Islamofobia : Alergi Islam

Perwujudan Islamofobia
Alergi Islam
BELAJAR STATISTIK

Oleh Akmal Sjafril
23 November 2016

Islamofobia (islamophobia): menurut wikipedia indonesia istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Islamofobia

Ada sebuah gejala sakit menahun yang menjangkiti Indonesia, negeri besar nan dipuja sebagai Zamrud Katulistiwa, yang mayoritas warga negaranya beragama Islam ini. Sebutlah penyakit itu: alergi Islam! Manakala nama Islam disebut, kambuhlah alergi itu, dan mereka yang membawa penyakit ini dalam tubuhnya segera bersikap skeptis, mencibir, dan kemudian mencemooh. Penyakit ini sangat menular! Baca selengkapnya

Pilkada DKI 2016

Sejak diumumkannya calon gubernur dan pasangannya oleh poros cikeas, dan kemudian poros gerindra-pks menyusul pasangan ahok-jarot, sebenarnya saya kecewa karena ternyata pola pikir para politikus partai tak pernah berubah sejak zaman orla, orba, hingga setelah reformasi ini. Pola pikir yang mengedepankan kepentingan keluarga dan golongan semata atau kepentingan partai semata BUKAN kepentingan bangsa, negara, apalagi rakyat dan agama. Semua yang dilakukan oleh para petinggi partai sejatinya hanya kepentingan perut sendiri. Sedangkan negara, bangsa, agama, dan rakyat hanyalah hiasan dan jargon untuk menutupi tujuan sebenarnya. Jadi, setelah masing-masing poros mengumumkan pasangannya saat itu (dengan asumsi pasangan gerindra dan pks juga sama-sama blunder) juga saya sudah mempunyai dugaan kalau pasangan penahana akan memang. Nah, jika sampai pilkada DKI selesai dugaan ini benar maka itulah sebenarnya yang terjadi, partai-partai politik di Indonesia sebenarnya tak punya kemampuan kaderisasi yang sistematis, sehingga setiap pemilihan baru selalu menjadi simpul-simpul blunder yang menuju kekalahan. Benarkah dugaan saya? Ah entahlah, masih terlalu pagi untuk mengira-ngira siapa gubernur DKI nanti, saya nulis ini juga iseng dan buat saya gak terlalu peduli wong saya bukan ber-KTP DKI kok…hihihi…

Perang Asimetri Dibalik Kampanye LGBT dan Isu HAM

Presiden Rusia Putin tiba-tiba menggebah dunia dengan isu Perang Asimetris kepada kelompok yang mengkampanyekan LGBT di negeranya. Putin saat ini mengesahkan UU anti Gay untuk mencegah ancaman perang asimetris yang menggunakan isu LGBT dan HAM sebagai senjata. Singapura , negeri tetangga yang makmur itu, bahkan sudah mensahkan UU anti gay. Pengadilan tertinggi Singapura, Rabu (29/10/2014), memutuskan undang-undang yang mengkriminalkan hubungan seksual antar-pria, sejalan dengan konstitusi negeri tersebut. Apa itu perang asimetris?

Baca selengkapnya

Lho Kok Jadi “Golput Natural”?

Beberapa hari ini Indonesia memang memasuki masa akhir kampanye, dan masuk masa pemilihan umum. Seperti sudah diduga banyak orang, ternyata mulai terdengar banyak kasak kusuk, mulai dari orang mati ikut terdata sebagai pemilih, dan ada juga yang tidak terdaftar sebagai pemilih padahal layak memilih.

Celakanya, yang terakhir ini menimpa diriku sekeluarga. Dari 3 orang yang layak memilih ternyata tak ada satu pun yang masuk di dalam daftar pemilih. Walhasil, bingunglah kami sekeluarga. Istri saya yang penasaran menanyakan ke RT, eh dapat katanya. Tapi hanya satu, cuma istri saya. Mertua saya yang penasaran pun menghubungi tetangga. Ternyata dalam satu jalur jalan di satu RT banyak juga yang tak dianggap sebagai pemilih. Kira-kira mungkin 10 sampai 15 orang di satu lajur jalan tempat aku tinggal tidak mempunyai kartu untuk mengikuti pemilu. Kontan kasak kusuk pun makin marak di lingkungan kelurahan kami di wilayah Bekasi Utara, tepatnya Teluk Pucung.

