Perang Asimetri Dibalik Kampanye LGBT dan Isu HAM

Presiden Rusia Putin tiba-tiba menggebah dunia dengan isu Perang Asimetris kepada kelompok yang mengkampanyekan LGBT di negeranya. Putin saat ini mengesahkan UU anti Gay untuk mencegah ancaman perang asimetris yang menggunakan isu LGBT dan HAM sebagai senjata. Singapura , negeri tetangga yang makmur itu, bahkan sudah mensahkan UU anti gay. Pengadilan tertinggi Singapura, Rabu (29/10/2014), memutuskan undang-undang yang mengkriminalkan hubungan seksual antar-pria, sejalan dengan konstitusi negeri tersebut. Apa itu perang asimetris?

Baca selengkapnya

Nabi dan Rasul Terakhir & Al Mahdi : Siapakah Dia Sebenarnya? (revised edition)

 Kamis kemarin (22/9/2016), dukun lepus pengganda uang bernama Dimas Kanjeng yang sering ngaku kiai dengan santri berjumlah 5000-an ditangkap karena tuduhan membunuh dua santrinya yang diduga mau membocorkan trik tipuannya. (baca berita lengkapnya disini)

Masalah Nabi atau Rosul palus sebenarnya penyakit umat beragama ketika mulai dihinggapi ilusi tentang kenabian dan kerasulan tanpa suatu pemahaman yang utuh atas keyakinannya kecuali semata-mata gejolak nafsu ibadahnya sendiri yang merefleksikan niat-niat awalnya yang bengkok ketika menempuh jalan ruhani.

 

Peristiwa aku mengaku nabi dan rosul bukan hal baru dalam sejarah Umat Islam, bahkan di setiap agama pun ada. Namun, dalam lebih dari dua abad ini kebanyakan muncul dikalangan Umat Islam. Yang paling menohok karena disokong oleh kekuasan politik dan militer era kolonialisme adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyyah yang mengaku nabi dengan sokongan Inggris sebagai promotornya. Baca selengkapnya

Silence Of The “Ryan”

Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you seek?
Clarice Starling: He kills women…
Hannibal Lecter: No. That is incidental. What is the first and principal thing he does? What needs does he serve by killing?
Clarice Starling: Anger, um, social acceptance, and, huh, sexual frustrations, sir…
Hannibal Lecter: No! He covets. That is his nature. And how do we begin to covet, Clarice? Do we seek out things to covet? Make an effort to answer now.
Clarice Starling: No. We just…
Hannibal Lecter: No. We begin by coveting what we see every day. Don’t you feel eyes moving over your body, Clarice? And don’t your eyes seek out the things you want? (dari salah satu dialog di Film Silence Of The Lambs, 1991)
Baca selengkapnya

REPUBLIK SONTOLOYO

“son·to·lo·yo p cak konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sbg kata makian)”

 

Begitulah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online tentang arti kata Sontoloyo.

 

Kata ini sebenarnya sudah lama menjadi perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Kata “Sontoloyo” atau dalam ejaan lama “Sontolojo” umumnya merupakan makian atau sebagai kata lecehan. Popularitasnya di zaman Soekarno ketika ia masih gemar menulis cukup kuat karena beliau pernah menulis suatu artikel dengan judul “Islam Sontolojo”. Artikel itu mengulas suatu peristiwa memalukan dimana seorang ustad menggauli murid wanitanya.(silahkan baca di kumpulan tulisan Soekarno “Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1”). Baca selengkapnya

Lingkaran Setan Jahiliyah: Eksklusifitas, Kekerasan dan Solidaritas Jahiliyah

”Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan Allah), mereka punya mata tidak untuk melihat (Tanda-tanda Kebesaran Allah) dan mereka punya telinga tidak untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai hewan bahkan lebih sesat, mereka itulah orang-orang yang lalai(lengah).” (QS.7:179).

 

Jahiliyah adalah satu kata yang mempunyai banyak arti. Secara literal, kata yang dikutip dari bahasa Arab dengan akar kata “Jahala” ini menurut beberapa penafsiran dapat diartikan secara harfiah sebagai “kebodohan” dari nilai-nilai kebenaran. Kebodohan yang dimaksud bukan “bodoh” sebagai “tidak tahu”, tapi lebih banyak “bodoh” tapi tak mau menerapkan “nilai-nilai kebenaran” yang sudah disampaikan sebelumnya (dalam hal ini di Arabia pra-Islam adalah kebenaran menurut tradisi Yudeo Kristen yang akhirnya malah banyak ditelikung oleh para penganutnya dari kaum Yahudi). Baca selengkapnya