Ibarat belum mingkem cangkem ini ngomong dan belum berhenti tangan menulis, eh…. ada kejadian seorang artis lelaki yang terkenal lebay mencabuli remaja lelaki. Si artis yang penampilannya selalu melambai itu pun akhirnya tidak berkutik ketika korbannya yang masih berusia 17 tahunan melapor ke polisi karena merasa dilecehkan secara seksual. Sudah dari sononya saya gak suka perilaku LGBT dan saya bilang ke temen saya itu penyakit jiwa dan punya potensi menular. Temen saya terlihat bengong. Kok gitu. Iya lu lihat aja atau coba aja kerja di salon kecantikan barang sebulan dua bulan, atau gaul dikalangan artis melambai. Pasti polah tingkah lu akan kena tular. Apalagi kalau iman lu lemah. Atau katakan saja lu terlalu toleran dan akhirnya malah doyan juga LGBT. Bisa apes dah hidup lu.

Sejenak teman saya kelihatan mikir. Saya waktu itu gak pake dalil dari kitab Al Qur’an atau pun baca buku psikologi. Hanya dari nalar waras saja. Wong binatang aja berpasangan dengan normal kok manusia malah melebihi binatang perilakunya. Apa masih pantas disebut animale rationale? Manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan pikirannya itu ia bisa membedakan mana yang baik maupun mana yang buruk. Jadi, dengan bekal akal budinya itu mestinya ia melakukan tindakan bukan sekedar gerakan-gerakan yang hanya dikuasai oleh hukum-hukum biologis saja atau gerakan karena nafsu syahwatnya semata. Tapi ia mampu bertindak dengan suatu tindakan yang sarat dengan pertimbangan-pertimbangan nilai etis dan moral. Kalau di dalam Al Qur’an manusia dengan perilaku menyimpang ini sebenarnya telah melampaui batas dan sangat hina. Disebutkan dalam QS Al A’raf ayat 80-81 :

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” [Al-A’raaf: 80].

Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. [Al-A’raaf: 81].

Allah SWT menyebutkan bahwa perbuatan melepas nafsu kepada sesama lelaki, yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam, merupakan perbuatan yang hina dan sangat rendah atau fahisyah. Kehinaan dan kerendahan ini tentunya berkaitan dengan harkat manusia dari pelaku perbuatan tercela yang disebutkan dalam firman di atas dimana kaum lelaki mendatangi laki-laki untuk memuaskan syahwatnya. Perbuatan homosek itu sendiri akhirnya dikatakan sebagai suatu penyimpangan atas bergolaknya hawa nafsu yang melampaui batas dan kaum Nabi Luth adalah kaum yang telah melampaui batas. (Kajian lengkap mengenai bagaimana akhir kaum Nabi Luth ini bisa dilihat disini).

 

Boleh saja kita mengasihi kaum LGBT. Tapi bentuk kasih sayang itu mestinya merangkul untuk mengembalikan kondisi jiwanya atau wa-nafsi-nya ke keadaan yang semestinya selayaknya animale rationale. Jadi bukan sekedar menerima tapi membiarkan mereka semakin jauh tersesat dengan ego dirinya dan berilusi mengenai kebenaran dirinya. Kalau kita membiarkan hal itu, justru manusia yang nampak seperti membela, menyayangi atau melindungi kaum LGBT atau pun kaum yang patut disayang lainnya adalah manusia hipokrit. Manusia yang diam-diam mau mengambil keuntungan, baik keuntungan politis maupun ekonomi dari keadaan mereka yang mestinya dientaskan dari penyakit kejiwaan kronis itu.

 

Temen saya masih ngeyel, lalu berargumentasi ngalor-ngidul kalau orang LGBT juga banyak yang berjasa. Iya mungkin berjasa tapi itu bukan berarti perilakunya sebagai ras manusia bisa seenak jidat sendiri dan ingin diterima oleh akal sehat padahal jiwanya sakit. Makanya, saya gak perlu sekolah psikologi untuk menilai kalau perilaku LGBT sudah termasuk kategori jiwa yang kurang sehat. Tentunya karena kurang sehat perlu terapi khusus. Bukannya malah ngeles dengan alasan ini itu. Apalagi berargumentasi kaya anak kecil baru bisa mikir nyari alasan kalau memang LGBT dilarang agama kenapa gak di adzab saja negeri yang nyokong LGBT. Lah yang punya wewenang menghukum itu siapa? Hanya al-Haq yang berhak mengadzab makhluk-Nya. Nah ini saya lengkapi dari surat Al An’am ayat 57 mengenai hak Allah untuk menghukum makhluknya.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.