Di TV pun muncul kasak kusuk banyaknya orang yang pantas memilih karena layak menjadi pemilih tetap tidak mempunyai kartu undangan pemilu. Seorang pengamat politik yang menjadi nara sumber metro TV pun sekeluarga tidak mendapat undangan untuk memilih. Lucu juga, karena nara sumber itu justru sedang membicarakan masalah pemilu, tapi tak diundang nyontrenk. Walah….ternyata kasus tak diundang untuk nyontrenk ini marak dimana-mana.

Masih penasaran saya yang sudah tinggal dua tahun lebih di lokasi yang sama, mempunyai KTP, dan pernah ikut Pilkada Bekasi tahun kemarin , menelpon ke kota asal. Ternyata di kota asal saya tidak terdaftar. Ya benar itu, wong saya sudah pindah dan sudah minta surat pindah resmi kok. Tapi keluarga di kota asalku ada juga yang tidak dapat kartu pemilih. Tetangga disana juga banyak yang tidak mempunyai kartu untuk mengikuti pemilu.

Koran-koran pun tak kalah seru memberitakan kasus aneh bin ajaib ini, rupanya tidak terdata menjadi pemilih menjadi kasus umum dan hangat dibincangkan di koran2. Ngeri juga nih, kalau satu RT saja, dengan KK sekitar 25-an, ada sekitar 10 sampai 20 orang tidak terdaftar padahal sudah tinggal menetap di lokasi yang sama bagaimana dengan rt-rt lainnya di seluruh Indonesia? Di tempatku ada yang sudah dianggap sesepuh warga dan sudah 15 tahun tinggal , tahun ini justru tak terdata. Nah, kalau di Indonesia ada berata RT? Kampung, Ndeso, dan wilayah terpencil. Dengan hitungan kasar sekitar 10 sampai 20 persen penduduk per RT tak terdata akan nampak pemilu 2009 ini banyak menciptakan kelompok GOLPUT NATURAL. Yaitu golongan yang tidak ikut pemilu karena tak ada datanya sebagai pemilih. Mereka tidak mengaku golput yang diharamkan, tapi akhirnya justru menjadi Golput secara alamiah karena tidak terdata. (Mau ngomong apa lagi coba….???)

Kekacauan data penduduk ini nampaknya ada dimana-mana. Terutama kekacauan di tingkat kelurahan dimana data kependudukan ambur adul, tidak karuan, dan terus terang saja tidak di-maintain dengan betul. Setidaknya karena 5 tahun sekali pemilu data penduduk ini mestinya diperhatikan serius kualitas dan akurasinya dengan konstan, misalnya 2 tahun sekali. Eh, ini malah makin kacau saja, padahal ini zaman Manajemen Informasi.

Saya tak tahu bagaimana kesalahan ini akan merambat bagai fusi nuklir ke tingkat daerah, propinsi, sampai nasional. Rupanya pihak yang semestinya berwenang mengurus kependudukan selama ini nampak acuh tak acuh saja. Padahal database kependudukan sangat fital untuk berbagai keperluan. Baik keperluan rakyat yang menjadi warga suatu negara , mengurus berbagai surat, kematian, hingga pemilu.

Kekacauan data penduduk ini sangat serius. Ini mengindikasikan kekurangpedulian sekaligus ketidakmampuan aparat kependudukan untuk mendata penduduknya.

Nah, kalau hal ini berlarut-larut, bahkan berpuncak menjadi kekacauan data yang akan digunakan dalam penentuan siapa yang berhak memimpin negeri ini, bisa diramalkan dimasa nanti akan semakin membuat runyam karena validitasnya diragukan, dan tentu saja berpotensi menimbulkan konflik karena benturan kepentingan.

Pemerintah mestinya harus serius dengan hal data mendata ini sebelum akhirnya menjadi kekacauan serius karena tidak becus mengurusi pendataan penduduk. Tentuny abaik penduduk betulan maupun jadi-jadian.

versi mobil dapat diakses via mobile device di http // mobi.atmonadi.com

versi mobil dapat diakses di http://mobi.atmonadi

Awas, Jurus Adu Domba Mulai Dilancarkan!

Adu Domba secara harfiah mengadu domba. Benar-benar domba bertanduk yang diadu untuk maksud hiburan, judi, ataupun karena tradisi. Tapi dalam konotasi geopolitik, dunia intelijen, ataupun kolonialisasi “Adu Domba” berarti amat sangat lain.

