Phytagorean Dreams Cover Blogebook
Phytagorean Dreams Cover Blogebook

Sebuah novel pendek eksperimental oleh @tmonadi

—————————————————————-

Saya berada di suatu tempat yang asing.

Semula saya tak kenali tempat ini kecuali dari sengatan bau dan rasa tidak enak yang tiba-tiba menyapu mata. Belakangan, setelah berkeliling mengamati daerah tersebut, ketahuan kalau saya ada di suatu Kota yang disebut Barus. Dan bau itu tidak lain adalah bau dan rasa melekat di mata itu adalah kapur barus.

Hanya saja, saya tak tahu tahun kapan ini. Di tilik dari pakaian penduduknya yang beragam, ada dua macam cara berpakain. Ada yang berpakaian lengkap dan ada yang minimalis banget. Mungkin di zaman lampau pikir saya, sambil memelototi lengak-lenggok seorang wanita berwajah India yang bagian atasnya nyaris tidak tertutup apapun. Lerrr……perasaan saya tiba-tiba mengalir bebas lepas (perasaannya saja lho, bukan yang lainnya).


Saya lihat keramaian disana. Selain wajah-wajah lokal, ada banyak orang yang nampak seperti dari India, Persia atau dari Kawasan Arab, Mesir Afrikano, Yunani dan China. Kebanyakan berwajah India dan Timur Tengah. Sekali-sekali melintas orang China dengan cepat memanggul gembolan dagangannya menuju bandar laut. Tempat itu juga terlihat ramai dengan aktifitas muat bukan bongkar.


Kota Barus termasuk kota kecil, tapi nampak sangat sibuk dan cantik dilihat. Mirip pedusunan modern tapi nuansanya benar-benar super duper sangat Kuno sekaligus modern. Beberapa orang bertampang sangar tinggi besar dan berambut jagung nampak bergerombol menggiring sekelompok orang lainnya yang nampaknya kurus dan ceking sambil tangan dan kakinya dirantai. Mereka juga dari berbagai ras, tapi kebanyakan dari kulit kuning sampai gelap. Wah, ini masih era perbudakan pikirku. Mereka nampak berbaris banjar dengan rantai yang mengikat menuju ke luar kota, ke pedalaman yang bergunung-gunung. Mungkin budak-budak baru pikirku, soalnya mereka baru datang dari bandar laut dimana beberapa kapal berkepala naga yang aneh bersandar.


Sambil jalan-jalan, saya mikir dan komat-kamit menyebut nama Mbah Wikipedia untuk tahu lebih jauh tentang Barus. Menurut keterangan Mbah Wikipedia,

“Barus adalah sebuah kota kecamatan kecil terletak di daerah Sumatera Utara, kabupaten Tapanuli Tengah… Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan… Dulu Kota ini oleh pedagang Persia sering disebut juga Farus. Bahkan salah satu penyair mistik Melayu yang terkenal, yaitu Hamzah Fansuri, konon kabarnya lahir di kota ini.Belaiu sendiri diketahui makamnya ada di Mekkah.”

Mbah Wiki melanjutkan,

“Untuk mencapai Barus, dapat menggunakan pesawat udara ke kota Medan, dari Medan dapat menggunakan minibus travel menuju Sibolga selama 7 jam, atau dari Medan menggunakan pesawat ke Sibolga selama 30 menit, dan dari Sibolga membutuhkan 2 jam perjalanan lagi menuju Barus.”


Saya kedipkan mata supaya Mbah Wikipedia nggak terus ngerocos. “Informasinya sudah cukupan Mbah”, kata saya berbisik halus.

Saya jentikkan ibu jari dan telunjuk saya dengan ngucap mantra tertentu, menutup dialog dengan Mbah Wiki di masa nanti. Tak lupa saya juga ngucap terima kasih pada beliau yang tak berpamrih.


Saya coba-coba mengingat beberapa hal tentang kota ini dari sumber lain. Di perkirakan kota ini telah aktif sejak sebelum abad 8-9 Masehi. Tapi bukan sebagai jalur perdagangan resmi. Barus lebih cocok disebut jalur “Backdoor” atau “pintu belakang” dimana hasil pertambangan Suwarnadwipa, terutama kapur barus dan emas. Jadi nama kota Barus sesuai nama hasil bumi utamanya yaitu kapur barus. Jalur resmi perdagangan di masa itu adalah melalui selat Malaka dan Pantai Timur Suwarnadwipa alias Sumatera.


Para pendatang maupun sosok pribumi yang berperan di Kota Barus nampaknya adalah para pedagang. Paling dominan adalah pedagang berkulit sawo gelap dari India Selatan yaitu dari Srilanka, Benggala. Sebagian kecil nampaknya dari Timur Tengah, mungkin Persia pikirku. Dalam perkembangannya, pada abad selanjutnya yaitu sekitar abad 8 sampai 9 Masehi, terdapat juga pendatang dari Mediterania lainnya seperti dari Mesir, Pedagang Yahudi, dan Yunani. Kemudian di belakang hari baru pedagang dari China yang datang dari bagian barat Jawa.

Beberapa catatan sejarah terbaru juga menengarai di kota Barus ini pernah ada kelompok ruhaniwan Islam, Budha, Hindu dan Nasrani Nestorian. Jadi kota Barus yang sebenarnya kecil ini nampaknya pernah menjadi Melting Pot berbagai ras dengan keyakinannya masing-masing yang berjaya masa itu dengan aktivitas para saudagar (Saya sebut Melting Pot juga karena kelak di Barus ditemukan banyak pecahan tembikar antik seperti pot tempat bunga). (bersambung ke bagian 2)

versi mobile device dapat diakses di lokasi : mobi [dot] atmonadi [dot] com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s