Beberapa hari ini Indonesia memang memasuki masa akhir kampanye, dan masuk masa pemilihan umum. Seperti sudah diduga banyak orang, ternyata mulai terdengar banyak kasak kusuk, mulai dari orang mati ikut terdata sebagai pemilih, dan ada juga yang tidak terdaftar sebagai pemilih padahal layak memilih.

Celakanya, yang terakhir ini menimpa diriku sekeluarga. Dari 3 orang yang layak memilih ternyata tak ada satu pun yang masuk di dalam daftar pemilih. Walhasil, bingunglah kami sekeluarga. Istri saya yang penasaran menanyakan ke RT, eh dapat katanya. Tapi hanya satu, cuma istri saya. Mertua saya yang penasaran pun menghubungi tetangga. Ternyata dalam satu jalur jalan di satu RT banyak juga yang tak dianggap sebagai pemilih. Kira-kira mungkin 10 sampai 15 orang di satu lajur jalan tempat aku tinggal tidak mempunyai kartu untuk mengikuti pemilu. Kontan kasak kusuk pun makin marak di lingkungan kelurahan kami di wilayah Bekasi Utara, tepatnya Teluk Pucung.

Di TV pun muncul kasak kusuk banyaknya orang yang pantas memilih karena layak menjadi pemilih tetap tidak mempunyai kartu undangan pemilu. Seorang pengamat politik yang menjadi nara sumber metro TV pun sekeluarga tidak mendapat undangan untuk memilih. Lucu juga, karena nara sumber itu justru sedang membicarakan masalah pemilu, tapi tak diundang nyontrenk. Walah….ternyata kasus tak diundang untuk nyontrenk ini marak dimana-mana.

Masih penasaran saya yang sudah tinggal dua tahun lebih di lokasi yang sama, mempunyai KTP, dan pernah ikut Pilkada Bekasi tahun kemarin , menelpon ke kota asal. Ternyata di kota asal saya tidak terdaftar. Ya benar itu, wong saya sudah pindah dan sudah minta surat pindah resmi kok. Tapi keluarga di kota asalku ada juga yang tidak dapat kartu pemilih. Tetangga disana juga banyak yang tidak mempunyai kartu untuk mengikuti pemilu.

Koran-koran pun tak kalah seru memberitakan kasus aneh bin ajaib ini, rupanya tidak terdata menjadi pemilih menjadi kasus umum dan hangat dibincangkan di koran2. Ngeri juga nih, kalau satu RT saja, dengan KK sekitar 25-an, ada sekitar 10 sampai 20 orang tidak terdaftar padahal sudah tinggal menetap di lokasi yang sama bagaimana dengan rt-rt lainnya di seluruh Indonesia? Di tempatku ada yang sudah dianggap sesepuh warga dan sudah 15 tahun tinggal , tahun ini justru tak terdata. Nah, kalau di Indonesia ada berata RT? Kampung, Ndeso, dan wilayah terpencil. Dengan hitungan kasar sekitar 10 sampai 20 persen penduduk per RT tak terdata akan nampak pemilu 2009 ini banyak menciptakan kelompok GOLPUT NATURAL. Yaitu golongan yang tidak ikut pemilu karena tak ada datanya sebagai pemilih. Mereka tidak mengaku golput yang diharamkan, tapi akhirnya justru menjadi Golput secara alamiah karena tidak terdata. (Mau ngomong apa lagi coba….???)

Kekacauan data penduduk ini nampaknya ada dimana-mana. Terutama kekacauan di tingkat kelurahan dimana data kependudukan ambur adul, tidak karuan, dan terus terang saja tidak di-maintain dengan betul. Setidaknya karena 5 tahun sekali pemilu data penduduk ini mestinya diperhatikan serius kualitas dan akurasinya dengan konstan, misalnya 2 tahun sekali. Eh, ini malah makin kacau saja, padahal ini zaman Manajemen Informasi.

Saya tak tahu bagaimana kesalahan ini akan merambat bagai fusi nuklir ke tingkat daerah, propinsi, sampai nasional. Rupanya pihak yang semestinya berwenang mengurus kependudukan selama ini nampak acuh tak acuh saja. Padahal database kependudukan sangat fital untuk berbagai keperluan. Baik keperluan rakyat yang menjadi warga suatu negara , mengurus berbagai surat, kematian, hingga pemilu.

Kekacauan data penduduk ini sangat serius. Ini mengindikasikan kekurangpedulian sekaligus ketidakmampuan aparat kependudukan untuk mendata penduduknya.

Nah, kalau hal ini berlarut-larut, bahkan berpuncak menjadi kekacauan data yang akan digunakan dalam penentuan siapa yang berhak memimpin negeri ini, bisa diramalkan dimasa nanti akan semakin membuat runyam karena validitasnya diragukan, dan tentu saja berpotensi menimbulkan konflik karena benturan kepentingan.

Pemerintah mestinya harus serius dengan hal data mendata ini sebelum akhirnya menjadi kekacauan serius karena tidak becus mengurusi pendataan penduduk. Tentuny abaik penduduk betulan maupun jadi-jadian.

versi mobil dapat diakses via mobile device di http // mobi.atmonadi.com

versi mobil dapat diakses di http://mobi.atmonadi

2 pemikiran pada “Lho Kok Jadi “Golput Natural”?

  1. Hahaha,..

    Mulai dari pilgub Jabar, pemilihan walikota Bogor, hingga pemilihan umum kulewatkan begitu saja dengan nyaman di Yogya!

  2. Memang paling memalukan pemilu tahun ini.😦
    Jadi tidak terlalu bisa disalahken jika banyak yang GOLPUT, tapi jika melihat tanggal jatuhnya pemilu… kok berdekatan dengan hari-hari nanggung “Jum’at” + Sabtu dan Minggu, apa unsur kesengajaan ?!

    Salam hangat @Mas Atmonadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s