Presiden Rusia Putin tiba-tiba menggebah dunia dengan isu Perang Asimetris kepada kelompok yang mengkampanyekan LGBT di negeranya. Putin saat ini mengesahkan UU anti Gay untuk mencegah ancaman perang asimetris yang menggunakan isu LGBT dan HAM sebagai senjata. Singapura , negeri tetangga yang makmur itu, bahkan sudah mensahkan UU anti gay. Pengadilan tertinggi Singapura, Rabu (29/10/2014), memutuskan undang-undang yang mengkriminalkan hubungan seksual antar-pria, sejalan dengan konstitusi negeri tersebut. Apa itu perang asimetris?

Sejak zaman dulu, perang seringkali disebutkan sebagai tindak lanjut politik. Di zaman perang abad 18-19 di Eropa, ada Carl Von Clausewits yang menuliskan buku perang dan menegaskan kalau perang adalah tindak lanjut tindakan politik. Tentunya dengan berbagai alasan . Namun utamanya adalah menguasai suatu negara dengan sumber dayanya untuk tujuan politik dari yang memproklamirkan perang.

Di zaman dulu sekaliii… tersebutlah seorang Sun Tzu dari Cina yang membuat kitab seni perang. Isi lengkapnya bisa dilongok disini . Kitab itu disebutkan pentingnya informasi sebagai langkah awal untuk memenangkan perang. Dikatakannya bahwa

Ia yang mengenal pihak lain (musuh) dan mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) tetapi mengenal dirinya sendiri memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran.

Dari zaman dulu, informasi memang jadi penentu untuk memenangkan perang terbuka. Dalam perang rahasia, informasi bahkan menjadi lebih penting karena bisa jadi pedang bermata dua bila informasi itu benar, atau informasi itu adalah informasi yang sengaja ditebar untuk menyesatkan (disinformasi). Sampai hari ini, kedua inspirator seni perang itu tetap menjadi rujukan baik dalam perang terbuka maupun perang rahasia. Perang dunia I dan dunia II merupakan perang besar era modern yang menggunakan berbagai persenjataan dan taktik konvensional maupun tidak konvensional. Namun, setelah PD-II yang bisa disebut sebagai perang pasca kolonialisme terjadi ketidakseimbangan kekuatan, maka perang asimetris pun terjadi dimana-mana terutama dengan metode gerilya. Di Indonesia perang asimetris juga terjadi di era kemerdekaan maupun era pemberontakkan seperti Permesta.

 

Lalu, apa itu perang asimetris?  Dan apa yang ingin diruntuhkan dan dikuasai dengan melakukan perang simetris?

 

 

Istilah perang asimetris dilontarkan pertama kali oleh Andrew JR Mack berjudul Why Big Nations Lose Small War : The Politis Of Asymmetric Conflict  dalam jurnal World Politics terbitan tahun 1975 (Silahkan unduh disini).  Tulisan Mack didasarkan fakta menarik setelah Perang Dunia ke-2 dimana banyak konflik antara negara besar yang lebih kuat secara militer maupun ekonomi kalah oleh tentara-tentara pembebasan yang bersenjata kurang lengkap dan secara ekonomi masih lemah. Mack merujuk kepada kasus yang disebutkan seperti  Indochina (1946-54), Indonesia (1947-49), Aljazair, Siprus, Aden, Maroko, dan Tunisia. Selain itu, kekuatan besar yang dikalahkan kekuatan kecil bukanlah fenomena pasca kolonialisme semata. Vietnam misalnya, ia bisa mengusir Amerika Serikat yang bukan penjajahnya.  Bagaimana negara kecil bisa mengalahkan negara besar dijelaskan oleh Mack bahwa negara kecil menggunakan terminologi perang yang tidak konvensional dalam menghadapi negara besar, yaitu perang gerilya, terorisme kota, atau bahkan tindakan non-kekerasan. Namun selain itu, penyebab kekalahan negara besar dari negara kecil adalah menurunnya kapabilitas politik negara besar itu untuk berperang. Kapabilitas politik yang menurun itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya aksi sosial menentang perang, seperti yang terjadi di AS pada tahun 1960an. Pendek kata, negara kecil tidak mau lagi didikte dengan terminologi negara besar ketika saling berhadapan dengan perimbangan kekuatan asimetris.

