Kamis kemarin (22/9/2016), dukun lepus pengganda uang bernama Dimas Kanjeng yang sering ngaku kiai dengan santri berjumlah 5000-an ditangkap karena tuduhan membunuh dua santrinya yang diduga mau membocorkan trik tipuannya. (baca berita lengkapnya disini)

Masalah Nabi atau Rosul palus sebenarnya penyakit umat beragama ketika mulai dihinggapi ilusi tentang kenabian dan kerasulan tanpa suatu pemahaman yang utuh atas keyakinannya kecuali semata-mata gejolak nafsu ibadahnya sendiri yang merefleksikan niat-niat awalnya yang bengkok ketika menempuh jalan ruhani.

 

Peristiwa aku mengaku nabi dan rosul bukan hal baru dalam sejarah Umat Islam, bahkan di setiap agama pun ada. Namun, dalam lebih dari dua abad ini kebanyakan muncul dikalangan Umat Islam. Yang paling menohok karena disokong oleh kekuasan politik dan militer era kolonialisme adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyyah yang mengaku nabi dengan sokongan Inggris sebagai promotornya.

 

Selama bertahun sampai berabad, dengan berbagai argumentasi yang kuat maupun yang lemah, bahkan setelah kolonialisme tumbang, masalah Ahmadiyyah tetap hadir bagai duri dalam daging Umat Islam. Ahmadiyyah bagi Umat Islam kebanyakan bagaikan crypto yang disisipkan; virus yang disisipkan untuk kemudian dibiarkan berkembang dengan segala dilema yang dihadapinya, dan tentunya sewaktu-waktu dimanfatkan untuk berbagai tujuan tanpa memperhatikan keselamatan pemeluknya maupun keselamatan Umat Islam lainnya. Dan tentu yang paling merasakan dampaknya, pada akhirnya, adalah kalangan Umat Islam sendiri, baik yang berada dalam kelompok Ahmadiyyah maupun yang lainnya. Saya mempublikasikannya belakangan ini hanya sekedar menambahkan pengetahuan kepada diri saya maupun orang lain supaya pemahaman kita tentang kenabian dan kerasulan memberikan suatu gambaran yang utuh tentang makna dan arti dari ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan berakhirnya zaman atau era kenabian dan kerasulan seperti diungkapkan dalam QS 33:40 berikut yang menjadi dasar penulisan artikel ini. Benar atau tidaknya silahkan anda baca dan renungkan dengan potensi pikiran dan pemahaman Anda sendiri.

 

 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q33:40)

 

Dia adalah Rasul Allah dan Penutup Para Nabi. Hal ini menjelaskan bahwa Rasul dalam pengertian di atas berhubungan dengan adanya sesuatu yang disampaikan kembali yaitu Firman-firman Tuhan (yang berasal dari nabi dan Rasul sebelumnya). Dalam Bahasa Arab seringkali Rasul dikatakan sebagai orang yang menjadi pembimbing kaumnya dan mempunyai risalah. Risalah yang dimaksud bukan saja secara tertulis namun juga yang didasarkan atas Pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri dari akhlak yang mulia maupun dari kedalaman jiwa murninya berdasarkan Daya dan UpayaNya dengan kehambaan dalam adab Aslim dengan Islam (tertunduk dan berserah diri) yang lurus.

Jadi, adab Islam menjadi penting karena merupakan adab fundamental kearifan universal kaum beriman setelah suatu proses panjang perjalanan dilakukan baik dengan potensi fisik maupun mentalnya, perenungan, fikiran dan tindakannya. Tanpa adab universal yang berserah diri maka klaim apapun dari seseorang mengenai perjalanan ruhanuinya adalah kepalsuan dan ketidakpahaman.

 

Ia sebagai Rasul pun akhirnya menerima Risalah dari pemahaman yang sempurna tentang Asma, Sifat dan Perbuatan-Nya secara “Ummi” dan “Yatim Piatu” hanya dengan bimbingan Jibril yang mewakili aktualitas Pengetahuan Tuhan sendiri yaitu Tauhid. Jadi tidak ada bantuan lain selain dari Allah melalui Jibril dan tidak ada referensi artifisial (buku, kitab, makalah, dll) yang digunakan oleh Muhammad sehingga ia mandiri dan Ummi dari intervensi pihak lain ketika memahami tanda-tanda Pengetahuan Tuhan.

