Serunya perdebatan menghalal-haramkan rokok di Indonesia mulai marak lagi menjelang pemilu 2009. Entah ini isu yang terpaut komoditas politik pemilu atau bukan, nampaknya ada hal prinsipal yang patut diketahui DAN MUSTI DISADARI oleh semua Umat Islam maupun semua manusia bahwa penentuan halal dan haramnya sesuatu tidak memadai jika hanya mengandalkan rasionalitas semata atau katakan saja Dalil Aqli semata tidak cukup untuk nenetapkan halal dan haramnya sesuatu seperti disampaikan oleh Rois Aam Nahdlatul Ulama Jember . KH Najmudin di Koran Tempo 15/8/2008.

Saya sependapat dengan beliau mengingat keberagaman saya dan keyakinan saya tentang aturan Agama Islam bukan semata-mata dikarenakan alasan rasionalitas semata. Ada hal yang lebih dari itu ketika kita menetapkan suatu keyakinan dengan aturan halal dan haramnya, dan yang lebih itu berada diluar jangkauan keterbatasan rasio yang batasnya hanya sebatas membolak balik huruf dan bilangan untuk kepentingan perut semata ataupun alasan berpolitik praktis.

Anda bisa bayangkan kalau alasan rasionalitas digunakan sebagai alat untuk menetapkan halal dan haram maka SELURUH PRODUK DAN PERBUATAN MANUSIA DAPAT DIHARAMKAN DAN DIHALALKAN DENGAN MUDAH!!!

• Poligami bisa dianggap haram secara rasio seperti kasus yang dulu menimpa AA Gym.
• Menyembelih domba pas kurban haram karena menyinggung perikebinatangan dan boleh diprotes seperti dulu pernah mau dilakukan oleh Brigide Bardot yang penyayang binatang
• Bayangkan saja, saya bisa mengharamkan BBM dan turunannya karena rasionalitas saya akan menyimpulkan semua itu merusak atmosfir bumi.
• Sayapun bisa mengharamkan internet, game, ngeblog dll. karena dapat membuat lupa waktu.
• Sayapun bisa mengharamkan semua makanan dan minuman yang beredar dipasaran karena ASAL USULNYA TIDAK JELAS.
• Saya malah bisa mengharamkan dokter dan rumah sakit yang gagal menyelamatkan nyawa seseorang karena sebab-sebab rasional yang saya buat-buat.

Jadi, rasionalitas kalau kita paksakan menjadi dalil utama untuk menetapkan halal haramnya sesuatu akan membuat kita menjadi makhluk munafik karena banyak disekitar kita yang bisa menjadi haram secara rasio maupun halal secara rasio!

Karena itu saya harapkan perdebatan konyol tentang haram haramnya rokok jangan menjebak kita sebagai Umat Islam ke dalam penjara yang menuhankan rasio karena kalau sudah begitu umat akan terjebak dalam penjara Ghairil Maghdubi alaihim, cinta dunia (tentu dengan segudang alasan untuk menikmati hidup), takut mati, dan pada akhirnya mungkin saja akan menolak usia tua dengan mengatakan ketuaan adalah suatu penyakit. Pada akhirnya kitapun akan terjebak dalam angan-angan kosong menjadi INGIN kekal , muda terus, dan kaya selamanya karena rasionalitas yang telah menjadi tuhan tuhan kecil di hati.

Halal haramnya sesuatu dalam Agama Islam tidak semata-mata bersandar pada alasan rasionalitas saja.Ada alasan yang lebih dari itu mulai dari aspek sosio psikologis maupun kesehatan.

Jika hanya sekedar alasan rasionalitas maka kita akan dapat menghalalkan daging babi dan minuman memabukkan dengan rasionalitas yang kita buat-buat seolah –olah benar. Bahkan penyimpangan seksual pun bisa menjadi halal hanya semata-mata karena alasan rasionalitas.

Ingatlah kalau keberagamaan kita harus didasarkan pada keyakinan dan keimanan yang melampaui batas rasionalitas yang terukur dan terbatas.

Jika tidak demikian maka aturan agama akan identik dengan hukum positif yang didasarkan pada hukum-hukum yang berlaku pada umumnya. Karena itu saya kira harus menempatkan masalah rokok ataupun yang lainnya pada proporsi yang tepat dan tidak perlu membawa-bawa MUI segala untuk menetapkan aturan mainnya. Cukup hanya pemerintah atau pun aturan lokal (misalnya suatu perusahaan atau komunitas) masing-masing yang memberlakukan ketentuan tentang merokok ini.

Ini memang era reformasi, tapi mohon sejenak merenung jangan sampai ada tumpang tindih yang menyesatkan antara keberagamaan seseorang sebagai suatu keyakinan dan keimanan dengan aturan main yang harus dipatuhi baik sebagai orang beriman maupun masyarakat awam yang patuh secara hukum atau aturan lokal.

Kerancuan antara iman, yakin, akal maupun rasionalitas bisa memunculkan kesalah pahaman yang tidak perlu terjadi BAHKAN BISA MEMBUAT ORANG MENJADI PENYEMBAH BERHALA RASIO bukan tuhan yang sebenarnya tapi hantu karena ketakutan atas kematian yang bisa menyergap siapa saja, kapan saja, baik perokok maupun bukan, baik yang lagi enak-enaknya mencalonkan diri jadi presiden atau pun rakyat jelata yang miskin dan papa yang tidur di emperan toko jalanan.

Beragama dan berkeyakinan memang perlu rasio, tapi tidak cukup hanay sekedar menggantungkan diri pada rasio karena agama dan keyakinan dengan iman dan taqwanya berada diluar batas rasionalitas kita yang hanya sebatas angka 0 sampai 9 dan huruf alif sampai ya atau a sampai z.

“Akan kami masukkan ke dalam hati orang2 kafir rasa takut, disebabkan mereka memeprsekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidka menurunkan keterangan tentang itu” (Ali Imran : 151)

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia akan memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Yunus : 107)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s