 

 

Fenomena kekalahan para Goliath ini bukan saja terjadi setelah Pasca PD-2 , setelahnya muncul beberapa konflik regional yang bercirikan perang asimetrik. Misalnya Perang Saudara Sri Lanka (1983), Perang antara Israel dan Palestina yang dimulai sejak pendudukan Palestina oleh komunitas Yahudi di tahun 40-an, dan Perang Saudara di Suriah yang berkecamuk sejak tahun 2012 sampai munculnya ISIS. Pada awal abad ke-21, contoh spektakuler perang asimetrik adalah  kejadian 11 September 2001 di New York, di mana sekelompok orang menabrakkan pesawat terbang komersial yang dibajaknya ke dua gedung kembar World Trade Center yang menjadi lambang keperkasaan (ekonomi) Amerika Serikat, yang menelan korban 3.000 orang. Bahkan serangan ke Amerika Serikat tersebut menjangkau Pentagon juga dengan korban yang tidak sedikit. Sejak serangan itu, eskalasi dampak serangan pun semakin meluas setelah George Bush mencanangkan perang melawan terorisme dan menyerbu Afganisthan untuk menghancurkan Al-Qaeda yang dituduh sebagai pelaku serangan 911. Setelah di Afganisthan, Amerika dan sekutunya kemudian menyerang Irak dan menghancurkan rezim Saddam Husein dengan alasan kepemilikan senjata nuklir yang tidak pernah terbukti ada. Al-Qaeda ketika melakukan serangan 911 tidak mau mengikuti terminologi perang umumnya sehingga mereka memperluas target ke kelompok yang dianggapnya menjadi lawan. Menara kembar WTC sebagai pusat kegiatan kapitalis dan Pentagon sebagi pusat kegiatan militer AS tak segan-segan diserang. Bahkan dalam serangan 911 terbetik juga kabar kalau Gedung Putih pun menjadi target sasaran namun bisa dilumpuhkan. Demikian juga ISIS yang belakangan ini melakukan serangan dengan target acak di kota-kota besar dunia seperti Paris, Jakarta, dan kota-kota di Turki.

 

Ketika jejaring internet mulai berkembang menjadi jejaring sosial yang berkonvergensi dengan cepat, media internet pun kemudian menjadi ajang sekaligus senjata baru dalam pola perang  asimetrik. Tahun 2009, Arab Spring tiba-tiba melanda Lybia dan Mesir. Dua kekuasaan diktator yang telah lama bercokol pun jatuh. Moamar Khadafi runtuh dan akhirnya tewas, kemudian Husni Mubarak dapat dilengserkan dalam gerakan Arab Sping yang menggunakan media sosial. Di Lybia, tindakan militer kemudian dilakukan oleh AS dan NATO untuk memastikan penguasaan negara Lybia setelah kejatuhan Khadafi.

 

Perang asimetrik hari ini dan mungkin juga nanti akhirnya melibatkan segala sarana yang ada. Khususnya media masa. Wajar saja kalau Presiden Rusia Putin memastikan upaya-upaya serangan asimetris ke negaranya dipatahkan sejak awal. Termasuk upaya kampanye LGBT yang membuatnya berang dan melakukan pelarangan terhadap aktivitas LGBT.

 

Apa definisi yang tepat dari perang asimetrik ini? Ada banyak definisi maupun istilah untuk menggambarkan perang asimetris. Baik digambarkan masih bagian dari tindakan militer seperti perang pasca kolonialisme. Atau sebagai pelengkap tindakan militer yang nyata atau pun memandangnya sebagai perang jenis baru di era baru yaitu informasi dan Internet. Tujuan perang simetris masih sama dengan perang dari dulu sampai hari ini, yaitu menguasai sumber daya alam . Hanya saja cara-cara mengalahkan lawan mungkin beda seperti kasus Arab Spring.

 

Indonesia sebenarnya sudah lama memperhatikan pola perang asimetris bahkan sudah menjadi sasaran perang asimetris. Kalau merujuk ke perang kemerdekaan dulu, perang gerilya yang dilakukan oleh TNI sebenarnya salah satu bentuk perang asimetris. Jauh kebelakang lagi, perang melawan kolonialisme telah menerapkan strategi asimetris seperti perang di Aceh maupun Perang Diponegoro.

 

 

Dalam suatu lokakarya di tahun 2008, Dewan Riset Nasional (DRN), merumuskan suatu pemikiran tentang Perang Asimetris (Asymmetric Warfare), dan mendefinisikan bahwa perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra: geografi, demografi, dan sumber daya alam/SDA; dan pancagatra: ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Perang asimetri selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang.