 

Jibril sebagai pembimbing, atau mungkin mempunyai beberapa nama dalam literatur kuno, bukan sekedar sosok makhluk yang disebut sebagai malaikat, sebagai membawa pesan. Namun, ia sebenarnya sosok yang dihadirkan dengan imajinasi kreatif pelaku ruhani tersebut sebagai instrumen yang mengaktualisasikan pesan Tuhan yang tentunya tidak selalu dengan gamblang dapat dimengerti. Sebelum pesan Tuhan tersebut aktual menjadi seuntai wahyu, maka ada suatu proses yang dijalani pelaku ruhani tersebut sehingga kehadiran Jibril justru sangat dekat dan setiap saat ada bukan suatu yang sesaat-sesaat atau kumat-kumatan.

Jibril karena itu lebih mirip sebagai pengawal pribadi yang siap melepaskan bulu-bulu sayapnya untuk dijadikan qalam (pena) yang dicelupkan kedalam wadah tinta pengetahuan Tuhan di pikiran pelaku dan memandu si penerima wahyu untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan si pemberi wahyu sebenarnya.

Karenanya sosoknya menjadi imajinal tanpa deskripsi yang jelas, selalu berubah sesuai dengan kadar dan potensi si penerima pesan dan tentunya disesuaikan dengan suasana dan kondisi-kondisi ruhani yang aktual dan terjadi kepada si penerima pesan. Jenis pesan yang disampaikan pun tidak vulgar menyoroti suatu permasalahan namun mengupas dikedalaman inti permasalahannya, sehingga dalam posisi sebagai penerima maka seseorang misalnya Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah sosok yang sama pengertiannya dengan Ulul AlBab. Karena itu, ia tidak akan menyampaikan dengan menyebutkan sesuatu yang khusus misalnya menyebutkan si “fulan” atau suatu keadaan khusus dalam bentangan satu waktu yang sempit misalnya “sekarang, kini, atau nanti”, atau mendeskripsikan suatu keagungan Ilahi dengan nama temporer misalnya “Pelangi itu sangat indah”. Tapi,  Ia akan menjelaskannya secara mendasar dengan sibol-simbol khas yang kelak hanya dapat dipahami oleh mereka yang mempunyai pengalaman yang serupa tapi tak sama (ruang-waktu dan konteksnya) seperti saat ia mengatakan kepada Muhammad apakah arti Islam, Ihsan, dan sejenisnya. Jibril sebagai pembawa pesan hanya menjadi eksitator awal saja, sebagai guru yang membimbing untuk menjelaskan atau menegaskan suatu prinsip dasar yang berkaitan dengan misi si pembawa pesan tersebut. Sehingga ia akan menyatakan pesan Tuhan sesuai dengan potensi si penerima pesan dengan tepat, dapat dievaluasi dengan lebih seksama untuk memperoleh penerapan yang lebih praktis (didiferensiasikan), dan yang jelas memenuhi kaidah rasional yang terbatas maupun kaidah yang menyiratkan ketidakterbatasan dari si pemberi perintah dan wewenang yaitu al-Haqq sendiri. Tanpa ciri demikikian, maka klaim tentang pesan dari Jibril ataupun jenis malaikat lainnya bisa dikatakan hanya ilusi yang dipenuhi hawa nafsu.  

 

Pengertian Rasul dalam QS 33:40 bagi Muhammad tidak terlepas dari kenabiannya yang menjadi penutup. Jadi, kenabian dan kerasulan yang berhubungan dengan Pengetahuan Tuhan yang disampaikan kepada Muhammad secara mandiri berhenti dalam konteks paling mendasar yang berhubungan dengan “Prinsip-prinsip Dasar Kehidupan” yang perlu disampaikan dan telah disempurnakan bagi semua makhluk terutama manusia sebagai muslim (tentunya beradab Islam) supaya mempunyai pedoman hidup.

 

Yang dimaksud pada akhirnya adalah Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu, sebagai Wacana Fundamental bagi semua manusia (Dzikrul Lil ‘Aalamin, Mukminun). Sehingga sebutan Rasulllah melekat kepada Nabi Muhammad SAW dengan akhlak al-Qur’an. Era penulisan risalah setelah Al Qur’an dibakukan atas petunjuk langsung Nabi Muhammad SAW kepada tim penyusunnya, selanjutnya hanyalah sekedar tafsiran saja, atau penjabaran dari Risalah yang disampaikan Muhammad SAW sebagai Utusan Tuhan yang terakhir. Jadi, semua pesan kenabian maupun kerasulan dapat dirasionalisasikan dengan pranata model dan metodologi keilmuan yang dapat diuji kesahihannya sesuai dengan ruang-waktunya, bukan semata-mata syair tanpa konsep, arti, makna dan dimensi praktis. Syair yang tidak mampu didiferensiasikan tak lebih dari permainan kata-kata para penyair belaka. Ia mungkin hanya menjadi petai-hampa semata, gambaran nafsu yang dapat diartikulasikan dengan semua lidah manusia tak bertulang. Dan semua orang bisa membuat syair asalkan ia bisa berbahasa. Karena itu tidak semua syair menjadi wahyu, tapi semua wahyu pasti mengandung suatu kaidah syair yang dapat dijabar-uraikan dengan pengetahuan manusia, baik pengetahuan numerik-matematis, kebahasaan, psikologi, dan cabang ilmu lainnya.