Dulu, menurut engkong, kakek, dan opa-opa kita, Bangsa Indonesia ini dijajah sampai puluhan dan ratusan tahun karena mirip domba. Gampang diadu antara suku satu dengan suku yang lainnya, penganut agama yang satu dengan yang lainnya, antara kelompok yang satu dengan yang lainnya, dan berbagai bentuk pengadudombaan yang pernah ada. Sampai-sampai, setelah “Merdeka” ada istilah populer tapi bikin gatel kuping bahkan bisa jadi sumber alergi namanya : SARA.

Di buku Negarakertagama yang ditulis Mpu Pancaksara, disebutkan katanya ada salah satu patih yang suka mengadu domba di kerajaan Majapahit yang membuat menteri atau pembantu raja Majapahit lainnya disingkirkan. Meskipun patih pengadu domba itu akhirnya di depak dari lingkaran kerajaan Majapahit, rupanya penyakit adu domba yang bisa dikatakan saudaranya “fitnah” ini merupakan salah satu jurus ampuh untuk memecah belah umat manusia sejak dulu. Terutama di dalam masyarakat Indonesia. Sejarah adu domba pun sama lamanya dengan sejarah manusia sendiri sebagai suatu kaum.

Pagi ini, saya dikejutkan dengan kasak kusuk adu domba jua. Kali ini korbannya langganan adu domba atau fitnah yaitu Umat Islam. Rupanya, setelah tembakan jarak jauh via Salman Rusdhie, Kartun Denmark, dan Film Fitna tidak menunjukkan hasil memuaskan, si tukang adu domba dan tukang fitnah kali ini menembak langsung Umat Islam di gawangnya. Bukan hanya tembakan pinalti dari jarak 12 meter, tapi dari jarak dekat di mulut gawang 1,2 meter dengan menggelar komik yang jelas-jelas sesat isinya dan tujuannya sangat merusak.

Media yang digunakan pun sekarang tidak tanggung tanggung, WordPress yang sudah menjadi media publik disalah gunakan untuk melakukan fitnah. Entah bagaimana reaksi pengelola WordPress, yang jelas ada satu lubang besar dari situs layanan publik dan kultur Internet yang mestinya diwaspadai yaitu : penyalahgunaan sarana publik semacam WordPress atau Multiply untuk tujuan tertentu yang tidak bertanggung jawab dan tidak proporsional.

Mbah Blogger Indonesia, Enda Nasution, saya baca di detik.com sudah melayangkan komplain ke WP. Mungkin, ada baiknya para bloger WP juga melayangkan petisi dan protes ke WordPress karena medianya disalahgunakan.

Ini perlu dilakukan sekalian untuk mengingatkan kepada pengelola fasilitator seperti WordPress bahwa medianya tidak lagi 100% netral. Medianya bisa jadi dianeksasi dan disalahgunakan untuk maksud tertentu oleh kalangan tertentu. Jadi mirip si-Smith dalam film The Matrix yang telah menjadi liar dan harus dilawan atau dihancurkan. Media publik Wp atau fasilitator lainnya lebih mirip jalan tol yang mesti dijaga kegunaannya dan manfaatnya bagi semua orang. Bayangkan saja, sekiranya ada orang gila yang masang batu ditengah jalan tol, atau membuat jalan tol jadi kolam renang tentunya mengganggu kenyamanan publik. Penyedia sarana publik via Internet nampaknya perlu juga menjaga citranya supaya tidak dijadikan “alat” untuk aksi-aksi tidak bertanggung jawab dan jelas-jelas tidak proposional dalam memaparkan suatu informasi atau pengetahuan. Informasi yang overdosis dan menyesatkan dengan sasaran tembak tertentu (misalnya NKRI atau Umat Islam atau pun karakter seseorang) akan menjadikan media blog jadi alat penyesat massal umat manusia, bukan saja di Indonesia tapi juga di dunia. Dan akhirnya, internet yang semestinya menjadi media yang informasinya layak dipercaya justru akan menjadi tong sampah saja.

Selain melayangkan komplain ke pihak WordPress, Umat Islam yang ditembak langsung di depan gawang juga harus tetap sadar bahwa apa yang ditampilkan dengan vulgar di lapotuak.wordpress.com (ini kalau belum ditutup) adalah suatu upaya sistematis dari rangkaian fitnah besar sejak zaman baheula. Kalau mau dicari rujukannya, silahkan saja baca ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah kemunafikan, disinformasi, dll. Atau dari riwayat-riwayat lainnya. Hanya saja, dampak fitnah dan jangkauannya hari ini semakin luas dan cepat karena adanya sarana telekomunikasi. Jadi perlu kewaspadaan ekstra supaya tidak terjebak dalam skenario adu domba, skenario klasik yang masih ampuh.