 

Dalam lokakarya DRN tersebut, seorang pakar, Tamrin, mempresentasikan makalah “Perang Asimetris, Tanggapan dan Penajaman”. Makalah itu membahas mengenai ancaman asimetris di bidang sosial-budaya dan agama, menyatakan beberapa argumentasi bahwa yang pertama adalah tidak meratanya persebaran suku-suku di Indonesia. Ancaman lainnya, bangunan keras: demokratisasi, desentralisasi, dan pemekaran wilayah. Yang terakhir adalah bangunan lunak: kebangsaan, konstitusi, negara dan agama. Menurut Manuel Castells di dalam bukunya, The Power of Identity: The Information Age Economy, Society and Culture, kata Tamrin, dahulu negara adalah pihak satu-satunya yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memaksa. Namun sekarang, negara mendapat saingan kelompok yang bahkan membuat negara tidak berkutik, yaitu terorisme lokal, fundamentalis agama dan suku.

 

Pakar lainnya, Fayakhun Andriadi, yang membawakan presentasi “Asymetric Warfare Strategy”, memaparkan mengenai pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap perang asimetris. Menurut dia, teknologi informasi dan komunikasi semakin meningkat, dan menduduki peranan utama dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, teknologi informasi telah menjadi sesuatu yang bernilai sekaligus dapat menjadi senjata perusak. “Sekarang ini, lini pertempuan akan bergeser ke lini informasi. Bombardir informasi akan membentuk citra yang tertanam di kawasan lawan dan akan melemahkan posisi lawan,” katanya. Ia mencontohkan ketika Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet terlibat perang dingin yang memuncak di tahun 1980-an. Sungguh naif jika dikatakan Soviet hancur secara alamiah. Justru, AS melancarkan asymetric warfare terhadap Soviet. Amerika dan negara-negara barat pandai memainkan strateginya dalam perang informasi yang lebih bersifat psychological warfare. Secara ideologi, kemunculan glasnost dan perestroika sudah berhasil menyerang ideologis komunis yang telah lama menjadi perekat kesatuan Soviet.

 

Pada tahun 2011, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoedin mengatakan bahwa dalam perang asimetris diperlukan cara pikir baru. Perang asimetri itu bukan menghadapkan senjata dengan senjata atau tentara melawan tentara. (Kompas 28/3/2011). Namun, menggunaan media masa konvensional maupun media sosial baru sedemikian rupa mengumbar sensasi. Pendek kata, perang bukan lagi sekedar jedar-jedor senjata.

 

Lebih lanjut Sjafrie mengingatkan, negara yang secara ekonomi dan kesenjataan lemah adalah sasaran utama perang asimetris. Sebagai contoh, media internet atau media massa tanpa sadar dipakai untuk memengaruhi cara berpikir atau melemahkan bangsa. Pemberitaan dua media Australia mengenai kebijakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan situasi politik di indonesia beberapa waktu lalu juga termasuk upaya pemerintah Australia dalam melancarkan strategi Asimetris dengan tujuan menggoyahkan stabilitas pemerintah indonesia lewat jaringan informasi. Karena saat ini begitu mudah semua informasi diakses lewat media jaringan seperti Youtube, Tweeter, Facebook, Media Cetak maupun Elektronik.

 

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryaccudu memaknai asymmetric warfare sebagai perang non militer atau dalam bahasa populernya dinamai smart power, atau perang non konvensional merupakan perang murah meriah, tetapi memiliki daya hancur lebih dahsyat daripada bom atom.

Asymmetric warfare merupakan perang murah meriah tapi kehancurannya lebih dahsyat dari bom atom. Jika Jakarta di bom atom, daerah-daerah lain tidak terkena tetapi bila dihancurkan menggunakan asymmetric warfare maka seperti penghancuran sistem di negara ini, hancur berpuluh-puluh tahun dan menyeluruh,” ujar Ryamizard (29/1/2015).

Diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI) Jakarta, pimpinan Hendrajit (24/3/2015) merumuskan definisi asymmetric warfare sebagai berikut:

Perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara nirmiliter (non militer) namun daya hancurnya tidak kalah bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer. Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan (astagatra). Sasaran perang non militer tak hanya satu aspek tetapi juga beragam aspek, dapat dilakukan bersamaan, atau secara simultan dengan intensitas berbeda. Kelaziman sasaran pada perang asimetris ini ada tiga: (1) belokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme, (2) lemahkan ideologi serta ubah pola pikir rakyatnya, dan (3) hancurkan ketahanan pangan dan energy security [jaminan pasokan energinya], selanjutnya ciptakan ketergantungan negara target atas kedua hal tersebut [food and energy security].