 

Ketika Tuhan berfirman dengan QS 33:40 diatas, Dia secara langsung memerintahkan Muhammad SAW untuk menutup dan  mendekonstruksikan zaman kenabian dan kerasulan menjadi zaman baru yang tidak lain adalah awal lahirnya Peradaban Islam (Peradaban yang puncaknya adalah lahirnya kesadaran, keberserahdirian, dan kenyataan bahwa sejatinya pengetahuan yang dipahami manusia untuk menghadirkan kehidupa yang dinaungi Basmalah itu lemah dan bersifat fana karena itu hanya Wajah Tuhan saja yang kekal) yang kelak akan berpengaruh di sepanjang zaman meskipun kemasannya sudah dipoles disana-sini sesuai dengan ruang-waktu penganutnya.

 

Firman itu juga akhirnya membuka realitas baru dengan lahirnya Islam sebagai Agama dan Peradaban Dunia dimana semua kenyataan hidup dikembalikan kepada kemampuan yang ada pada manusia dengan dzikir, fikir dan ikhtiarnya guna memahami fenomena kehidupan serta kemungkinan-kemungkinan untuk meraih arti dan makna kehidupan dengan kualitas al-Qur’an (kualitas yang digambarkan sebagai kualitas akhlak muhammad, atau kualitas Basmalah) dimana ilmu pengetahuan yang lurus dan terverifikasikan harus diterapkan sebagai suatu sarana mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Kelak ketika hal ini benar-benar dilakukan oleh Umat Islam, dimanapun juga, maka akan lahir era keemasan Islam baik sebagai “Gaya Hidup” maupun “Peradaban” dengan seni, sains, teknologi dan relijiusitas yang mumpuni, yang fondasinya kokoh, sandarannya kuat, adabnya Islam dan tujuannnya jelas yaitu mencapai ridhoNya. 

 

Karena itu, meskipun ayat diatas menyebutkan berakhirnya era kenabian namun ia juga menetapkan berakhirnya era kerasulan karena Nabi dan Rasul dalam diri Muhamad SAW menjadi satu dengan sempurna. Tak ada lagi pengetahuan lain bagi manusia setelah  Rasulullah sebagai sebutan Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Risalah Wahyu.

 

Wahyu-wahyu Tuhan sendiri sampai detik ini masih berkeliaran, namun tak ada Wahyu baru karena secara mendasar Wahyu-wahyu Elementer (BACA: Bilangan dan Huruf Abjad/Alfabet) untuk memahami segala sesuatu telah disempurnakan di zaman Muhammad SAW menjadi suatu ungkapan Wahyu yang mempunyai arti literal maupun arti yang lebih halus lagi, arti lahir dan arti batin, yang mencakup awal dan akhir semua pengetahuan manusia yang sejatinya kembali kepada diri sendiri (simak QS 57:3 dan QS 67:3-4).

 

Sebagus apapun orang menulis sebuah risalah dari pemahamannya yang artifisial, namun risalahnya tak lebih dari tafsiran Al Qur’an dengan sistem bilangan dan huruf yang itu-itu saja. Maka, siapa pun yang telah merampas jubah Kesombongan Allah yang telah memberikan Risalah Kepada Muhammad SAW dengan ISLAM yang sempurna karena formalisasinya dirumuskan berdasarkan kenyataan tentang kehidupan, maka ia akan berada dalam ancaman dari-Nya dengan asma-Nya Yang Maha Menghinakan. Dan siapapun yang sesudah Muhammad SAW mengaku-aku menjadi Nabi maupun rasul, ia tidak lebih dari nabi dan rasul palsu,  yang tersesat karena tertipu daya oleh ego dirinya yang merusak, atau telah mengalami personality dis-order sesuai dengan prasangka nafsunya misalnya prasangka kekanak-kanakan yang dibangun Lia Eden, prasangka kemahdian yang dibangun kelompok yang mengaku menjadi penyelamat akhir zaman, ataupun prasangka lainnya, baik yang bersifat komunal maupun individual (misalnya dengan menggunakan gelar yang aneh-aneh seperti Mahaguru Lugu Lucu, Ki Joko Dungu, Kiai Kuntul Semprul, Syekh Kuntul Gateli, dll). Dan semua itu akhirnya menunjukkan ketertutupan yang nyata dari pengetahuan tentang kenabian maupun kerasulan.

