Internet, Media Sosial Dan Masa Depan Demokrasi (di Indonesia)

Itu judul makalah yang didampaikan Dr. Ismail Fahmi, boss Awesometric dan Media Kernels yang baru-baru ini menggelar diskusi yang menarik mengenai Internet, Sosial Media, dan Masa Depan Demokrasi. Beliau yang kondang dalam urusan perpustakaan digital ini memaparkan suatu temuan menarik bagaimana internet dan sosial media sebenarnya mempengaruhi jalannya demokrasi. Bukan saja di Indonesia yang tanggal 4 Novenber kemarin menggelar demo raksasa, tapi juga pemilihan presiden AS yang akhirnya memenangkan Donald Trump jadi presiden AS yang ke-45. Fenomena medsos dan demokrasi sebenarnya telah menggema sejak Arab Spring beberapa tahun yang lalu di Lybia dan Mesir. Dan kini mulai marak di Indonesia khusunya ketika muncul sosok kontroversial Ahok yang berhadapan dengan Umat Islam yang akhirnya melahirkan demo dengan peserta sekitar 2,3 juta orang dari berbagai sudut Indonesia untuk menuntut keadilan dan hukum agar ditegakkan bagi siapa saja, khususnya bagi Ahok, gubernur tiban DKI, yang dituduh menistakan agama Islam.

Untuk lebih jelasnya, silahkan nikmati presentasinya di Slideshare :

Ayat-ayat Tabayun dan pentingnya waspada pada kabar bohong semakin mempertegas gagasan Ismail Fahmi untuk menyoroti penggunaan media sosial dan internet dewasa ini yang memunculkan polarisasi dimana-mana, di dunia maya, dan akhirnya di dunia nyata.

tabayun-al-hujurat-6

tabayun-an-nur-15

411 – Empat November

Ini sebenarnya posting telat setelah beberapa hari off.

Jum’at 4 /11/2016 merupakan hari bersejarah bagi Umat Islam Indonesia. Di hari itu, mereka melakukan parade demonstrasi menuntut keadilan atas penistaan Al Qur’an oleh kandidat pentahana DKI yaitu Mr. Ahok . Jutaan umat, dengan taksiran 2,3 juta , pun memasuki ibukota Jakarta bagai air bah tak terbendung. Jakarta yang biasanya diserbu air banjir sekarang dibanjiri orang yang menuntut kalau penista kita suci dan agamanya itu diseret kepengadilan bukan malah dilindungi. Dan entah kenapa , presiden yang mestinya menerima pengunjuk rasa malah ngacir dengan alasan lucu. Tentu saja banyak yang menyesalkan sikap presiden yang seolah lari itu. Tapi apa mau dikata, negeri Indonesia belakangan ini memang dipenuhi hingar bingar orang-orang yang menampakkan wataknya masing-masing ada yang pemberani, perwira, ksatria, pengecut, asal mau selamat sendiri, tukang fitnah, hipokrit, apatis, khianat, munafik, fasik, jahil sampai kafir.

Perang Asimetri Dibalik Kampanye LGBT dan Isu HAM

Presiden Rusia Putin tiba-tiba menggebah dunia dengan isu Perang Asimetris kepada kelompok yang mengkampanyekan LGBT di negeranya. Putin saat ini mengesahkan UU anti Gay untuk mencegah ancaman perang asimetris yang menggunakan isu LGBT dan HAM sebagai senjata. Singapura , negeri tetangga yang makmur itu, bahkan sudah mensahkan UU anti gay. Pengadilan tertinggi Singapura, Rabu (29/10/2014), memutuskan undang-undang yang mengkriminalkan hubungan seksual antar-pria, sejalan dengan konstitusi negeri tersebut. Apa itu perang asimetris?

Baca selengkapnya

Nabi dan Rasul Terakhir & Al Mahdi : Siapakah Dia Sebenarnya? (revised edition)

 Kamis kemarin (22/9/2016), dukun lepus pengganda uang bernama Dimas Kanjeng yang sering ngaku kiai dengan santri berjumlah 5000-an ditangkap karena tuduhan membunuh dua santrinya yang diduga mau membocorkan trik tipuannya. (baca berita lengkapnya disini)

Masalah Nabi atau Rosul palus sebenarnya penyakit umat beragama ketika mulai dihinggapi ilusi tentang kenabian dan kerasulan tanpa suatu pemahaman yang utuh atas keyakinannya kecuali semata-mata gejolak nafsu ibadahnya sendiri yang merefleksikan niat-niat awalnya yang bengkok ketika menempuh jalan ruhani.

 

Peristiwa aku mengaku nabi dan rosul bukan hal baru dalam sejarah Umat Islam, bahkan di setiap agama pun ada. Namun, dalam lebih dari dua abad ini kebanyakan muncul dikalangan Umat Islam. Yang paling menohok karena disokong oleh kekuasan politik dan militer era kolonialisme adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyyah yang mengaku nabi dengan sokongan Inggris sebagai promotornya. Baca selengkapnya

Sayap-sayap Jibril

Jibril turun ke Bumi

Sayap-sayapnya mengepak lembut

di fajar tujuhbelasan

bulunya yang halus satu jatuh di Nusantara

jadi pena dengan tinta

merah dan putih yang menari-nari

dengan untai huruf

susun satu kata

MERDEKA!!!

Lantas Ia kemudian menyeru,

“Wahai anak bangsa, apakah arti Merdeka?”