Kalau manusia menghukum manusia lainnya itu karena perilakunya yang merusak pranata etis dan moral masyarakat.Apa perlu saya kutip lagi surat An-Nisa ayat 153 yang jadi inspirasi di Universitas Harvard.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Qs 4:135)

Kalau kaum LGBT mau aman ya hidup di suatu tempat atau di hutan bikin komunitas sendiri dengan kaum LGBT lainnya. Itupun kalau kaum binatang hutan menerimanya, karena tak ada binatang yang mengidap LGBT. Jangan-jangan kaum binatang juga bisa meradang karena gangguan kaum LGBT.

Kawan saya masih ngeles, dan beralasan secara ilmiah katanya ada gen homo atau gen gay. Saya terus bilang, itu penelitiannya belum terbukti seratus persen. Masih banyak kekurangannya. Bahkan sampai tahun 2015 pun penelitian tentang gen gay belum membuktikan benar 100 persen. Saat ini ada banyak penelitian mengenai hasil gen gay ini. Sayangnya ada potensi penelitian ini menjadi manipulatif karena yang meneliti ada juga kaum gay. Mestinya kalau mau objektif pakai saja aturan kalau yang meneliti harus non LGBT. Kayak penelitian sejarah lah. Penemuan sejarah yang ada di suatu lokasi kalau dilakukan oleh peneliti lokal bisa memunculkan bias. Makanya diundanglah peneliti asing supaya hasilnya objektif.

Jadi kawan, kataku, kepada kawanku yang sebenarnya bukan LGBT tapi terlalu kompromis dengan nilai-nilai yang melampaui batas al-Mizan. Kaum LGBT itu memang menderita semacam sakit jiwa dan perlu dirangkul untuk dinormalisasi kembali bukan malah berputus asa dari rahmat Allah. Renungkan ayat ini, jauh sebelum orang-orang mengkaji perilaku manusia secara formal yang sekarang dikenal sebagai ilmu psikologi.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Menurut Ibnu Katsir , ”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan.  Dengan kata lain, ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa kekufuran, kesyirikan, dan dosa besar (seperti zina, membunuh dan minum minuman keras). Sebagaimana Ibnu Katsir mengatakan, ”Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas. Rahmat Allah memang sangat luas bahkan sangat besar sampai bisa mampu mencegah murka Allah. Jadi jangan berputus asa dari rahmat Allah karena hanya Iblis lah yang telah memutuskan diri dari Rahmat-Nya sehingga menanggung beban kehinaan sampai akhir zaman.

Masih banyak orang maupun komunitas yang mau bantu(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/20/o2ul0i394-sah-homo-dan-biseks-jadi-kategori-orang-dengan-masalah-kejiwaan ). Buktinya kalau ada orang LGBT mati kan yang mau ngurus kematiannya bukan dari kaumnya tapi komunitas pengurus pemakaman. Namun, itu perlu kerendah hatian bukan malah nyombong atau sok gengsi jadi kaum LGBT. Kalau sudah nyombong akhirnya malah susah diajak kompromi karena menganggap benar sendiri atau sudah putus harapan. Dan saat itulah mungkin rahmat Allah pun terputus sehingga pengidap LGBT menjadi susah dipulihkan.

Tapi man teman, itu obrolan ngalor ngidul saya beberapa tahun yang lalu. Kuingat itu waktu habis nonton Tom Hanks di film penderita HIV/Aids, judulnya Philadelpia (kalau gak salah film 1993). Jauh… sebelum isu LGBT makin panas. Nah mungkin karena ada penyokong dananya, sekarang kampanye LGBT gencar digiatkan. Malah disokong UNDP, USAID dan beberapa negara lagi dengan alasan klise kemanusiaan. Jadi bagi yang suka fulus darimana saja mereka siap berjibaku. Bahkan tak segan-segan nyaru pake jubah keagamaan. Tapi mereka ngocol begitu bukan untuk membela yang benar tapi membela yang bayar. Jangan kaget ya kawan kalau banyak kaum hipokrit yang rebutan kue LGBT yang digelontorkan UNDP, USAID dan negara Swedia itu dan tak malu-malu menjadi corong LGBT dengan berkilah macam-macam. Padahal mereka hanya kelompok hipokrit yang  kerjanya begitu yaitu jadi corong kemaksiatan atau memang sejatinya serakah dan tamak.

repost dari blog sebelumnya 16/2/2016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s