 

Al Mahdi

 

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 36:20-21)

 

 

Seperti halnya mentari yang tak pernah menagih imbalan kepada semua makhluk atas siraman cahayanya, oksigen, air, udara,  tanah, dan semua unsur pembangun kehidupan, yang tak pernah juga meminta imbalan, maka ikutilah orang yang mengajarkan dengan petunjuk Ilmu Pengetahuan yang lurus, Shirathaal Mustaqiim, dengan bimbingan yang benar tanpa meminta imbalan.

 

Merekalah hamba-hambaNya yang sejati, merekalah al-Mahdi yang sesungguhnya. Dan mereka bisa jadi, Anda, anda , anda dan siapa saja  yang menetapi jalan keikhlasan dengan yaqin, istiqomah, syabar, syukur, dan tentunya berkesadaran atas CintaNya bagi semua makhluk, Dia – Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

 

Apa arti sesungguhnya kata “al-mahdi” yang sering diaku-aku oleh banyak manusia yang keliru memahami istilah dan nama tersebut?

 

Menurut Syekh Muhyidin Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah bab 366 (referensi yang mengulas hal ini silahkan donlot di situs http://www.ibnarabisociety.org  ulasan karya James Morris yaitu di http://www.ibnarabisociety.org/articlespdf/sp_mahdi.pdf) yang banyak dijadikan bahasan para pemikir orientalis maupun tasawuf, kata Al-Mahdi tidak ada di dalam al-Qur’an sebagai suatu nama. Namun dalam bentuk asalnya adalah pasif partisipel dari kata kerja “hada” (artinya “memberi arah atau bimbingan yang benar , di jalan yang benar’). Secara harfiah al-Mahdi berarti “orang yang terbimbing dengan benar”. Dalam AQ, arah yang benar tidak lain adalah menuju dan sampai kepada Allah, bersama Allah (Bismillah), dengan daya dan upaya Allah, dan dengan Pertolongan serta Perlindungan Allah dengan Berserah Diri alias Islam. Tidak ada kehendak “aku sebagai makhluk berkekuatan” di dalam proses perjalanan tersebut, yang ada adalah kehambaan mutlak dengan adab Islam (menjadi mukmin dalam arti sesungguhnya).

 

Meskipun bentuk akar kata “hada” dijumpai di AQ hampir 330 kali, tapi bentuk kata “al-Mahdi” tidak ada dalam al-Qur’an.  Meskipun di beberapa hadits yang masih diperdebatkan al-Mahdi sering muncul sebagai sebuah “nama” kehormatan atau gelar. Namun, makna dan artinya sesungguhnya menunjuk kepada makna biasa yang menjelaskan sosok yang spiritual yaitu yang “memperoleh bimbingan yang benar”, yang telah menerima secara aktif dan mencerap tataran isyarat Ilahiyah dalam kehidupan yang paripurna.

 

Bahkan dalam banyak hal penerima itu sendiri sebagi “al-Mahdi” merepresentasikan Kehidupan dalam seluruh tatanan realitas karena cerapannya mewakili pengalaman  Isra dan Mi’raj Muhammad SAW. Namun, tentu saja, aktualitasnya berdasarkan potensi-potensi dasarnya yang sesuai dengan ruang-waktunya, sunnatullahNya, dan tentunya berbeda dengan pengalaman Nabi Muhammad SAW di zamannya.

 

Dalam bentuknya yang kongkrit dan umum, al-Mahdi sebenarnya Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan Allah, serta mengikuti sunnatullrasul dengan taqwa. Jadi, apa yang disebut al-Mahdi secara umum sebenarnya adalah  Umat Islam yang patuh pada perintah dan larangan-Nya sebagai Pewaris Pengetahuan Tauhid melalui washilah Nabi Muhammad SAW sebagai gurunya. Karena itu, adalah kemustahilan kalau al-Mahdi justru menyimpang dari ajaran Islam dimana Shalat merepresentasikan Namaz, Miraj, Iman, Islam dan Ihsan sebagai penyaksian dan aktualitas Jamal dan Jalal Allah dengan syahadat :

 

