<p>Ini puasa hari ke-26, jalanan menuju Jakarta mulai berkurang ramainya. Tidak dapat dikatakan sepi juga sih. Jelasnya, kemacetan yang sudah biasa dan lazim ditemui di hari kerja menuju Jakarta belakangan ini makin menyurut. Sebaliknya, arus lalu lintas ke luar kota Jakarta alias arus Mudik Lebaran makin hari nampak lah makin meningkat. Tentu saja, wong kurang dari seminggu lagi Hari Raya Iedul Fitri kok.</p>
<p>Itulah suasana dan tradisi yang setiap tahun hanya dapat ditemui di Indonesia – Mudik Lebaran besar-besaran – dimana jutaan manusia dalam waktu singkat melakukan mobilisasi sendiri, atas niat sendiri, untuk kembali ke kota asal, kampong asal, tanah asal, atau apalah namanya yang bisa di sebut Kampung Halaman.</p>
<p>Bagi yang sudah tidak punya kampung, tidak jarang juga maksa dipunya-punyain biar berasa tetap punya kampung halaman. Orang betawi yang sudah tergusur ke pinggiran Jakarta pun tak luput pula melakukan acara mudik. Setidaknya mudik ke kampung asal yang mungkin sudah jadi apartemen, mall, showroom, lapangan bola, ataupun malah jadi kuburan. Sambil jalan kembali masuk ke dalam kota, melintas di kampung yang lama, dan berupaya lirak-lirik masih ada nggak sodare atau temen yang tersisa. Sebelum akhirnya mungkin hanya bisa sekedar nyekar ke kuburan ortu di Jakarta.Acara mudik orang betawi pun memang boasanya ya sebatas jalan2 kembali kedalam kota mengenang kejayaan masa lalu dan menyesali nasib masa kini yang mungkin dirasa apes.</p>
<p>Lebaran menjelang dan kita kembali ke kampung asal? Ah rada aneh juga kalau mau menghubungkan Hari Raya Iedul Fitri yang artinya hari kemenangan dari nafsu dan menyucikan jiwa dihubungkan dengan Pulang Kampung. Kalau dipaksakan sih memang ada juga artinya. Tapi ini harus dipahami dengan manuver kata2, yaitu manuver dari kata-kata ruhani menjadi kata-kata literal lahiriah yang lebih nyata dilihat tapi seringkali dangkal artinya. Kecuali sekedar hura-hura.</p>
<p>Iedul Fitri sebagai hari kemenangan ruhani Umat Islam untuk menyucikan jiwa dgn menahan haus dan lapar maupun segala syahwat memang mempunyai tujuan yang erat kaitannya dengan pengertian kembali ke asal dengan taqwa. Tapi yang dimaksud adalah asal muasal jiwa manusia yang fitri. Suci bersih dan tentunya tulus dan jujur guna menjalani kenyataan hidup dengan taqwa. Jadi, sudah ada kemiripan kan dengan “kembali ke asal” dalam pengertian “kembali ke kampung halaman”. Mungkin disinilah “kesamaannya” antara arti Iedul Fitri sebagai Hari Raya Umat Islam, dan pengertian “pulang kampung” suku2 bangsa Indonesia yang biasanya dilakukan pas akhir ramadhan. Jadi pulang kampung di bulan Ramadhan sebenarnya tradisi lokal karena yang pulang kampung bukan saja yang agamanya benar2 Islam. Banyak yg non-muslim jug aikut, misalnya taoke2 China, orang yg beragama kristen, kejawen, bahkan yang ateispun pulang kampung juga di waktu2 lebaran juga. Yang jelas, pas musim pulang kampung atau mudik ini putaran uang rakyat dari kota ke desa demikian dahsyat. Saking dahsyatnya, tidak tanggung-tanggung banyak juga yang mensponsori acara pulang kampung ini. Sebut saja mulai dari pabrik Jamu sampai operator seluler. Jadi bisa dilihat kan, sponsor yang berani tentu dengan harapan besar jika produknya makin dikenal masyarakat, dan akhirnya kelak semakin laris manis.</p>
<p>Sayangnya, meskipun putaran uang demikian besar, bahkan gonjang ganjing kebangkrutan ekonomi AS pun lenyap senyap kalah dengan hiruk pikuk acara mudik lebaran, kalau diukur atas dasar capaian bulan Ramadhan acara mudik ini justru mengundang kontradiksi. Karena disaat mudik itu pula kita melihat tanda-tanda “kegagalan menyikapi bulan Ramadhan”. Bahkan, belakangan ini kegagalan ini tidak tanggung2 melanda langsung kelompok maupun perorangan yang mengaku beragama Islam dan membela Islam pula. Lihat saja kasus2 yang terjadi pas pertengahan Ramadhan mulai dari jatuhnya korban zakat maut, pertengkaran massa berbau agama karena rebutan jatah pemilu, pertengkaran di ruang sidang, dan terakhir -naudzubillah min dzalik- perkelahian di jalanan antara kelompok osmas yang sama2 ngaku2 Islam.  Nah itulah sekelumit tanda kegagalan Masyarakat Indonesia ketika menyikapi Ramadhan dan Iedul Fitri yang tanpa malu2 dipertontonkan kepada semua orang.</p>
<p>Bentar lagi lebaran, mudah2an kita termasuk orang yang masih berada di koridor Umat Islam yang menyikapi Ramadhan dan lebaran dengan benar, lurus, dan jujur sehingga barokahnya terasakan di waktu mendatang. Dan itulah baroqah malam seribu bulan alias al-Qadr dimana nilai-nilai al-Quran jatuh kedalam hati yang diridhoi Allah dan menjadi cahaya sakinah yang menerangi perjalanan hidupnya kelak sebagai jiwa-jiwa yang tenang, yang kembali dengan ridho-Nya.</p>
<p>Taqobbalallohu minaa wa minkum. shiyamana wa shiyamakum. mohon maaf lahir dan bathin. selamat idul fitri 1429 H</p>
<p>End, met liburan ya..jangan lupa tanggal 7 masuk lagi lho….</p>
<p>Eh jangan lupa, bagi yang mau mudik dan perjalanan jauh  berdoa dengan baca ini :</p>
<p><strong><br />
<blockquote>Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini, kami selalu bersama-Nya, dan hanya kepada Rabb kamilah, kami dikembalikan.<br />
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kebaikan, ketaqwaan, dan segala perbuatan yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan berilah kami kemudahan melintasi jauhnya perjalanan ini.<br />
Ya Allah, Engkaulah pemilik perjalanan, penjaga anak dan keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala bencana perjalanan, pandangan yang tidak menyenangkan, dan akibat yang buruk pada harta, keluarga dan anak-anak.</p></blockquote>
<p></strong></p>
<p>Wass</p>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s