Sedangkan muara ketiga sasaran tadi senantiasa berujung pada kontrol terhadap ekonomi dan penguasaan SDA sebuah negara, sebagaimana doktrin yang ditebar oleh Henry Kissinger di panggung politik global: “Control oil and you control nations, control food and you control the people.” (Kontrol minyak maka anda mengendalikan negara, kendalikan pangan maka anda menguasai rakyat).

Efek perang seperti ini sungguh dahsyat karena berdampak selain kelumpuhan menyeluruh bagi negara bangsa, juga membutuhkan biaya tinggi dan perlu waktu yang relatif lama untuk proses recovery (pemulihan kembali)-nya kelak.

 

Indonesia, Target Perang Asimetris

 

Indonesia sebenarnya memiliki daftar panjang dijadikan sasaran perang asimetris. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia terus melakukan perang asimetris terhadap pendudukan Belanda hingga 1950, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), krisis Timor-Timur, Gerakan Pengacau Keamanan di Papua, Terorisme dan lain-lainnya.

 

Menurut Mardoto, di blognya, salah satu bentuk serangan asimetris antara lain penyebaran berita, acara, dan pentas-pentas yang kurang terkendali yang punya berpotensi membuat kerusakan di masyarakat. Khususnya merusak mental SDM Indonesia. Hal itu sudah menjadi tanda kalau Indonesia telah lama menjadi target perang asimetri. Tentunya yang dimaksud adalah perang asimetris jenis baru dimana amunisinya adalah informasi dan sarana penyebarluasannya yaitu internet dan media sosial.

 

Dibandingkan dengan perang konvensional yang tegas berhadapan, perang asimetri memang seperti perang dengan hantu karena wilayah perangnya adalah hawa nafsu dan akal pikiran manusia. Perang asimetri memang sekilas mirip dengan Ghazwul Fikri atau Perang Pemikiran dimana pemikiran sebagai produk hawa nafsu saling dibenturkan. Namun, di tingkat pelaksanaan, aksinya bukan sekedar produk pemikiran misalnya penyebaran informasi dengan tema dan tujuan tertentu, tapi juga tindakan nyata. Misalnya kampanye-kampanye terselubung dengan tema/topik tertentu atau pun terang-terangan di pusat keramaian. Bahkan aktifitas perang asimetris dapat menerobos dunia akademis dengan mendanai seminar atau aktifitas sekolah dan lembaga pendidikan. Salah satu tema yang seringkali dijadikan selubung sejak dulu adalah tentang HAM dan baru-baru ini menyoal toleransi. Tentunya pengertian HAM dan toleransi ini sesuai dengan versi mereka atau dalam konteks perang simetris adalah versi negara-negara lawan. Tujuan semua itu seperti halnya perang tradisional yaitu mendikte dengan tema dan topik pesanan sesuai dengan selera lawan atau pihak-pihak yang memberi dana dan dukungan.

 

Pada beberapa kasus, strategi Perang Asimetri tergolong murah tanpa mengeluarkan biaya mahal, bahkan malah mengeruk uang rakyat, karena perang asimetris ini tidak menggunakan banyak senjata, cukup dengan menggegerkan media dengan tayangan artis seronok, atau pertunjukkan seronok semisal Lady Gaga, isu provokatif stabilitas keamanan Negara sudah digoyang.

 

Gelontoran dana UNDP baru-baru ini untuk menyokong kegiatan LGBT juga ditengarai merupakan taktik untuk menyokong perang asimetris. Sasaran utamanya adalah meruntuhkan etis dan moral serta mentalitas masyarakat Indonesia dengan bantuan LSM, perorangan, intelektual, artis, maupun lembaga-lembaga yang melacurkan diri karena butuh dana segar. Gelontoran UNDP yang jutaan dollar itu tentu saja membuat ngiler kaum serigala berbulu domba yang bisa tampil menjadi apa saja. Alasan utamanya tentu saja kemanusiaan, atau tema/topik yang didiktekan lainnya sebagai tameng resmi untuk memanipulasi pikiran masyarakat kebanyakan. Alasan lainnya adalah mengentaskan kehidupan kaum LGBT dan tentu saja toleransi. Kita tentu tidak naif untuk melihat peran busuk lembaga-lembaga internasional maupun nasional yang menyokong kampanye LGBT ini. Mau dibagus-baguskan dengan pikiran ilmiah apapun argumentasinya akan sangat lemah kalau dibenturkan dengan harkat kemanusiaan itu sendiri. Ibarat kata, wong binatang aja punya pasangan yang normal kok manusia tidak. Akal-akalan darimana para penyokong perilaku menyimpang LGBT itu selain dari manipulator ulung yang telah menyaru dengan berbagai jubah tipuan baik nyaru jadi intelektual, maupun mencuri jubah keagamaan padahal kepentingannya adalah nafsu tamak dan serakah untuk alasan perut sendiri.