Laa ilahaa illaa Allah, Muhammadurrasulullah

Dan tidak ada tujuan lain bagi semua makhluk ciptaan Allah kecuali  hanya menjadi saksi dan menyatakan kembali Jamal dan Jalal Allah dengan kalimat syahadat tersebut. Maka , ia yang mengaku menjadi Utusan Tuhan dengan istilah apapun, apalagi mengabaikan kalimat syahadat dan shalat , serta tidak memenuhi syarat dasar sebagai yang terbimbing dengan benar dengan berserah diri sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan HANYA bergantung pada Pertolongan Allah semata tidak lain adalah Tukang Kibul atau Orang yang terkelabui oleh nafsu ibadahnya sendiri. Individu demikian, dalam sejarah gnostis seringkali dikiaskan dengan gambaran nafsu yang liar dengan pengibaratan klasik yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno yaitu gambaran “nafsu keanjingan” atau DOG yang direfleksikan menajdi “GOD”. Gnostikus alfabet pencipta kata DOG mungkin sangat kenal dengan idiom terselubung yang menjadi nama umum dari tuhan alias dog tersebut. Di Indonesia kita pun memunculkan nama umum Pencipta menjadi “tuhan” dari kata “hantu” yang tidak jelas bentuknya namun seringkali digambarkan sebagai ungkapan “rasa takut karena ketidaktahuan”. Kisah Siti Jenar di tanah Jawa yang dibunuh oleh Wali Songo dan kemudian dikisahkan menjadi anjing, adalah contoh kearifan lokal yang melihat potensi bahaya ketika kondisi psikologis seseorang yang bersifat individual mencuat menjadi egosentrisme “manunggaling kawulo gusti” sehingga muncul menjadi pengajaran yang membawa kesesatan ketika dinyatakan secara komunal di masyarakat yang belum siap untuk menerima ilmu yang benar.

 

Tak ada parameter lain selain kalimat Syahadat dengan Islam sebagai adab manusia yang utuh (waras, sehat lahir dan batin) sebagai syarat untuk menilai seseorang maupun suatu kaum telah berlepas diri dari Rahmat Allah. Jadi, silahkan Anda mengambil sikap apakah masih Islam atau malah berlepas diri dari Rahmat Tuhan untuk menampilkan Murka-Nya dan Asma-Nya Yang Maha Menghinakan.

 

Proses Pencarian, Diantara Kegagalan dan Keberhasilan

 

Di setiap zaman, seperti dituliskan dalam paragraf awal tulisan ini, klaim kenabian, kerasulan maupun kewahyuan selalu akan muncul. Hal ini tidak saja terjadi dalam agama Islam, namun agama samawi lain yang mengimani adanya kemahdian atau mesianisme pun ada (Yahudi dan Kristen). Bahkan pengajaran yang didasarkan pada kebajikan timur seperti Hindu, Budha, Zen, atau pun ajaran yang lainnya gagasan mesianisme dapat ditemui.

 

Dalam banyak aspek, kasus-kasus yang melibatkan suatu klaim spiritual ataupun klaim yang berhubungan dengan proses perjalanan ruhani akan selalu muncul di setiap zaman. Baik pada akhirnya muncul menjadi suatu komunitas kecil maupun komunitas besar harus disikapi sebagai suatu proses pencarian dengan tahapan-tahapan pemahamannya masing-masing.

 

Yang penting dan perlu diperhatikan karena itu adalah pada aspek2 praktek kehidupan yang merefleksikan kehidupan yang real dan nyata bukan eksklusif, tertutup, picik dan egosentrik; atau praktek yang justru menjadi sumber masalah karena melakukan klaim sepihak dan hujatan sepihak atas penganut agama lain atau ajaran lain yang kemudian disebarkan sebagai suatu anjuran. Yang terakhir ini memang patut ditindaklanjuti lebih jauh oleh pihak yang berwenang supaya tidak terjadi keresahan di masyarakat, ataupun ditunggangi untuk kepentingan tertentu, baik kepentingan politik kekuasaan, ketenaran semata, atau motivasi menyimpang lainnya.

 

Ungkapan-ungkapan klaim Imam Mahdi atau mesianisme lainnya akan selalu berulang. Lucunya pada orang atau kelompok tertentu “yang kurang sadar telah membentur tembok kelemahan dirinya sendiri, baik kelemahan pengetahuan maupun akalnya” akan muncul dilema mentality-disorder dimana mereka akan terjebak dalam tempurung prasangka nafsunya. Misalnya terjebak dalam sifat kekanak-kanakkan yang tak pernah direalisasikan (menjadi raja-rajaan, dewa-dewaan, tuhan-tuhanan dll), impian yang menjadi obsesi (misalnya bermain musik, melakukan ritual khusus, mengkhayal jadi pahlawan galaksi dll), bahkan menjadi megalomania yang melampaui batas (misalnya menjadi firaun, hitler, pahlawan super dll). Tentu saja setiap klaim akan muncul merasa paling pantes, paling benar, paling paling kuno, paling baru atau panghebatna, padahal isinya kalau direnungkan lebih dalam akan sama saja. Bahkan kalau lebih dalam lagi akan terlihat titik balik dari kebenaran yang akhirnya justru berbelok menjadi penyimpangan atau ketersesatan bahkan menunjukkan indikasi kegilaan.

