yang kiya yakini sebagai kebenaran yang harus dipatuhi.

“Semua manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitri, ibu bapak dan lingkungannyalah yang akan menjadikannya jahat atau taqwa” (kata gue, menurut suatu hadis Rasulullah Muhammad SAW dan Al Qur’an, see QS 91:7-10)

5 pemikiran pada “Silence Of The “Ryan”

  1. Hal ini dapat menjadi tanda kebolehjadian bahwa banyak kalangan masyarakat di Indonesia yang mengalami suatu gejala psikologis yang kronis dimana nilai etis dan moral hanya sekedar menjadi pajangan semata atau sekedar teori semata.

    Saya stuju itu… iya hanyalah pajangan atau teori semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s