 

Kita Ada Posisi Mana?

 

Dalam perang asimetris, meskipun pihak yang berperang secara militer maupun sumber daya teknis boleh jadi lebih canggih dan kaya dari negara target sasaran penguasaan, namun tidak ada jaminan bahwa secara militer akan selalu menang.

Jadi, serangan asimetris kemudian dilakukan karena ada ketidakseimbangan jenis lain. Dewasa ini tentunya ketidakseimbangan itu menyangkut masalah keadilan dan kemanusiaan sebagai suatu standar nilai. Meskipun seringkali bersifat ganda, tergantung kepentingan siapa yang mau dibela. Ketidakseimbangan nirmiliter ini muncul karena faktor kedewasaan, intelijensi, dan pendidikan yang saling tidak seimbang baik secara kualitas maupun kuantitas. Meskipun begitu, intelijensi dan pendidikan bukan faktor utama. Yang utama justru upaya asimetris untuk meruntuhkan mentalitas dan moral dari masyarakat yang dijadikan sasaran atau target perang asimetris. Ingat saja, perang asimetris bukanlah perang secara militer yang dibatasi aturan-aturan perang militer. Perang asimetris yang melanda dengan senjata kampanye LGBT dan isu HAM yang tidak adil, standar ganda, dan penyelewengan atas arti manusia dan haknya adalah menghancurkan fitalitas manusia baik pemahaman nya tentang etis dan moral maupun prakteknya di dalam masyarakat.

 

Anda bisa bayangkan bagaimana hebatnya pengaruh kampanye LGBT ini di kampung-kampung sampai di kota, di kalangan anak-anak, remaja, dan orang dewasa dengan perangkat bagai pisau bermata dua yaitu smartphone dan internet. Perang asimetri melibatkan manipulasi syahwat dan nafsu manusia untuk membiarkannya terlepas dari tali kekang peradaban maupun kemanusiaan itu sendiri.

 

Manusia yang dimaksud adalah manusia yang selama ini kita yakini kebenarannya sebagai animale rational maupun sebagai insanaa fii ahsani taqwim. Untuk ikut mengambil bagian dalam perang asimetris global, manusia secara individu maupun kelompok harus memperjelas dirinya. Ia harus yakin berada di posisi mana dan memegang bendera apa? Apakah mengibarkan bendera kemanusiaannya atau mengibarkan bendera LGBT yang jelas-jelas telah merampok arti dan makna pelangi menjadi simbol muram kemanusiaan. Bukankah sejak zaman dulu pelangi menjadi simbol keceriaan makanya green peace dan kaum yang cinta lingkungan hidup menyebut dirinya Rainbow Warrior dan bukankah novel anak-anak yang populer dari Indonesia menggambarkan aneka impian kanak-kanak dengan simbol Pelangi dan lahirlah Laskar Pelangi sebagai novel laris yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa?

Untuk menentukan sikap mari kita simak kisah semut yang membela Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar oleh raja Nimrod.

Seekor semut membawa setetes air.

Seekor burung bertanya meledek, ” Mut….buat apa bawa setetes air?”.

Kata semut, “Bur…ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar Khalil Allah, Ibrahim”.

“Jiahh… hahaha….Tak ada gunanya air itu Mut..” Kata burung mengejek.

“Aku tahu, tapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada”.

Sekali lagi, dalam perang asimetris mau tak mau kita memang harus menempatkan diri ada di posisi mana?

 

Artikel ini akan selalu diperbarui, rujukan penulisan dapat dilihat dibawah ini atau ikuti pranala langsung ke sumber yang ada dalam tulisan .

repost dari blog lama yang lagi istirahat.

Pranala Rujukan :

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s