 

Setiap zaman hanya bahasa dan prakteknya saja yang beradaptasi sesuai lingkungan hidup dan waktu hidup karena jika tidak demikian maka kelompok manusia tersebut justru menentang perubahan arus waktu dan menjadi egosentrik, mengucilkan diri, atau maunya paling benar sendiri, karena terjebak dalam limbo sejarah atau impiannya.

 

Pada akhirnya ajaran ini berpotensi merusak dari dalam karena jika tidak punah mungkin akan terjadi perpecahan sendiri karena dalam kelompok kecil tersebut ada yang merasa menjadi “pang pinterna” atau menjadi “paling hak untuk penguasa ilmu tersebut” karena merasa paling dekat dengan Tuhan.

 

Dan sikap tersebut kelak muncul menjadi benteng feodalisme pengetahuan dengan potensi korup, manipulatif, dan menipu diri sendiri dengan membangun imej dan imajinasi yang terdistorsi.

 

Contoh bagaimana komunitas-komunitas keyakinan berkembang di Indonesia maupun wilayah lainnya dengan “mengucilkan diri” bagi saya justru menampakkan kejahiliyahan ajaran tersebut karena tidak selaras dengan hukum Pencipta yang mutlak yaitu inharmonia progressio, adaptabilitas, perubahan, atau kehidupan yang mesti sesuai dengan ruang waktu dan zamannya atau sesuai dengan sunnatullahNya, dan mestinya bisa dipaparkan bagi semua orang (knowledge for everyone) tanp aharus memaksa orang lain untuk ikut, tanpa harus mengiming-imingi dengan rayuan gombal, apalagi memaksakan kehendak dengan memfitnah umat yang tidak sepaham.

 

Akibat langsungnya muncul eksklusifitas, ketertutupan dan akhirnya tentu justru menjadi emotional blocking yang berlebihan ketika memandang satu masyaralat lain yang tidak mau mengikuti ajarannya, ketika melihat yang lain berkembang pesat, misalnya menjadi antipati dengan ajaran Islam, Kristen, dll. Kelemahan ajaran-ajaran yang bersifat eksklusif inilah yang akhirnya justru menampilkan perilaku yang akhirnya merugikan diri sendiri dan orang lain, dan menjadi sumber masalah sosial. Jadi bukan semata-mata tidak diberi kesempatan atau tidak, tapi memang pada dasarnya ada “mental blocking dan kurang mau bertanggung jawab secara personal maupun kolektif” dan tidak mau melihat kenyataan hidup yang berjalan. Akhirnya kelompok eksklusif ini terbelenggu kedalam lingkaran tertutup kepicikan dan egosentrisme komunal yang over dosis dan merugikan diri sendiri, menjadi penyaru yang ahli, dan tentu memunculkan sikap terselubung yang tidak transparan bahkan akan muncul kesan licik, aneh, bahkan akhirnya memang bisa muncul kegilaan massal yang diselubungi sikap yang nampak baik hati tapi penuh kepalsuan, bahkan cenderung menipu.

 

Jika sikap egosentris berlebihan yang muncul maka tentu yang muncul adalah ajaran-ajaran yang nampak sepintas prinsipnya diatas kertas nampak seperti benar tapi pada prakteknya tidak proporsional karena tidak mampu beradaptasi dengan zaman dan lingkungan. Ajaran Lia Eden, Madrais, Mahesa, dll pun akhirnya memang terpuruk kedalam penjara kebenarannya sendiri seperti hari ini kita lihat.

 

 

Mengatasi Permasalahan Umat

 

 

Di zaman yang sudah berkembang pesat, pengetahuan mudah diakses, dan kini kita memasuki masa tranformasi zaman yang lebih baru ini barangkali ada perlunya lembaga ataupun organisasi yang mengurusi soal keyakinan seperti MUI mempunyai suatu badan khas lintas agama dan keyakinan yang bertugas tidak sekedar mengeluarkan fatwa halal dan haram semata tanpa mengupas inti permasalahannya yaitu psikologi manusia yang berhubungan dengan perjalanan ruhani.

 

Disini peran lembaga atau badan tersebut tidak sekedar melakukan dialog semata atau menghakimi semata, tetapi juga melakukan pengujian atas klaim seseorang atau sekelompok orang dengan konsep, model, dan metodologi yang baku yang berhubungan dengan potensi-potensi manusia secara psikologis ketika melakukan prosesi pencarian kebenaran, perjalanan keruhanian, penyucian jiwa, ataupun katakan saja suatu fenomena kenabian dan kerasulan.

