Ada yang menduga, Barus sebenarnya bukan kota baru. Mungkin sudah lama ada. Bahkan sejak awal tahun Masehi. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh kartografer Aleksandria yaitu Claudius Ptolomeus, yang tercatat pernah menjelajah wilayah Nesos pada abad ke-2 Masehi, telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus (Mungkin juga lho kata Barousai ini adalah akar kata dari Barongsai, tarian naga yang terkenal itu, siapa tahu).

Bahkan, dikisahkan pula pada beberapa riwayat kuno bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir. Konon kaya sahibul hikayat kuno, kamfer dipergunakan untuk pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II. Jadi, sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi! Wah, spekulasi ini jadi cocok juga dengan sejarah perjalanan Dzulkarnain yang menjelajahi tempat matahari terbenam di wilayah Andaman sampai di Kiribati sana di Lautan Teduh. Dipaksa cocok karena Dzulkarnain Si Dua Tanduk menurut buku “Yakjuj Makjuj dari Asia” yang baru terbit baru-baru ini juga ditengarai sebagai Akhnaton, Raja Mesir Kuno yang menyatukan semua agama Mesir menjadi Agama Monoteisme pada sekitar tahun 1350 SM. Logika sederhananya, mustahil Akhnaton akan melewatkan negeri di wilayah Khatulistiwa. Di masa-masa perjalanan legendaris itu pastilah negeri di wilayah Khatulistiwa masih seperti Perawan Ting-ting yang semlehoi tubuhnya, buah dadanya menggayut kencang menantang, bokongnya menonjol bak pantat kuali yang baru keluar dari bengkel ketok magic, dan wajahnya manis legit kaya gula aren angetan. Setidaknya, karena Akhnaton ini Raja Mesir yang berkuasa dan kaya pasti ia pun mampir juga di wilayah ini baik untuk menambah bekal maupun mungkin bermukim beberapa waktu dan menambah keturunan beranak pinak.

Mungkin mampir ke Barus yang sudah dikenal Fir’aun sebelumnya, pikirku ngasal aja. Cuma mana buktinya? Nah ini yang repot kecuali kita mau ngarang saja kalau si Akhnaton meninggalkan keturunannya untuk menguasai negeri Khatulistiwa yang dilewatinya ini dan membangun kerajaan hebat dengan sebutan Imperium Ayakata alias Shinde dan kelak disebut Sunda – Empire Of The Sun. Nah turunan Akhnaton ini katakan saja menguasai pengetahuan Mesir, Babylonia, India, dan kelak, ketika bapaknya tiba di China mendirikan dinasti Zhou yang berkuasa selaa hampir 800 tahun di China daratan. Jadi peradaban yang ada di wilayah Jawadi dan Sumatra dengan sebutan Shinde atau Sunda dikemduian hari berfusi juga dengan peradaban China. Kemungkinan ini boleh terjadi kalau kita gabungkan dengan kisah dalam buku Yakjuj Makjuj itu dimana di hipotesiskan Dzulkarnain mengadakan perjalanan dari Andaman ke Kiribati lantas membangun tembok China dan ia memakai nama yang mirip dengan kata Dzul yaitu Zhou.

Kelak Shinde atau Sunda pun menjadi negeri super duper kuat dan menguasai wilayah Asia Tenggara sampai wilayah Funan atau Kambuja dan tentu saja sampai wilayah Ceylon atau Srilanka. Dan barangkali negeri di Khatulistiwa dengan ibukota disekitar Jawa Sumatera ini yang disebut ATLAN alias ATLAS menurut Mbah Plat-O yang dihidupkan tahun 400-an Sebelum masehi (pelat O seperti koin itu lho yang juga dipakai sebagai manik-manik hiasan orang Buni di Karawang-Bekasi) dan muridnya yang ahli mendongeng alias si Kura-Kura Tukang Cerita (dikenal juga dalam bahasa Inggris gaya lama sebagai “A Tortle Stories” yang tidak lain adalah anagram dari nama filsuf murid Mbah Plat-O yaitu Mbah Aristotle).

Dugaan ini di masa modern diperkuat lagi oleh cerita seorang ahli nuklir yang pakar Atlantis dari negeri Brazilia yaitu Mbah Santos. Atlan dan Atlas adalah Shinde alias Sunda? Mungkin saja kalau kita ambil huruf ke 5 dari kedua kata itu ATLA – N dan ATLA – S yang dimaksud Mbah Plat-O tentunya negeri berinisial N dan S alias NESOS alias NuSantara yang menjadi Sangga Buana alias Atlas si Dewa Yunani yang menggendong Bumi alias Pakubuana hehehehe…..

Weleh, othak athik gathuk saya cocok, cocok, cocok…. pikir saya sambil menyruput kopi Kota Barus di pinggir jalan dan mengisap sejenis rokok yang banyak di jual di warung-warung pasar Barus yang ramai (Belakangan saya sadari rasa rokok ini kok aneh benar, mampu membuat pikiran melayang kemana-mana, dan saya lantas tahu kemudian di bisikin Mbah Wiki kalau rokok itu diramu dengan Soma, sejenis tananam halusinatif yang pernah dipakai oleh pendeta-pendeta India dulu dalam upacara keagamaan tertentu. Jadi mirip gele lah. Saya tak tahu apakah ini ada hubungannya dengan masa sekarang ini dimana Aceh sebagai sumber Gele dengan Barus di masa lalu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s