Sampai abad 12, Kota Barus nampaknya tidak dipengaruhi oleh pemerintahan Sriwijaya maupun berhubungan dengan Cina secara langsung, kata kisikan satu sumber. Tetapi berhubungan justru dengan orang yang tinggal di Jawa (yang dimaksud bukan suku Jawa yang masih keturunan orang India selatan tapi siapapun yang menguasai tanah Jawa saat itu) sebagai perantara dengan China. Itu sekitar abad ke-8 sampai 11 Masehi. Dan melalui pedagang dari Jawa ini para pedagang China kemudian berhubungan, baik dalam jual beli emas maupun kapur barus. Anehnya orang China juga mendapatkan kapur barus dari orang-orang Khorasan melalui jalur darat, yaitu jalur yang kelak disebut jalur dagang Jalan Sutera. Padahal sumbernya adalah Kota Barus ini. Jadi orang China sampai abad 12 – an mungkin belum tahu ada Kota Barus di bagian pantai barat Sumatera.

Menurut seorang sumber lain dari The Matrix, dari kalangan Zedi yang bernama Peter Si Loncengkayu yang telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara, penulis di Bacaan Arkeologi dari suatu padepokan yang disebut Nguniversitas Nasional Ngusterali, ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini. Selain China jalur-jalur dagang itu pun nampaknya menghubungkan Nusantara dengan wilayah Campa, Kambuja, Vietnam, Thailand dan tentu saja Malaya.

Dalam catatan kaki tulisannya, Peter Si Loncengkayu menulis, “Museum Nasional di Jay-Akar-Ta di negeri Ngindonesia memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di SumUt. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM, Zhou = Dzulkarnain menurut buku Yakjuj Makjuj atau Yajou Majou alias manusia yang menunggangi kuda hawa nafsunya), berada dalam koleksi pribadi di Kota Loh-Ondon di negeri United Kondom. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lum-Ajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah……(sorry transmisi terputus nech…).”

Masih menurut Peter Si Loncengkayu, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan. Jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebabnya, kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi. Jadi transaksi dagang tersebut bersifat terbatas antara satu pedagang dengan suatu kota atau pemukiman. Dengan kata lain, di wilayah yang sekarang disebut Ngindoensia itu dulu banyak negara-negara kota yang kecil tapi makmur yang dikuasai oleh Syahbandar-syahbandar atau Warlord-warlord yang mengambil keuntungan pribados dengan adanya perdagangan. Tentu saja saat itu tak ada yang namanya persatuan. Sampai zaman Persatuan inipun dampak ke-warlord-warlord-an itu masih melekat dan sering kelihatan pada masyarakat yang menghuni wilayah itu, terutama kalau masalah dagang dan rezeki disinggung-singgung.

Lebih lanjut, menurut informasi terbaru dari kitab anyar yang berjudul “Barus 1000 Tahun Yang Lalu”, Kota Barus sampai masa suramnya di abad ke-12 karena bubar diserbu kelompok “Gargasi” (mungkin maksudnya serbuan dari negeri dari orang yang tubuhnya besar kaya raksasa), nampaknya tidak dikuasai oleh Sriwijaya padahal lokasinya termasuk dekat. Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri dan menjadi “negara-negara kota yang bebas”. Jadi perannya mirip Yerusalem, Kuwait, Pakistan, Bombay, Singapura, atau Hongkong di masa The Matrix nanti. Kota Barus dan kota-kota kecil yang ada di wilayah Nusantara mungkin dikuasai oleh para pedagang yang umumnya bukan penduduk asli wilayah tersebut. Meskipun ada dugaan demikian, tapi sejauh ini ini tidak dijumpai catatan His-Stories resminya kecuali setelah era kesultanan muncul catatan versi His-Story. Tentu saja para rajanya adalah yang dulunya menjadi warlord2 kota tersebut atau syahbandar yang menjadi kuncen kota tersebut.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Tokoh yang sering disebut sebagai Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Tokoh yang satu inipun muncul dengan banyak legenda di Jawa dengan dugaan selama ini ia adalah seorang Pangeran dari India. Tentu saja karena masih legenda, ini pun susah dipastikan.

Sambil menerawang sampai jauh, saya punya spekulasi yang lebih seru mengenati tokoh legenda tanah Jawa ini. Aji Saka mungkin keturunan Isa Ibnu Maryam alias Yesus yang diselamatkan dari tiang salib Rumawi. Ia menurut beberapa sumber dan desas-desus di The Matrix tinggal di daerah Kashmir. Itu lho daerah yang namanya dijadikan lagu oleh Led Zeppelin, Group Rock Legendaris dari United Kondom. Trus, turunan Yesus ini kawin masin sama bangsawan Pallawa di India. Nah turunanya lagi punya anak yang kelak mencari kehidupan baru di wilayah Jawadi alias Sunda. Dan tentu saja kawin mawin lagi dengan turunan orang yang ada disitu yang mungkin masih berdarah Mesir turunan Akhnaton. Makanya jangan heran kalau orang Sunda punya kecondongan berbahasa dengan huruf IEU atau EUIS atau GEULIS karena dulu Abah Sunda waktu pertama kali bertemu menyebut turunan Yesus asal Pallawa itu “IEU SA HA” alias “Ini Siapa?”. Seru khan hehehe…

Dalam periode yang sama, beberapa catatan sejarah menyimpulkan kalau di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Bahkan kerajaan Holing atau Kalingga yang dulu diduga ada di Jawa di duga juga ada di Kalimantan ini. Kerajaan Kalingga atau Ho-ling menurut lidah tionghoa terkenal dengan kisah legenda Ratu Si-mo atau Sima nya yang sangat adil nan bijaksana.

Di masa yang hampir bersamaan, di Jawa Barat ada kerajaan misterius Tarumanegara di Jawa Barat yang didirikan tahun 400-an Masehi. Bahkan menurut catatan Sejarah Wangsa Kerta dari Cirebon yang beberapa tahun lalu membuat heboh jagat persilatan ahli His-Story di negeri Ngindonesia, sebelum Tarumanegara ada negeri namanya Salaka Negara (Mungkin maksudnya Biji Salak Naga dan Ra) yang lokasinya di wilayah Jawa bagian Barat dan rajanya keturunan Bangsawan Palawa seperti saya singgung di atas.

Tapi memang semua itu baru dugaan soalnya catatan sejarah wilayah Ngindonesia ini sejauh dugaan para ahli benar-benar raib dan berpindah tempat di asramasegara-asramasegara (maksudnya perpustakaan-perpustakaan) negeri asing. Kitab-kitab yang ditulis di Sunda itu dulu diangkut dengan kapal laut ke beragai penjuru negeri yang jauh. Beberapa diantaranya ke India, terus dari India mendaki gunung tinggi diangkut oleh Keledai, sebagian lagi dibawa ke Mediterania terus dilarikan ke Eropa oleh kelompok Bafomet. Belakangan, di zaman The Matrix negeri diatas gunung tinggi itu diobok-obok tentara China.

Di Wilayah Nusantara, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya di abad 7 sampai 11 M yang anehnya ciri pengaruhnya tidak nampak di Barus pada abad ke 8 sampai 12 M. Kemudian di masa selanjutnya ada dinasti Syailendra, Sanjaya, Erlangga, jenggala dan Kediri dan kemudian Majapahit dengan Mahapati Gajah Mada nya. Setelah abad 14 baru muncul kerajaan Demak yang bernuansa Islam untuk melindungi bandar-bandar China di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s