 

Lembaga atau badan ini tentunya mempunyai sumber atau cara secara metodis yang dapat dipercaya dan benar-benar teruji sehingga klaim seseorang dapat disimpulkan benar atau tidaknya, dan dapat diuraikan baik bagi kepentingan individu atau pelaku yang merasa menerima wangsit, wahyu, ataupun sejenisnya.

 

Hal ini perlu dilakukan karena zaman sudah berubah. Pengetahuan gnostis bukan lagi suatu rahasia tapi sudah bertebaran di internet, ataupun di pustaka-pusataka yang mengkaji masalah tersebut, baik secara ilmiah ataupun tidak. Pengetahuan gnosis atau keruhanian dari membaca buku sifatnya artifisial sehingga berpotensi salah tafsir apalagi kalau di pembaca tidak mepunyai pengalaman langsung. Karena itu klaim-kaim kenabian maupun kerasulan perlu diuji  kebenarannya yang didasarkan pada suatu ukuran yang sahih dimana ukuran ini mengandung kebenaran universal namun juga kebenaran dari pengalaman langsung tersebut, bukan sekedar karena membaca kitab-kitab tapi juga membaca kitab kehidupan yang nyata yaitu akhlak dan perilaku kita sendiri.

 

Disini cabang keilmuan yang perlu dikuasai adalah parapsikologi, psikologi manusia khususnya untuk bagian mentality-disorder, psikologi tranformasi yang belakangan ini berkembang pesat, tasawuf dan tentunya ilmu keagamaan sendiri sebagai suatu sistem keyakinan. Bagaimanapun juga perlu bimbingan bagi mereka yang merasa mendapat wangsit agar tidak menjadi sesat jalan ataupun menyesatkan orang lain yang tidak paham, atau terjebak dan terpesona dengan keajaiban-keajaiban misalnya keajaiban penyembuhan, pencarian kekayaan, dll.

 

MUI sebagai lembaga resmi dalam agama Islam, ataupun departemen agama secara umum, saya kira perlu mempunyai bagian atau divisi khusus seperti itu sehingga kekacauan yang terjadi ataupun kekeliruan yang berkembang di masyarakat karena egosentrisme kekanak-kanakkan yang mencuat menjadi klaim keagamaan atau keyakinan tidak meresahkan ataupun tidak mendiskreditkan suatu agama maupun keyakinan lainnya yang sudah diakui. Jalan keluar pun harus diberikan bagi seseorang atau kelompok yang mengalami dilema psikis keruhanian ini. Jadi, solusinya bukan sekedar mengeluarkan fatwa halal, haram atau pelarangan semata. Tapi benar-benar solusi yang bisa membimbing kembali dan mendudukkan kondisi kejiwaan pelaku pada posisi yang benar dan tidak terus menerus kumat lagi kumat lagi (bhs cirebonnya mungkin bisa disebut mabok maning mabok maning) karena solusi hukum yang diterapkan tidak tuntas mengatasi permasalahan pokoknya yaitu masalah psikologi manusia dengan dilema was-washilkhonnas-nya.

 

Metodologi baku untuk menguji mentalitas dari pelaku ruhani sebenarnya ada di Al Qur’an sebagai suatu rangkaian surat yaitu surat no 109 sampai 114. Perinciannya bisa diuraikan dari surat-surat lainnya seperti surat al-Kahfi, surat al-Rahmaan, surat asy-Syams dll. Jadi, sebenarnya ada cara untuk menguji klaim-klaim keruhanian apakah benar atau tidak. Dari sisi psikis yang lebih umum (tidak tergantung apa agamanya) tentunya banyak cara seperti itu karena pengalaman ruhani sudah dikaji sejak dulu oleh Carl Guztav Jung, Sigmun Freud, dan peneliti psikologi lainnya. Agama lain pun saya kira ada bagian-bagian yang bisa digunakan sebagai ukuran atau penilaian khusus sesuai dengan agama tersebut, baik Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Zen dll.

 

Tanpa adanya badan khas yang mengkaji masalah umat dengan cara yang lebih metodis, saya kira kumat-kumatan dari klaim kenabian, kerasulan atau sejenisnya akan selalu mencuat dan sedikit atau banyak, selain menjadi tontonan masyarakat,  bisa jadi berkembang menjadi keresahan di masyarakat.

