Peristiwa Rakata 535 M sendiri masih misterius. Menurut keterangan pembuat The Matrix yang sempat saya donlot informasinya dari masa depan, Letusan Rakata serta Tenggelamnya Negara Sunda sebenarnya akibat Double Impact dari jatuhnya sebuah meteor di wilayah Sunda. Konon menurut beliau ya jatuhnya di daerah yang sekarang disebut wilayah Cirebon dan sekitarnya itu.

Karena impak meteor itu, teluk Cirebon dengan garis pantainya sampai Indramayu terbentuk dan sambungan Sunda di posisi Gunung Rakata jebol dengan disusul oleh Ledakan Yang Menenggelamkan Sunda. Rakata, Gunung Suci bagi masyarakat yang menguasai tinggal di wilayah Asia Tenggara, tiba-tiba saja meledak dengan dahsyat tidak lama setelah bintang berekor itu jatuh dengan suara keras. Ledakan gunung yang disebut-sebut Mbah Ronggo Warsito sebagai Gunung Batuwara itu bagaikan teriak kesakitan seorang ibu yang melahirkan anaknya dengan bedah caesar. Setelah itu disusul dengan bergoyangnya laut selatan dan gonjang-ganjingnya bumi sambungan Jawa-Sumatera. Lantas disusul dengan sapuan bergemuruh dari gelombang lautan yang nyosor bagai lidah kadal, masuk ke daratan sejauh enam kilometer menerpa dan menyeret sebagian besar penghuni Jawa dan Sumatera sekarang yang umumnya tinggal di tepi pantai. Mereka yang selamat berlarian ke dataran tinggi dan pegunungan Jawa maupun Sumatera dan menjadi orang gunung yang kelak diantaranya membangun wangsa Syailendra di Jawa dan menguasai Sriwijaya (Syailendra artinya raja dari pegunungan, dari kata saila indra) dan juga di Jawa.

Terminologi raja gunung ini mungkin sebenarnya dimaksudkan sebagai Gunung Rakata itu sendiri sebagai asal muasal Perubahan Besar di Bumi. Relif-relif Candi Borobudur mungkin mengandung kisah terselubung yang berhubungan dengan asal usul sejarah Sunda dan peradaban yang muncul sesudahnya, dan tentu saja mengungkapkan asal usul agama Budha itu sendiri. Boleh jadi juga Candi Borobudur serta peninggalan candi lainnya itu justru peninggalan peradaban Sunda yang runtuh total sebelum 535 Masehi! Sejarah sesudahnya mudahlah di rekayasa semau kita dengan keahlian karang-mengarang yang sudah dikenal sejak zaman dulu kalau memang punyai niat menghapus masa lalu dan membaut sejarah baru. Mengenai hitung-menghitung tahun, gampanglah itu kan hanya sekedar membulak-balik angka saja dan memindahkan tempat dan kejadian dengan batu-batu prasasti sebagai tanda-tanda seolah-olah pernah ada. Kelakuan ini sampai sekarang kan masih kita warisi yaitu membuat grafiti di jalan, di gunung, di gerbong, di tembok rumah, dipulau-pulau, misalnya grafiti “Boedoet” yang sering kita lihat di tembok-tembok, batu, gerbong kereta dan tempat lainnya.

Dengan kata lain, sebelum kebangkitan peradaban baru yang disokong kelompok pedagang dan penguasa itu, seluruh peradaban Sunda yang berpusat di sambungan Jawa Sumatera dengan pusat wilayah yang sekarang menjadi selat Sunda lenyap sama sekali dan hanya meninggalkan jejak tersamar dengan ungkapan “Gajah Tidak Pernah Lupa”. Kemana orang-orangnya mungkin sebagian besar musnah karena kelaparan dan sebagian kecil menyelamatkan diri di pegunungan, bersembunyi di gua-gua selama kurang lebih 40 tahun masa paling mengerikan di seluruh Planet Bumi sejak 535 Masehi. Bukan saja wabah yang melanda dunia pada kurun 540 Masehi sampai beberapa tahun kemudian, namun juga kelaparan di Ground Zero dan sekitarnya karena tak ada tumbuhan yang tumbuh dengan subur untuk menjadi bahan pangan.

Para pedagang, petualang, kelompok teologi, dan barangkali juga utusan empat negara besar saat itu seperti China, India, Persia, dan Rum berdatangan pada tahun ketiga setelah bencana (jadi kira-kira 538 M). Namun, Jawa dan Sumatera telah berubah total, dan penghuninya hilang dan baru ditemukan beberapa waktu kemudian setelah dilakukan eskpedisi pendaratan. Hanya saja yang selamat kebanyakan adalah rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa, dan kebanyakan dari mereka malah masih kanak-kanak.

Selama 40 tahun kemudian, wilayah jawa sumatera tertutup dan terlarang sampai berkuasanya para pedagang yang disokong oleh negara besar saat itu di asia yaitu China dan India. Pengawas-pengawas wilayah baru yang hancur itu ditunjuk untuk membangun suatu pemerintahan baru. Entah apa yang terjadi disana, yang jelas wilayah itu mirip Area 51 yang misterius di negeri Amrik sana, dan baru terdengar ada raja di jawa bagian barat pada abad ke-15 saja, itupun belum jelas apakah benar-benar ada atau khayalan. Dalam buku Negara Kretagama tulisan Mpu Prapanca alias Pancaksara juga disinggung juga kalau Penguasa Majapahit menyebutkan wilayah jawa bagian barat adalah wilayah larangan. Beberapa tahun setelah ledakan Rakata 535, kisah Mahabarata dan Ramayana lahir di India sebagai suatu epik historis yang dimetaforakan yang nampaknya berhubungan dengan tragedi Kehidupan di Planet Bumi dengan pusat perubahan di Jawa dan Sumatera dengan kiasan yang mengandung hikmah kehidupan tentang perilaku penguasa Sunda di akhir kehidupannya yang berperang antar saudara karena rebutan rezeki, tahta dan wanita yaitu Pandawa dan Kurawa, Rahuwana, Rama dan Sinta. Kelakukan minus ini pun nampaknya masih tak bisa hilang ratusan tahun kemudian ketika anak cucu penguasa negeri besar itu menjadi negara Kesatuan Ngindonesia.

Gema peristiwa besar Rakata mengimbas ke mana-mana, kitab-kitab wahyu Yudeo Kristen Islam pun terimbas dimana gambaran tentang Hari Kiamat dan Peristiwa Besar sebenarnya gambaran yang merujuk kepada peristiwa besar Gunung Rakata tersebut. Kronologi yang ditulis John of Ephesus sebagai Bishop Syria tahun 537 M, serta catatan yang tersebar di era tahun 535 sampai 550 M di berbagai dunia, termasuk terjadinya wabah pes di berbagai dunia merupakan potongan kabar yang nampaknya bisa digunakan untuk merekonstruksi sejarah dunia pascara Rakata 535 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s