Adanya skenario fitnah besar dengan fokus Umat Islam di Indonesia patut diduga adanya karena belakangan ini Umat Islam mulai dipanas-panasi lagi. Lihat saja kasus antara FPI dan Adnan Buyung Nasution CS, Pujianto yang mengawini bocah bau kencur, hukuman mati Amrozi dkk, kasus iklan Soeharto oleh PKS yang diketuai Tifaful Sembiring, dan jreng kali ini komik Nabi Muhammad SAW dipajang dengan seronok di blog dengan mencatut nama tempat kumpul2 orang Batak yaitu “LAPOTUAK”. Saya curiga betul, nama ini sengaja dipilih karena beberapa peristiwa belakangan ini melibatkan nama—nama etnis Batak. Jadi, unsur adu dombanya lagi2 kentara. Kali ini warga Batak nampaknya diincar untuk diadu domba dengan Umat Islam.

Dari komik yang sejenak saya lihat-lihat, gambarnya bagus (perlu dana besar nih), dan dialog yang nampaknya telah dibuat memadai untuk menyampaikan misi disinformasi dan propaganda bagi siapa saja dan dimana saja (tentu saja internet kan sebagai pintu masuknya).

Pembuat komiknya, terutama pelukisnya, nampaknya cukup profesional. Nah, sekarang giliran komunitas komikus Indonesia dan penggemar komik untuk mencari tahu “siapa yang melukis gambar2 itu”.

Sidik lukis komik ini mungkin akan bisa dilacak dengan melihat komik-komik yang beredar di Indonesia, baik sebagai buku komik, maupun di majalah-majalah yang menyajikan cergam (kecuali si pelukis komik profesinya bukan pembuat komik, mungkin akan susah dilacak karena memang tak pernah buat komik, atau komiknya gak laku2). Dari sidik komik ini akan ketahuan siapakah pelukisnya atau setidaknya ketahuan dari gaya lukisannya. Gaya lukisan ini sangat khas bagi seseorang atau suatu kelompok komikus yang berkarya sendirian maupun secara barengan. Dari sini tinggal dijejaki saja siapa yang bermain dibelakangnya, mendanainya, dll.

Lantas, apa motif di balik penayangan komik Nabi Muhammad yang menggusarkan itu? Ada banyak motif tapi motif utama adalah menghancurkan Islam di Jantung Umat Islam yaitu Indonesia. Nampaknya, ini upaya sistematis yang sudah berlangsung lama. Kedua, nampaknya pelaku menggunakan WordPress bukan sekedar WP media yang gratisan. Namun, ada sasaran tembak kedua yaitu membrangus WordPress itu sendiri melalui tangan pemerintah RI. Tujuan ini dimaksudkan supaya para Blogger Indonesia mati kutu, tidak bisa ngeblog lagi di WP.

Ironisnya, mungkin penutupan WP ini akan muncul atas desakan Umat Islam yang gusar (saya juga gusar, tapi cara saya mengekspresikannya dengan menulis artikel ini, mudah2an bermanfaat). Sasaran ketiga, mengadu domba suku Batak dengan Umat Islam secara frontal. Sesuai dengan analisa sementara saya bahwa belakangan ini ada peristiwa2 yang melibatkan etnis Batak dengan Umat Islam dan situasi serta kondisi politik belakangan ini yang mulai menjelang pemilu. Jadi, ini memang baru panas-panasan yang nampak sepele, tapi sangat berbahaya dan bisa menimbulkan potensi CHAOTIC, potensi kepakan gemulai sayap kupu-kupu yang bisa menghadirkan hujan badai di Indonesia.

Di era informasi ini, abad dijital ini, kewaspadaan dan kedewasaan sikap masyarakat baik yang beragama Islam maupun bukan mesti ditingkatkan karena jelas ada saja pribadi maupun gerombolan pancalongok yang tetap menginginkan NKRI menjadi berkeping-keping.

Gerombolan ini bukan berharap dan berupaya supaya Indonesia bersatu maju dengan kesadaran untuk mandiri di masa yang sulit ini, tapi justru berupaya untuk menghancurkannya dalam genggaman abad kegelapan baru, abad manipulasi baru, abad korupsi, abad baru nepotisme, dan tentunya dengan mental masyarakat yang jatuh ke dalam lumpur kebodohan lagi…

Wassalam,

Atmnd 19/11/2008