 

Jadi, saya kira sudah waktunya lembaga resmi yang menaungi urusan keagamaan dan keyakinan mempunyai cara-cara yang lebih metodelogis dan manusiawi bukan asal tembak halal dan haram semata untuk mengatasi persoalan tersebut. Pendekatan konseling seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Ahmad Mubarok MA (http://mubarok-institute.blogspot.com) saya kira perlu dipertimbangkan sebagai model untuk membangun lembaga yang lebih resmi dari pihak departemen agama untuk mengatasi kasus-kasus ala Lia Eden dan pengikutnya. Pendekatan hukum positif dalam banyak hal justru akan mengundang kontroversi yang berkelanjutan karena tolok ukur dan penilaiannya tidak tepat dan tentu saja melibatkan para ahli hukum yang sebenarnya bisa dikatakan menjadi bagian kelucuan dan keluguan juga ketika meninjau persoalan yang bersifat psikis dan ambigu tersebut. Persoalan ruhani memang sifatnya pribadi karena sejatinya mencuat dari egosetrisme kita sendiri, baik ego kekanak-kanakkan dengan bermain tuhan-tuhanan dan kerajaan-kerajaannya, ataupun egomaniak menjadi firaun-firaunan yang mungkin jika diekspos dengan sengaja atau terekspos bakal jadi bahan berita di masyarakat alias menjadi hiburan dibalik kegetiran kita sebagai umat manusia ketika berusaha mencari, mengenal siapakah diri ini dan siapakah Tuhan itu, dan dibalik kerinduan kita semua yang maunya mencari tahu siapakah manusia atau sosok yang perlu diteladani dengan tulus? Jadi, kita semua seringkali lupa kenapa bukan kita sendiri yang menjadi teladan? Kenapa harus menunggu orang lain? Ini memang ibarat ujian soal guru sekolah menengah yang lalu yang kebanyakan (menurut kabar Koran Tempo) menjawab salah ketika diajukan pertanyaan “kalau ada 10 orang main petak umpet, 3 orang sudah ditemukan, berapa lagi yang belum ditemukan?” Ternyata banyak yang menjawab 7, si pencari lupa kalau iapun bagian dari permainan petak umpet tersebut. Itulah dilema kesadaran manusia yang seringkali lupa dan lalai kalau dirinya bisa berbuat baik dan menjadi teladan bagi manusia lainnya dengan kesadaran yang sadar bukan kesadaran yang lupa daratan apalagi lupa ingatan alias edun beneran.

 

Atmnd114912

 

 

Revisi terakhir hari ini tanggal 22-09-2016

 

(Tulisan ini merupakan tulisan yang direvisi untuk topik dan kasus yang sama yang berhubungan dengan klaim kemahdian, kenabian, kerasulan, penerimaan wahyu, dan sejenisnya, terutama yang berkembang dalam komunitas agama Islam di Indonesia. Di posting disini untuk mengingatkan kita semua kalau klaim seperti itu, misalnya kasus Lia Eden yang kumat lagi kumat lagi, gafatar yang pintar berkamuflase, ajaran dza yang mirip scientology, dll,  merupakan suatu permasalahan umat sepanjang zaman.  Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan pencerahan. Versi terdahulu dapat ditemui di beberapa blog saya seperti di atmonadi.wordpress.com, atmoon.multiply.com (suspended), atmoon.blogsome.com, atmonadi.com (suspended). komunitas myquran.org dan beberapa milis lainnya di sekitar dasawarsa awal 2000.Artikel ini sebenarnya sudah lama tertuang dalam bentuk tulisan. Awal mulanya ketika tahun lalu, 2007, muncul kehebohan di masyarakat setelah adanya pengakuan Nabi dan Rosul dari berbagai pihak. Bukan satu pihak saja, berbagai pihak, baik yang akhirnya tanpa pengikut maupun memperoleh banyak pengikut.)

 

 

Artikel ini berada dalam naungan Creative Common License, dapat didistribusikan secara bebas melalui media dijital. Pengutipan diperbolehkan denagn menyebutkan sumbernya.

 

Satu pemikiran pada “Nabi dan Rasul Terakhir & Al Mahdi : Siapakah Dia Sebenarnya? (revised edition)

  1. 1. Agama Allah (Agama yang lurus): Ada Rasul Allah
    2. Yahudi dan Nashara: Tidak ada lagi Rasul Allah
    3. Shabiin, diluar dari point 1 dan 2: Tidak ada Rasul. yang ada hanya Tuhan pencipta Alam, maka jika kamu berkelakuan baik dibalas dengan kebajikan oleh Allah. jk berbuat buruk kamu pasti akan menerima ganjaran yang setimpal alias karma.
    Yahudi dan Nashara: Tidak dibangkitkan Allah lagi seorang rasulpun setelahnya (lan yab’atsallaahu minba’dihii rasuulan, kadzaalika yudhillullahu man huwa musrifun murtaab.(Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu).
    Agama Allah: Wa’lamuu anna fiikum rasuulallaah… (ketahui olehmu sekalian dikalangan kamu ada Rasul Allah…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s